Kopi TIMES

Bulan Mulia; Bulan Syafa’at Ataukah Laknat?

Rabu, 06 Maret 2024 - 08:47 | 12.77k
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).
Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

TIMESINDONESIA, MALANG – Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam adalah sosok yang paling berbelas kasih pada kita semua selaku umat Islam di akhir zaman ini. Kebaikan apapun selalu diinginkan oleh beliau untuk umatnya. Hingga dikisahlan pada suatu hari, para sahabat mengagumi kisah empat orang Bani Israil: Ayub, Zakariya, Hizqil bin 'Ajuz, dan Yusqa' bin Nun. Mereka telah menyembah Allah selama delapan puluh tahun dan tidak pernah berbuat dosa sedikit pun. Lalu dikatakan pada Nabi Muhammad SAW, "Wahai Muhammad, umatmu kagum dengan ibadah selama 80 tahun, yang tidak pernah berbuat maksiat sekejap mata pun," kata Jibril kepada Nabi SAW. Setelah itu, Allah menurunkan yang lebih baik dari ibadah orang Israel, kata Jibril kepada Nabi Muhammad, "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan." Apakah Anda juga tahu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan melebihi seribu bulan. (QS Al Qadr: 1-3) Ini lebih utama daripada yang dihormati olehmu dan orang-orangmu. Rasulullah SAW pun sangat Bahagia mendengarnya.

Umat Muhammad SAW dimulyakan dengan adanya malam lailatul Qodar, yang barangsiapa menghidupkan malam ini dengan kebaikan maka sama halnya atau lebih baik daripada menghidupkan seribu bulan dengan kebaikan. Anugrah ini atas permintaan Rasullah SAW yang menginginkan agar Allah menganugrahi kepada umatnya waktu yang singkat namun jika kwalitas ibadah totalitas dikerjakan di saat ini maka dapat mengalahkan atau menyamai kwantitas ibadah umat-umat terdahulu. Ini tetang lailatul qodar, belum tentang malam-malam yang lain seperti nisfu sya’ban, 10 hari pertama bulan muharram dan sebagainya yang keutamaan kebaikan dikerjakan di dalamnya bernilai berlipat ganda pula.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Allah SWT dalam beberapa ayat suci al Quran bersumpah dengan waktu-waktu, seperti demi waktu ashar, demi waktu fajar, demi masa, dan sebagainya. Pendapat para mufassir tidaklah Allah bersumpah dengan sesuatu kecuali sesuatu tersebut memiliki kemulyaan tersendiri. Maka masalah masa ini tidak dapat dianggap sebelah mata. Jika masa tertentu punya keutamaan seperti amal ibadah akan dilipatgandakan pada masa tersebut maka seorang Muslim yang mengaku cinta Allah dan RasulNya pun juga harus waspada, jangan sampai mengisi masa atau waktu yang penuh kemulyaan tersebut dengan keburukan karena keburukan juga akan dilipatgandakan. Maka apakah menjadi syafaat ataukah laknat pilihan ada pada diri kita sendiri.    

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam pernah menyatakan:

أعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umat ku, ada diantara 60-70 tahun dan yang lebih sangat sedikit sekali.” (Hadīts riwayat At Tirmidzī nomor 3550 dan Ibnu Mājah nomor 4236).

Tidak heran Rasulullah SAW memohon kepada Allah SWT agar dianugrahi waktu-waktu mulia yang kebaikan dikerjakan di dalamnya dilipatgandakan. Karena Umat Muhammad SAW memang meiliki usia yang relative singkat jika dibandingkan dengan umat-umat terdahulu. Sehingga masalah waktu ini para ulama terdahulu tak akan pernah ceroboh menggunakannya dengan baik. Waktu adalah ro’sul maal atau modal utama seoarng hamba yang mengarungi Samudra kehidupan di dunia yang fana’ ini. Penyair arab menyatakan :

والوقت أنفس من عنيت بحفظه, وأراه أسهل ما عليك يضيع

Waktu adalah harta paling berharga yang pantas untuk engkau jaga, tapi aku melihat waktu itu adalah hal yang paling mudah untuk disia-siakan.”

Semoga kita dapat memanfaatkan waktu-waktu muliah dengan penuh imanan wahtisaaban terutama sebentar lagi bulan suci nan mulia Ramadhan akan menyambut. Amin ***

INFORMASI SEPUTAR UNISMA DAPAT MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*) Pewarta: Thoriq Al Anshori, Dosen Fakultas Agama Islam, Sekretaris Pesantren Kampus Ainul Yaqin, Universitas Islam Malang (UNISMA).

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Dhina Chahyanti
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES