Kopi TIMES

Pembelajaran Generasi Z

Selasa, 30 Januari 2024 - 15:05 | 22.72k
Dony Purnomo, S.Pd., Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro.
Dony Purnomo, S.Pd., Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro.

TIMESINDONESIA, WONOGIRI – Generasi Z kian populer saat hasil sensus tahun 2020 dirilis oleh pemerintah. Pada rilis itu disampaikan bahwa generasi Z menempati komposisi penduduk terbesar yaitu sebesar 27,94% dari total seluruh penduduk Indonesia. Generasi Z lahir kurun waktu 1997 sampai dengan 2012 yang memiliki karakteristik generasi yang minim batasan, mampu memanfaatkan berbagai perubahan zaman dan sangat erat dengan teknologi.

Dalam artikel yang ditulis oleh Bruce Tulgan dan Rainmaker Thinking Inc menyatakan bahwa generasi Z memiliki karakteristik yang berbeda dengan generasi sebelumnya diantaranya: Pertama, Media sosial memiliki peranan penting bagi generasi ini. Media menjadi jembatan keterasingan karena semua dapat berinteraksi, berkomunikasi, dan saling terhubung.

Kedua, Keterhubungan satu dengan yang lainnya merupakan hal yang penting bagi generasi Z.

Ketiga, Memungkinkan terjadi kesenjangan keterampilan dengan generasi sebelumnya. Untuk menjembatani hal ini maka perlu adanya transfer kemampuan komunikasi interpersonal, budaya kerja, keterampilan teknis, dan berpikir kritis.

Keempat, Kemudahan generasi Z dalam menjelajahi dunia secara virtual menyebabkan pengalaman mereka menjelajah secara geografis menjadi terbatas.

Kelima, Keterbukaan menerima berbagai pandangan dan pola pikir menimbulkan mereka mudah menerima perbedaan dan keragaman dalam kehidupan mereka.

Melihat karakteristik generasi Z tersebut maka dalam pembelajaran di sekolah perlu melakukan berbagai inovasi pembelajaran agar kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan dapat mewadahi berbagai karakteristik generasi Z. Beberapa prinsip pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran generasi Z diantaranya:

Pertama, Integrasi teknologi dalam pembelajaran. Generasi Z tumbuh dengan teknologi sebagai bagian integral dari hidup mereka. Mereka terbiasa dengan perangkat pintar, aplikasi, dan platform daring. Oleh karena itu, pendidik perlu mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran. Penggunaan platform pembelajaran daring, aplikasi edukasi, dan simulasi virtual dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan relevan.

Kedua, Pembelajaran kolaboratif. generasi Z cenderung lebih suka bekerja dalam kelompok dan membagi ide-ide mereka. Pembelajaran kolaboratif, melalui proyek kelompok atau diskusi daring, dapat meningkatkan keterlibatan mereka. Ini juga menciptakan lingkungan di mana mereka dapat belajar dari teman sebaya dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan di dunia nyata.

Ketiga, Pembelajaran kontekstual. Dalam pembelajaran generasi Z perlu mengaitkan materi pembelajaran dengan konteks kehidupan mereka. Guru dapat mengaitkan konsep-konsep abstrak dengan contoh-contoh praktis yang relevan bagi mereka. Hal ini membantu memotivasi mereka karena mereka melihat relevansi langsung dari apa yang mereka pelajari dalam kehidupan mereka.

Keempat, Fleksibilitas dalam pembelajaran. Generasi Z cenderung menyukai fleksibilitas dalam pembelajaran. Pendekatan pembelajaran yang memungkinkan mereka memilih jalur pembelajaran mereka sendiri, memanfaatkan sumber daya daring, dan beradaptasi dengan kecepatan mereka sendiri akan lebih efektif. Ini juga menciptakan rasa tanggung jawab pribadi dalam pembelajaran.

Kelima, Pembelajaran visual dan interaktif. Media visual, seperti video pendek, gambar, dan presentasi interaktif, dapat meningkatkan pemahaman Generasi Z. Penggunaan alat bantu visual dan platform interaktif dapat membuat pembelajaran lebih menarik dan memungkinkan mereka untuk berpartisipasi secara aktif.

Dalam praktik pembelajaran di sekolah saat ini para peserta didik memiliki beragam sudut pandang dalam memahami mata pelajaran. Hal ini wajar karena para peserta didik memiliki kemampuan mengakses berbagai informasi yang ada di dunia maya. Guru perlu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menuangkan berbagai gagasan yang dimilikinya.

Pendekatan pembelajaran untuk Generasi Z perlu mengakomodasi kecenderungan dan karakteristik unik mereka. Dengan memanfaatkan teknologi, mendorong kolaborasi, mengaitkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari, memberikan fleksibilitas, menggunakan pendekatan visual, dan menekankan pembelajaran seumur hidup, kita dapat membangun lingkungan pembelajaran yang relevan dan memotivasi Generasi Z untuk meraih potensi maksimal mereka di masa depan. 

Guru pada generasi Z bukan hanya sekedar menyampaikan materi pembelajaran melainkan juga perlu mendorong para peserta didik untuk berkolaborasi dan mengoptimalkan penguasaan teknologi.

***

*) Oleh: Dony Purnomo, Guru Geografi SMAN 1 Purwantoro.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Satria Bagus

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES