Kopi TIMES

Menengok Pendidikan Islam dalam Keluarga Buruh Rokok Perempuan

Senin, 22 Januari 2024 - 07:40 | 32.02k
Jauharotul Makniyah, mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.
Jauharotul Makniyah, mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

TIMESINDONESIA, MALANG – Ramainya fenomena akan perempuan yang menjadi buruh akhir-akhir ini banyak menjadi perbincangan. Tak erkecuali di kabupaten Sumenep, buruh perempuan yang sedang berada pada usia produktif (20-40 tahun). Menjadi buruh dan khususnya buruh rokok di PT Tanjung Odi Sumenep ibu buruh rokok menghadapi banyak permasalahan. Baik permasalahan internal keluarga ataupun eksternal dari masyarakat.

Namun semua itu tetap mereka hadapi atas motif yang hampir sama yaitu kelangsungan ekonomi keluarga. Melihat fenomena tersebut, Jauharotul Makniyah, salah satu mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang mencoba mengurai pendidikan Islam dalam keluarga buruh perempuan di Sumenep dengan pendekatan femenologi yang dilatarbelakangi oleh bertambahnya angka jumlah pekerja perempuan usia produktif yang ada di pabrik rokok di Sumenep. 

Mencoba menggali data menggunakan teknik-teknik kualititatif seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi. Jauharotul berfokus pada seperti apa pengalaman dan pemaknaan buruh rokok perempuan dalam pendidikan keluarga serta implikasi fenomena buruh rokok terhadap pendidikan keluarga. Melalui data yang sudah ia kumpulkan, terdapat beberapa temuan mengenai pengalaman buruh rokok perempuan dalam pendidikan keluarganya dimana dalam mendididk dan mengasuh tanpa dukungan dari suami, para buruh perempun ini akhirnya memasrahkan pendidikan anak pada pesantren, memaksimalkan metode nasehat dengan waktu yang minim, mendidik anak lewat jalur spiritual. 

Disisi lain Jauharotul mendapti bahwa pengalaman ibu buruh rokok di Sumenep atas penyelenggaraan pendidikan Islam dalam keluarga sangat memprihatinkan dengan segala problemnya yang kompleks. Selain tantangan waktu yang sangat signifikan, juga tanpa adanya dukungan dari suami dalam hal pengasuhan dan pekerjaan domestik lainnya. Dalam perannya sebagai madrasah ula, ibu buruh rokok di Sumenep juga menjalani peran yang lain, seperti: pencari nafkah dan ibu rumah tangga yang bertanggungjawab atas pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya.

Menghadapi kenyataan semua ini sendirian, ibu buruh rokok tidak lagi memiliki waktu untuk mendidik, dan mengalami kelelahan fisik serta emosional yang menyebabkan tanggungjawab utama sebagai madrasah ula tidak berjalan efektif (microsystem). Tidak efektifnya ibu-ibu buruh rokok dalam menjalani perannya sebagai madrasah ula merupakan kegagalan yang disadari. Selama ini, peran sebagai madrasah ula belum disadari secara experience di dalam kehidupan masyarakat muslim Madura secara umum dan Pragaan secara khusus. 

Karena pengalaman subjektif ibu-ibu buruh rokok bukanlah pengalaman yang bersifat independen, melainkan pengalaman yang menyatu secara integral dalam struktur realitas pengalaman masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, peranan ibu sebagai madrasah ula masih menjadi kesadaran belum menjadi pengalaman yang terstruktur dalam tradisi dan budaya masyarakat agamis-agraris Pragaan (bahkan mungkin masyarakat Indonesia pada umumnya).

Pemahaman ibu pekerja pabrik rokok di kabupaten Sumenep memaknai secara sadar fenomena ibu pekerja pabrik rokok dan pendidikan Islam dalam keluarga dikonstruk oleh cultural lag dari perubahan sosial di Madura dan menjadikannya sebuah pengorbanan sekaligus tantangan dalam upaya mewujudkan tugasnya sebagai Madrasatul Ula dalam keluarga. 

Jauharotul menuliskan bahwa implikasi fenomena ibu pekerja pabrik rokok bagi pendidikan Islam dalam keluarga yakni, diferensiasi struktural dimana setiap anggota keluarga di masyarakat Sumenep mengalami penambahan fungsi dan peran. Misalnya dalam konteks ini adalah seorang istri zaman milenial di Sumenep juga menjadi orang yang turut bekerja. Sehingga kemudian peran ibu sebagai madrasah ula tergantikan oleh institusi-institusi pendidikan sekolah formal maupun sekolah non-formal di masyarakat. Dua model pendidikan yang lahir dari ikhtiar sosial masyarakat Madura (Sumenep) ini sangat ikonik. Ribuan Surau dan ratusan Pesantren di Madura secara umum (861 Pesantren) dan Sumenep secara khusus (388 Pesantren) menjadikannya sebagai julukan baginya sebagai “Serambi Madinah.” Inilah bentuk pendidikan Islam yang dipilih sebagai pengganti peran vital ibu sebagai pendidik. 

Implikasi turunannya dari tergantikannya peran ibu tersebut, pendidikan Islam bagi anak-anak tetap terpenuhi oleh ibu atau orang tua pengganti di institusi pendidikan pesantren yang diperankan oleh seorang kiai dan nyai beserta para pengurusnya pesantren lainnya. Selain itu, di luar lingkungan keluarga dan pesantren, masyarakat di sekitar dengan nilai-nilai, tradisi budaya yang agamis ikut berperan serta mengasuh dan mendidikan nilai-nilai islami kepada anak-anak tersebut secara kultural.

Dari semua hasil dan implikasi yang ia dapatkan, Mahasiswa asal madura inni berharap bagi peneliti selanjutnya dengan fokus penelitian yang sama, perlu mendeskripsikan latar belakang dengan narasi experience atau pengalaman subjek penelitian. Pada kajian teoretik perlu diperkaya dengan studi hermeneutik sebagai basis yang menguatkan metodologi analisa data fenomenologis dari sudut pandang suami di keluarga buruh rokok perempuan.

***

*) Oleh: Jauharotul Makniyah, mahasiswa program studi Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES