Kopi TIMES

Narrowcasting, bukan Berarti Narrowminded

Jumat, 26 April 2024 - 11:27 | 75.45k
Ichwan Thoha, Fashion Designer, Dosen dan Penulis Buku
Ichwan Thoha, Fashion Designer, Dosen dan Penulis Buku

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Anda pasti terbiasa dengan istilah 'Broadcasting', tetapi sekarang ada pesaingnya, yakni 'Narrowcasting'. Narrowcasting merupakan salah satu fitur dari media baru, yaitu internet. Namun, apa kaitannya dengan ekslusivitas?

Televisi, radio, dan koran telah lama menjadi media penyiaran. 'Penyiaran' pada dasarnya adalah tindakan menyampaikan informasi kepada masyarakat atau pemirsa. Radio menyampaikan dalam bentuk suara atau audio, sementara televisi menggabungkan audio dan visual. Penyiaran, atau broadcasting, adalah kegiatan menyebarkan konten melalui media transmisi agar dapat diterima oleh pemirsa secara simultan.

Dengan perkembangan teknologi, media penyiaran berpindah ke digital atau DTV (Digital TV). Teknologi ini meningkatkan kualitas audio dan visual, sesuai dengan gaya hidup digital yang semakin merajalela. Inilah yang melahirkan istilah 'smart TV', yang memungkinkan akses internet dan streaming, serta menjadikan pemirsa lebih terhubung dengan konten yang mereka sukai.

Dari pembahasan sebelumnya, terdapat dua hal utama: televisi sebagai media penyiaran dan jaringan internet. Keduanya harus dikonvergensi atau diintegrasikan sesuai dengan gaya hidup digital. Konvergensi media telah mengubah gaya hidup masyarakat, membuat kerja media menjadi lebih cepat dan integral, serta membentuk lingkungan online.

Konsep konvergensi ini memunculkan 'media baru', yaitu penyatuan antara teknologi informasi dan komunikasi. Melalui media baru, konten disampaikan dengan cara yang lebih adaptif dan beragam, menggabungkan teks, gambar, video, dan suara.

Sebagai bagian dari media baru, televisi berusaha menyasar pasar yang lebih spesifik atau 'narrowcasting'. Ini berarti menyediakan konten yang mengakomodasi minat khusus atau eksklusif dari audiensnya. Narrowcasting memungkinkan pemirsa mendapatkan konten yang lebih relevan dan berdampak, dengan investasi yang lebih kecil dan efektif.

Contoh nyata narrowcasting adalah Televisi Edukasi (TVE) yang disediakan Kemendikbud selama pandemi COVID-19. TVE menyediakan program edukatif dari SD sampai SMA setiap harinya. Ada juga saluran seperti History HD, CGTN, dan National Geographic Channel yang fokus pada edukasi internasional.

Selain itu, terdapat saluran agama seperti Ajwa TV untuk Islam dan saluran streaming seperti Pijar TV untuk Kristen. Televisi olahraga seperti BeIN Sports menawarkan hak siar acara olahraga favorit global. Bahkan, ada saluran pariwisata seperti Indonesia Channel yang menampilkan keindahan Indonesia dalam bahasa Inggris dan Indonesia.

Pilihan ada pada Anda, pembaca. Narrowcasting tidak membuat Anda sempit pikiran, karena konten-konten yang disediakan bisa memperluas wawasan dan menjadi 'broadminded person'.

***

*) Oleh : Ichwan Thoha, Fashion Designer, Dosen dan Penulis Buku 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES