Kopi TIMES

Apa Kabar PMII Hari Ini?

Rabu, 17 April 2024 - 12:15 | 166.18k
HM Basori M.Si , Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy Alumni PMII Cabang Kediri 1992.
HM Basori M.Si , Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy Alumni PMII Cabang Kediri 1992.

TIMESINDONESIA, JAKARTA – PMII Adalah organisasi mahasiswa extra kampus yang usianya tidak muda lagi. Dalam perjalan panjang bangsa Indonesia PMII ikut andil dalam mengisi kemerdekaan  dengan ikut serta secara aktif dalam membangun kader bangsa yang memiliki pisau analisis yang tajam, gerakan pro demokrasi, gerakan advokasi kebijakan politik birokrasi dan pendampingan terhadap problematika sosial masyarakat. 

Dalam keterbatasan fasilitas gerakan PMII zaman orde baru sebagai penyambung lidah gus Dur untuk membangun civil society dan gerakan pro demokrasi, dimana kader PMII dibekali ilmu advokasi dan gerakan pendampingan masyarakat yang tertindas oleh kekuasaan. Performen kader PMII di masa itu betul betul belajar memperkuat kemapanan intelektual, membangun kerangka gerakan  dan membentuk integritas kader yang benar benar original. Karena pada saat itu benar benar mandiri secara finansial dan dibawah tekanan penguasa. 

PMII karena kemampuan dan kegigihan kader dalam membekali diri, maka PMII menjadi simbul gerakan rakyat kecil dan penyokong tumbuh kembangnya demokrasi sasi di masa itu. Bekal bacaan buku kiri dan  pendidikan khusus advokasi mampu menjadikan PMII dihitung sebagai organisasi yang perlu diwaspadai gerakannya. 

PMII Dalam Reformasi

Pemerintah  orde baru memandang PMII sebuah ancaman, karena pemerintah orde baru otoriter, sedangkan PMII menyuarakan, membangun dan memberikan pendidikan demokrasi masyarakat kecil. Tekanan tersebut membuat kader PMII semakin semangat untuk mempersiapkan diri dalam bidang ilmu pengetahuan, advokasi dan pendidikan politik pada masyarakat awam. 

Zaman orde baru PMII identik dengan tukang demo, namun lebel tersebut tidak untuk mencari uang atau jabatan. Demo mengajarkan kader bahwa hak rakyat dan kebenaran harus ditegakkan. Apalagi sebagian besar kebijakan pemerintah kalau tidak melanggar undang undang untuk kelentingan rezim yang berkuasa. 

Dengan berjalannya waktu Reformasi telah merubah dinamika politik yang otoriter menjadi pemerintahan yang lebih demokratis. Dengan dirubah nya paket UU Politik, dilaksanakanlah pemilu yang Jujur dan Adil dibanding zaman orde baru. Banyak kader PMII yang dulu dipinggirkan mulai memasuki lini kekuasaan, hingga banyak yang jadi anggota DPR/DPRD. 

Kader PMII didikan orde baru memiliki kemampuan dan integritas diri yang lebih karena berproses dalam tekanan politik. Maka ketika berada di kekuasaan komitmen perjuangan sangat kental. Visi dan perjuangan PMII yang dulu sempat tertutup akhirnya terbuka lebar dengan membuat produk undang undang yang pro rakyat dan terwujudnya pemerintahan yang lebih demokratis. 

Kesuksesan terbesar PMII dan NU ketika Reformasi adalah terpilihnya Gus Dur Menjadi Presiden RI. Walaupun kepemimpinan Gus Dur tidak lama, namun Gus Dur mampu merubah tatanan kehidupan politik yang otoriter dan kaku menjadi lebih rilex namun tidak keluar dari subtansi. Disisi lain kebijakan Gus Dur merubah kementrian yang tidak sejalan dengan demokratisasi dan mengembalikan tentara ke barak menambah iklim politik menjadi semakin segar dan tidak sangar. 

Intinya PMII masa lalu telah memiliki Andik merubah kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. Kebebasan politik terbuka, kesejahteraan merata, pembangunan lebih aspiratif dan kesempatan berusaha semakin mudah. Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kader PMII sekarang?

Apa Kabar PMII Sekarang?

Mahbub Djunaidi ketua umum PMII pertama berpandangan bahwa Aswaja merupakan suatu ideologi dan prinsip berpikir yang penting bagi seorang kaum muslim untuk menghadapi persoalan-persoalan keagamaan maupun urusan sosial kemasyarakatan. Mahbub Junaidi Muda adalah seorang penulis, Kolomnis, sastrawan, pemikir dan pembaharu dalam pemikiran Islam. Pandangan beliau merupakan pijakan utama bagi semua kader dari dulu hingga sekarang bahwa PMII adalah Kader Aswaja. 

Pemikiran Mahbub Djunaedi masih sangat relevan di zaman sekarang, maka semua kader PMII harus membaca dan menjadikan pemikiran Mahbub sebagai pijakan dalam gerakan. PMII tidak bisa lepas dari Islam Aswaja, karena yang diperjuangkan adalah kemaslahatan dan kemajuan umat Islam. 

Tradisi kajian buku buku kiri dan gerakan politik yang lebih keras hanya sebagai sampingan saja. Ghirroh pemuda dibangun dari heroiknya suatu peristiwa atau sikap patriotisnya seorang tokoh, namun tokoh idola kita yang tak kalah hebat dibanding tokoh lain harus menjadi rujukan gerakan kita kembali. 

PMII sekarang harus melakukan perenungan gerakan dan kaderisasi apakah sejalan dengan perkembangan tehnologi ? 

PMII sekarang syahwat politiknya over dosis, apakah tidak bisa dibagi peran yang lebih luas, agar masing masing berjuang sesuai dengan profesinya. Ketika dipolitik dipahami sebagai pekerjaan yang paling enak, maka pembagian peran menjadi lebih sempit bahkan antrean dipolitik terlalu panjang. 

PMII sekarang ketika sudah selesai kuliah menyelesaikan masalah ekonomi saja tidak tuntas dan sukses, apa arti diklat dan pelatihan selama ini?

PMII adalah laboratorium kaderisasi untuk menjadi pemimpin masa depan bangsa dan NU. Maka semua harus berbagi peran dalam mempersiapkan keahlian masing masing yang dibutuhkan untuk membangun bangsa dan NU

PMII harus tetap memegang teguh integritas sebagai seorang kader yang mampu menjadi tauladan dan suksesnya hidup di dunia dan akherat. Maka harus saling menguatkan untuk menuju sukses adalah sebuah kewajiban bersama. 

PMII adalah kader yang memiliki keahlian dan profesionalitas, maka jangan sampai menggadai kecerdasan intelektualnya hanya untuk kepentingan pribadi hingga nama organisasi tercoreng 

PMII adalah kader Islam Aswaja, maka jangan berpaling dari nilai Islam dengan menjalankan syariat Islam dengan benar. Aswaja sebagai sistem berfikir kader harus menjadi landasan dalam gerakan dan sikap

PMII memiliki jaringan birokrasi yang kuat, namun memanfaatkan jaringan dan potensi yang ada sangat kecil. Maka saatnya memanfaatkan jaringan untuk kemaslahatan organisasi dan alumni

PMII di masing masing level belum mampu mengambil peran strategis dalam ikut serta membangun daerah. Kontribusi konsep dan pemikiran PMII dalam pembangunan sangat minim, maka diskusi dan kajian perlu diarahkan dalam memberikan masukan kebijakan pemerintah agar bisa dirasakan oleh masyarakat.

Kader PMII harus sering merenungkan, memikirkan dan melakukan motto PMII “Dzikir, Fikir dan Amal Soleh” dalam kehidupan, agar selalu semangat menjalani hidup dan sukses menatap masa depan 

Banggalah Menjadi Kader PMII,  karena kita hebat dan bisa seperti ini karena PMII

Dirgahayu Pergerakanku …. Semoga Tetap Jaya Dalam Ikut Serta Membangun Bangsa!!

*) Penulis, HM Basori M.Si , Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy Alumni PMII Cabang Kediri 1992.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Yatimul Ainun
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES