Kopi TIMES

Ramadan dan Pendidikan Karakter

Minggu, 07 April 2024 - 15:33 | 18.29k
Hepriyadi Zaicily, S.T., M.M., Pendidik dan Sekretaris DPD Partai Gelora Kota Tangerang
Hepriyadi Zaicily, S.T., M.M., Pendidik dan Sekretaris DPD Partai Gelora Kota Tangerang

TIMESINDONESIA, TANGERANG – Beberapa hari menjelang Ramadan terjadi serangkaian tawuran remaja di berbagai daerah, seperti tawuran yang terjadi di Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, tawuran antar pelajar di Cipayung, depok serta dua aksi tawuran di Jalan Ir. Djuanda dan Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat. Fenomena tawuran yang terjadi menjelang bulan suci Ramadan mengindikasikan bahwa sebagian pelajar kita sedang mengalami defisit akhlak. Tentu, kondisi tersebut tak boleh dibiarkan begitu saja tanpa penanganan serius. Sebab, jika tak segera dicarikan solusinya akan berdampak buruk bagi masa depan mereka. 

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan penguatan pendidikan karakter, baik di lingkungan lembaga pendidikan maupun dalam lingkungan keluarga. Dalam pandangan Ahmad Tafsir (2018), akhlak atau karakter amat penting bagi kelanjutan hidup manusia. Seseorang bisa hancur karena akhlak. Satu kelompok masyarakat bisa hancur karena akhlak. Satu parpol atau ormas bisa hancur karena akhlak. Bahkan, satu negara bisa hancur karena akhlaknya. 

Tak dapat dimungkiri bahwa karakter sangat penting sebagai pilar bagi pembangunan bangsa. Jika karakter generasi bangsa itu rapuh, maka sangat sulit bagi bangsa ini naik level menjadi negara maju. Jadi, penguatan pendidikan karakter sangat mendesak di tengah krisis akhlak yang terjadi di segala bidang kehidupan.

Momentum Ramadan 

Ramadan merupakan bulan paling istimewa dibandingkan bulan-bulan lainnya. Di dalamnya banyak keistimewaan yang tidak ditemukan di bulan yang lain. Semua rangkain ibadah, seperti membaca Al-Quran, shalat tarawih, qiyamul lail, sedekah dan ibadah-ibadah lain pahalanya akan dilipatgandakan oleh Allah Swt. Perintah untuk menjalankan ibadah puasa Ramadan tercantum dalam Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 183 di mana tujuannya adalah agar manusia menjadi orang yang bertakwa.

Menurut Ilyas (2016), puasa bukan sekadar sebuah perintah dan kewajiban melainkan bentuk ketaatan yang memiliki banyak hikmah bagi umat Islam itu sendiri. Puasa itu sendiri memiliki banyak korelasi dan kebermanfaatan pada banyak sisi.

Puasa yang dimaknai menahan diri dari makan, minum, melakukan hubungan badan, dan menahan dari segala sesuatu yang dilarang agama merupakan media latihan yang luar biasa. Jika dijalankan sungguh-sungguh, puasa bisa melatih fisik, mental dan spiritual seseorang yang menjalankannya. 

Selain itu, puasa pada bulan Ramadan juga menjadi media penguatan akhlak atau karakter. Melalui sekolah Ramadan inilah, terjadi proses pendidikan dan pelatihan sehingga terbentuk karakter yang baik. Bulan Ramadan memiliki tujuan yang sangat mulai, yaitu membentuk pribadi-pribadi yang saleh ritual sekaligus mendidik karakter masyarakat.

Dalam konteks ini, pendidikan karakter bukan hanya mengajarkan seseorang mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang tidak baik, melainkan aspek perilaku moral dan watak yang terbentuk dalam diri setiap orang. Pendidikan karakter akan terbentuk dari diri sendiri, serta dipengaruhi oleh lingkungan keluarga dan lingkungan sekitar terutama lingkungan sekolah. Karena itu, menanamkan pendidikan karakter merupakan hal yang harus diupayakan kepada anak sedini mungkin, karena karakter merupakan identitas dan  cerminan jati diri seseorang yang akan berdampak terhadap pembangunan  bangsa.

Secara tidak langsung, di bulan suci Ramadan pendidikan karakter terealisasikan dalam menjalankan ibadah puasa, seperti ketaatan menjalankan perintah shalat lima waktu, berbagi takjil kepada sesama, toleransi antar umat Islam dan peduli terhadap orang lain yang sedang ditimpa musibah dengan cara memberikan bantuan sesuai kebutuhan. 

Dengan demikian, semua nilai karakter yang terkandung dalam puasa Ramadan sangat dibutuhkan oleh setiap orang, baik orang tua, pejabat, guru, pegawai maupun pelajar. Jika karakter mulia ini sudah terbentuk di bulan Ramadan dan membekas hingga bulan-bulan berikutnya, maka akan berdampak pada penurunan perilaku korupsi, tawuran antar pelajar, perundungan di sekolah dan perilaku menyimpang lainnya. (*)

***

*) Oleh : Hepriyadi Zaicily, S.T., M.M., Pendidik dan Sekretaris DPD Partai Gelora Kota Tangerang 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES