Kopi TIMES

Pendekatan Ekologi: Tantangan Mendidik Gen Z

Senin, 01 April 2024 - 17:05 | 30.90k
Hadi Suyono, Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD
Hadi Suyono, Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Tinggalkan sejenak hiruk pikuk pemilihan presiden yang menguras energi dan menarik banyak perhatian publik selama berbulan-bulan, bahkan mungkin selama proses gugatan di Mahkamah Konstitusi. Isu mengenai pemilihan presiden masih panas, belum lagi memungkinkan hasil gugatan di Mahkamah Konstitusi tidak memuaskan berbagai elemen masyarakat. Perbincangan mengenai pemilihan presiden terus menghangat sepanjang tahun.

Sebenarnya, ada pembicaraan lain yang memerlukan perhatian lebih, manfaatnya tak kalah penting dengan peristiwa pemilihan presiden, sama-sama berkenaan dengan nasib bangsa mendatang, yaitu menyiapkan generasi Z menjadi generasi masa depan yang mampu membawa Indonesia menjadi lebih baik.

Menyiagakan generasi Z butuh fokus, dasar pemikirannya adalah mewujudkan generasi Z menjadi generasi mumpuni, sejatinya membutuhkan effort luar biasa mengingat tantangan mendidik generasi Z di era serba digital tidaklah mudah. Seperti problem yang melilit generasi Z, bukan sebatas bersumber pada individu bersangkutan. Masalah yang hadir pada generasi Z dapat disebabkan oleh faktor luar, jauh dari jangkauan, bahkan tak terbayangkan, tetapi menimpa begitu saja, menjadi hambatan utama dalam mendidik generasi Z.

Kendala besar itu ternyata menyambangi kehidupan sehari-hari. Terbukti kejadian nyata menerpa seorang ayah. Betapa terkejutnya ayah tiba-tiba memperoleh surat pemanggilan dari pihak sekolah perihal permohonan pada orang tua untuk menemui guru bimbingan dan konseling agar dapat menyampaikan perkembangan peserta didik.

Setelah membaca surat pemanggilan dari guru bimbingan konseling, tumbuh rasa khawatir di hati ayah. Masalah apa yang sedang terjadi pada anaknya? Jangan-jangan sudah lama tidak masuk sekolah atau tersangkut kasus lain yang bisa berdampak mengancam studi anak.

Bisa dimaklumi kalau ayah khawatir, selama ini dari pengamatan ayah, anak saat di rumah perilakunya normatif seperti pada umumnya remaja yang lain. Hanya ada satu perilaku yang butuh pencermatan, anak sering pulang larut. Ketika ayah mengkonfirmasi pada anak mengapa terlambat sampai rumah, anak menginformasikan banyak kegiatan. Dia menjadi aktivis di sekolah. Ketakutan ayah, anak memberi keterangan ini tidak sesuai dengan kenyataan, di luar rumah melakukan tindakan yang merugikan anak dan mencemarkan nama baik keluarga.

Untuk meredam kecemasan sebagai dampak adanya surat pemanggilan, ayah mengajak diskusi anak, tujuannya ingin memperoleh data mengenai latar belakang yang menimbulkan terbitnya surat pemanggilan.

Setelah melewati obrolan panjang, asal muasal yang membuat ayah diminta datang ke sekolah, terungkap berdasarkan info yang diperoleh anak ternyata luput dari prediksi, sama sekali tidak menyentuh dugaan dalam pikiran sebelumnya.

Realitas yang sesungguhnya terjadi adalah bermula dari anak menjadi penggemar artis internasional Taylor Alison Swift. Artis berkebangsaan Amerika yang pernah memetik anugerah Grammy sebagai album terbaik ini menggelar konser di Singapura. Rupanya, ada artis Indonesia ternama menonton konser tersebut, mengenakan kaos bergambar laki-laki dan mengunggah di akun media sosialnya.

Gara-gara artis Indonesia memakai kaos dengan ilustrasi laki-laki yang membuat anak marah, anak tidak terima, alasannya laki-laki itu telah menyakiti Taylor Swift, melakukan tindakan bullying pada Taylor Swift.

Maka menurut pandangan anak, artis tenar tersebut tidak elok mengenakan kaos bergambar sosok yang membikin Taylor Swift sakit hati, bermaksud melampiaskan kekesalan, anak berkomentar di akun media sosial artis itu. Sayangnya, ada satu kata yang tak pantas.

Satu kata tak layak yang dirinya tulis mendapat protes dari penggemar salah satu artis kondang di jagat hiburan Indonesia tersebut, kehebohan di media sosial terendus sampai ke sekolah.

Agar masalah tidak membuncah, perlu diselesaikan segera, bertujuan ingin menuntaskan masalah secepatnya atas nama sekolah. Guru bimbingan dan konseling memanggil ayah untuk bekerja sama menemukan jalan keluar agar dampak tindakan tidak bijak bermedsos yang dilakukan anak tidak menyebar ke mana-mana dan anak tidak mengulangi lagi perbuatannya. Ayah dengan senang hati memenuhi panggilan guru bimbingan dan konseling.

Sebelum hadir menjumpai guru bimbingan dan konseling, terlebih dahulu ayah bersama anak membereskan masalah di rumah melalui komunikasi interpersonal secara terbuka. Anak pun menyadari kekhilafannya dan berjanji tidak akan mengulangi tindakan serupa. Anak bisa mengambil pelajaran dari masalah yang dialaminya, terutama memerlukan kearifan dalam bermedsos agar tidak menemui persoalan sama di kemudian hari.

Memetik hikmah di balik peristiwa yang dirasakan oleh ayah berkaitan dengan menghadapi masalah mendidik generasi Z tidak bisa memusatkan perhatian hanya pada intervensi secara individual, tetapi perlu mempertimbangkan pendekatan ekologi. Penjelasan mengenai ekologi terdapat dalam psikologi komunitas (Kloos, dkk. 2021).

Pendekatan ekologi bisa menjadi pijakan dalam mendidik generasi Z di latar belakang masalah yang berkembang pada anak tidak semata berhenti pada individual. Masalah yang menghadang dapat bersifat komprehensif dan makro. 

Terkini, masalah yang menimpa anak dalam penggunaan media sosial tidak hanya bersumber dari internal pribadinya, keluarga, sekolah, atau lingkungan terdekat. Masalah yang muncul berasal dari figur yang sangat jauh dan tidak bersinggungan secara langsung.

Menghadapi masalah ini, dalam mendidik anak gen-Z, diperlukan perubahan paradigma. Tidak hanya penanganan secara individual, tetapi juga melibatkan peran lingkungan dari tingkat yang paling mikro sampai makro.

Pelaksanaannya dimulai dengan mengelola individu, dengan menanamkan nilai-nilai soft skills agar tangguh mengarungi kehidupan di era disruptif. Jangan lupa untuk membekali kemampuan hard skills sebagai sarana mendatangkan kesejahteraan hidup.

Dalam mengusung pendekatan ekologi, tidak hanya fokus pada individu. Keluarga, sebagai lingkungan mikro, memiliki peran sentral dalam mendidik gen-Z. Keluarga menjadi taman yang subur untuk mendidik anak gen-Z, melalui pemberian kesempatan untuk meletakkan pondasi nilai-nilai adab, budi pekerti, dan moralitas. Hal ini membantu anak menghadapi gempuran pengaruh negatif dari teknologi informasi yang serba terbuka dan tanpa batas.

Selain itu, lingkungan yang lebih luas, seperti sekolah, juga menjadi bagian penting dalam mendidik gen-Z. Caranya adalah dengan tidak hanya menerapkan metode baku sesuai kurikulum, tetapi juga menyertakan program untuk menguatkan proses pembelajaran lebih efektif. Guru perlu terlibat dalam mengatasi masalah yang berdampak pada konsentrasi belajar siswa, seperti masalah bermedsos.

Mempertimbangkan akibat yang dapat mengganggu perkembangan akademik siswa, guru perlu secara kreatif merancang program sistemik mengenai bijak bermedsos bagi gen-Z sebagai upaya preventif agar kasus serupa tidak terjadi pada siswa lain di sekolah.

Kontribusi dari lokalitas atau lingkungan setempat anak bermukim juga perlu dipertimbangkan dalam mendidik gen-Z. Lingkungan yang baik bagi tumbuh kembang gen-Z, seperti suasana aman, nyaman, dan menyejukkan, membantu gen-Z memiliki kemampuan berpikir matang dan menjaga kesehatan mental. Hal ini menjadi pondasi utama dalam mewujudkan generasi masa depan yang tidak mudah mengalami gangguan psikologis akibat perubahan dunia yang cepat.

Secara lebih komprehensif, dalam mendidik anak gen-Z, perlu melibatkan juga aspek makro sistem, di mana negara berkewajiban melindungi gen-Z dari pengaruh negatif di era 5.0. Strategi ini tidak hanya mencakup pembongkaran sistem pendidikan setiap kali terjadi pergantian kepemimpinan atau kurikulum baru, tetapi juga melibatkan penyusunan kebijakan berkelanjutan yang diselaraskan dengan arus transformasi zaman. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan bonus demografi, yang akan mengantarkan generasi emas memiliki kualitas sumber daya insani unggul pada tahun 2045. (*)

***

*) Oleh: Hadi Suyono, Direktur Clinic for Community Empowerment Fakultas Psikologi UAD

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi TIMES Indonesia.

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES