Kopi TIMES

Memilih Presiden Ala Filusuf Trio Athena

Kamis, 08 Februari 2024 - 23:02 | 18.65k
Ahmad Raziqi Alumni UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Peneliti Komunitas Dar-Falasifah, PC Rijalul Anshor Bondowoso.
Ahmad Raziqi Alumni UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Peneliti Komunitas Dar-Falasifah, PC Rijalul Anshor Bondowoso.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemilihan Umum (Pemilu) akan diselenggarakan sebentar lagi, tepatnya pada tanggal 14 Februari 2024 hari rabu. Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi melalui pemilu. Sebagai masyarakat yang berhak dalam menentukan pilihan, tentunya kita diberikan kebebasan dalam menentukan pilihan presiden sebagai orang menerima mandat dari masyarakat dalam mengurusi negara. Oleh karena itu, kita harus memilih sesuai dengan keinginan dan kehendak kita sebagai masyarakat yang cinta akan kebijaksanaan. 

Telah kita ketahui bersama, bahwa terdapat tiga paslon presiden dan wakilnya. Paslon 01 ada Anis Baswedan-Muhaimin Iskandar, paslon 02 ada Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dan paslon 03 ada Ganjar-Mahfud MD. Ketiganya pun telah melaksanakan debat yang telah termekanisme oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU). Dari perdebatan season pertama hingga keempat tentunya telah memberikan gambaran siapa presiden dan wakil presiden yang ideal guna mendapat amanah sebagai pemimpin negeri dan mandat dari masyarakat. 

Debat pamungkas debat kelima yang terjadwal tanggal 4 Februari mendatang seputar tema teknologi Informasi, Peningkatan Pelayanan Publik, Hoaks, Intoleransi, Pendidikan, Kesehatan (Post-Covid Society), dan Ketenagakerjaan. Akan memberikan pemantapan bagi masyarakat untuk menentukan pilihan.

Kontestasi Pilpres disini tentu merupakan hal yang lumrah dalam politik dan demokrasi. Namun, menjadi tidak lumrah ketika kita sebagai masyarakat Indonesia malah cuek, tidak peduli terhadap penentuan pemimpin yang akan mengusahakan nasib Indonesia sekurang-kurangnya lima tahun kedepan atau bahkan sampai pada generasi Indonesia saat kiamat kurang satu hari. Maka dari hal tersebut, suara masyarakat dalam Pilpres saat pemilu di tanggal 14 Februari 2024 akan sangat menentukan perjalanan bangsa ini. 

Terdapat kiat memilih presiden dengan merujuk pada Filusuf trio Athena. Siapa sajakah beliau? Merka adalah SPA (Socrates, Plato dan Aristoteles). Tiga Filusuf tersebut merupakan pendahulu yang banyak meletakkan pondasi teoritis mengenai politik, sistem pemerintahan dan negara yang ideal (Ideal State). Jika kita korelasikan pada fenomena yang saat ini kita hadapi bersama “pemilihan presiden”, maka sebelum menentukan pilihan terhadap ketiga paslon presiden dan wakilnya, alangkah bainya kita terlebih dahulu memahami kiat memilih pemimpin menurut Socrates, Plato dan Aristoteles. 

Memilih Presiden Ala Socrates

Filusuf bernama Socrates merupakan salah satu dari beberpa filusuf Athena. Dia lahir pada tahun 470 atau sekitar 469 SM. Meskipun tidak meninggalkan manuskrip apapun, namun Socrates telah banyak memberikan pengaruh terhadap perkembangan filsafat barat era klasik. 

Keterangan tentang dirinya banyak di tulis oleh salah seorang muridnya yang bernama Plato, salah satu metode yang terkenal digunakan oleh Socrates adalah metode dialektika dan metode sanggahan (elenshus). Dalam konteks pemilihan presiden metode dialektika akan sangat bermanfaat bagi pemilih untuk menentukan pilihnya, karena jika kita menggunakan metode dialektika kita akan mencari kebenaran objektif dari masing-masing paslon yang telah tersedia.

Mengenai konteks Pilpres tentu Socrates tidak secara langsung menyiratkan tentang kiat memilih presiden, namun ia memberikan pandangan tentang karakteristik seorang pemimpin yang baik. Menurut Socrates, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, kebijaksanaan, keadilan, dan keberanian. 

Selain itu, seorang pemimpin juga harus memiliki kemampuan untuk memimpin dengan baik dan memahami kebutuhan rakyatnya. Dalam Internasional Journal of Applied Philosophy Freya Möbus (2023) menulis tentang Socratic Ledersip bahwa pemimpin menurut socrates harus mempunyai misi (being on a mission), berpikir dengan penuh skeptik atau pertanyaan (thinking in question) dan berpikir seperti seorang pemula (thinking like a beginner). Dari ketiga paslon siapakah yang memiliki kreteria tersebut? Mari kita tentukan pilihan kita pada kertas surat suara saat pemilu berlangsung. 

Presiden yang kita pilih nanti harus memiliki misi kebijaksanaan, memiliki jiwa penuh skeptik dan pertanyaan untuk menemukan solusi mengenai kesejahteraan bangsa dan selalu berpikir seperti pemula yang terus bisa mengupgrade pengabdiannya terhadap negara dengan trobosan inovasi-inovasi brilian.

Memilih Presiden Ala Plato

Plato merupakan murid dari Socrates yang menulis catatan yang membahas mengenai negara. Dengan judul Republik, Plato merupakan filusuf Athena yang hidup sekitar 427 SM-meninggal sekitar 347 SM. Dalam karya monumental nya “Repulik”, Plato menggambarkan sosok yang ideal mengenai pemimpin adalah "philosopher-king" atau raja yang memiliki pengetahuan filosofis yang mendalam untuk menciptakan keadilan dan kebijaksanaan melalui negara ideal. Sehingga Plato memberikan pandangan mengenai negara yang ideal (ideal state). 

Plato menggambarkan sebuah negara ideal adalah negara yang meletakkan keadilan mutlak berkuasa, dan setiap warga negara mengetahui dan menerima peran mereka dalam masyarakat. philosopher-king menurut Plato, adalah orang paling bijaksana dan berkepribadian baik, sehingganya mereka harus memimpin negara menuju keadilan dan kebaikan yang mutlak. 

Dengan demikian, menurut Plato, negara yang ideal adalah negara yang dipimpin oleh orang-orang bijaksana dan berkepribadian baik, bukan oleh mayoritas atau orang-orang yang memiliki kekuasaan politik. Kemudian negara ideal dambaan plato dilindungi kekuatan militer yang hebat dan disokong oleh produktifitas masyarakat sebagai pekerja. 

Ketiga calon presiden yang sudah ada tentu tidak memiliki kesempurnaan sesuai dengan Idealismenya Plato, namun hendaknya presiden yang masyarakat harus pilih nantinya adalah dia yang mengusakan Indonesia menuju negara yang ideal, memiliki kedaulatan keamanan dan kesejahteraan masyarakatnya. 

Memilih Presiden Ala Aristoteles

Salah satu Filusuf Athena yang juga banyak memberikan pandangan filosofis mengenai politik adalah murid dari Plato dan Socrates, dia adalah Aristoteles. Ia dilahirkan dikota kecil bernama Stagira pada tahun 384 SM. Aristoteles dikenal sebagai seorang filsuf yunani klasik yang memiliki pengaruh besar dalam memberikan pandangan mengenai bidang politik, psikologi dan etika.

Sherwin Klien (1995) dalam Bussines and Professional Ethics Journal bahwa Pandangan Aristoteles tentang kepemimpinan berakar pada filsafat etika dan politiknya. Aristoteles percaya bahwa seorang pemimpin yang ideal harus memiliki kebijaksanaan praktis, kebajikan moral, dan kemampuan untuk menginspirasi dan berkomunikasi secara efektif. 

Menurut Aristoteles, seorang pemimpin harus memiliki kemampuan serta keberanian mengambil keputusan yang baik berdasarkan pengalaman dan pengetahuan, menunjukkan kejujuran, keadilan, dan keberanian, serta menyeimbangkan kepentingan berbagai kelompok demi kebaikan bersama. Kualitas-kualitas ini penting untuk kepemimpinan yang efektif dan etis menurut filsafat.

Memilih presiden ala Aristoteles apabila dikontekstualisasikan terhadap pilpres di Indonesia, kita sebagai masyarakat harus memiliki daya kritis terhadap ketiga paslon yang sudah ada dengan cara memverifikasi track record masing-masing paslon mengenai wawasan atau pengetahuannya sebagai negarawan, kemampuan dan keberaniannya dalam mengambil keputusan, kejujuran dan keadilannya terhadap masyarakat tanpa pandang bulu. 

Lalu siapakan sosok presiden dan wakil presiden yang ideal? Anis-Muhaimin kah?, atau Prabowo-Gibran kah?, atau Gajar-Mahfud kah?. Mari kita tentukan pilihan kita di hari pemilu nanti dengan datang ke TPS dalam suasana rukun dan damai.

Memang dari ketiga paslon presiden dan wakilnya tidak ada yang seratus persen ideal sesuai dengan ide para Trio Filusufathena. Namun, perlu digaris bawahi sekuat apapun anda menghindari politik, pasti akan terjerat jua. Karena jika anda mengambil sikap apatis terhadap politik, berarti anda telah memberi kesempatan bagi orang tidak ideal minimal menurut anda untuk memimpin negeri ini. 

Pastinya kita telah memiliki pilihan presiden dan wakil presiden sesuai dengan kapasitas kita, maka gunakan dengan bijaksana hak pilih anda saat 14 Februari nanti di TPS masing-masing dengan tertib, jujur, rahasia dan adil guna tercipta kearifan politik dari masyarakat Indonesia yang berbudi luhur.

***

*) Oleh : Ahmad Raziqi Alumni UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, Peneliti Komunitas Dar-Falasifah, PC Rijalul Anshor Bondowoso.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES