Kopi TIMES

Buiding Excellence dalam Bisnis dan Kewirausahaan

Senin, 06 Mei 2024 - 11:39 | 14.86k
Oleh: Dorothea Wahyu Ariani, Mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Oleh: Dorothea Wahyu Ariani, Mahasiswi Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Bisnis yang excellence adalah bisnis yang mampu selalu melakukan plan-do-check-action secara terus-menerus dan berkesinambungan. Bisnis dibangun dengan ketekunan yang dimulai dari membuat model hingga selalu melakukan sinergi dengan seluruh departemen yang ada.

Organisasi bisnis harus dibangun dengan system dan budaya yang kuat yang harus selalu diperbarui mengikuti perkembangan yang ada (Jones, 2013). Untuk itulah dibutuhkan para wirausahawan yang tangguh dan tidak mudah menyerah, serta secara-terus menerus mau belajar.

Keberhasilan dalam bisnis sering diukur secara berbeda-beda, karena tidak ada konsensus antara akademisi dan praktisi dalam mendefinisikan keberhasilan dalam bisnis tersebut. Ukuran keberhasilan bisnis secara obyektif dapat mencakup jumlah karyawan dan pelanggan, kelangsungan hidup dan keberlanjutannya, dan tidak ada indikasi penutupan, saham yang bagus, dan kinerja yang bagus, yang pada gilirannya dinilai berdasarkan profitabilitas dan pendapatan dan nilai total aset (Hasan et al., 2020; Ephrem et al., 2021). 

Sementara itu, ukuran subjektif keberhasilan bisnis mengacu pada perasaan yang dimiliki wirausahawan terhadap situasinya secara keseluruhan. Seperti, persepsi pemenuhan kebutuhan pribadi, pengakuan dan kontribusi sosial, pencapaian tujuan, kepuasan hidup, dan keseimbangan bisnis keluarga (Manzano-Garcia & Ayala-Calvo, 2020)

Pekerjaan wirausaha menuntut penciptaan usaha baru dan menumbuhkan usahanya secara berkelanjutan. Para wirausaha menghadapi tantangan yang menakutkan, lingkungan persaingan, dan resiko kegagalan yang menghantui. Hal-hal tersebut dapat memengaruhi kinerja, kepuasan, dan kesejahteraan para pengusaha, sehingga mengurangi potensi bertahan para pengusaha dalam kegiatan berwirausaha. 

Kondisi inilah yang sering terjadi pada pengusaha mikro di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sebagian besar tantangan yang dihadapi para wirausaha adalah kondisi eksternal, seperti kondisi ekonomi, kesehatan masyarakat, gejolak politik dan sebagainya yang berada di luar kendali para wirausaha. Kemampuan wirausahawan untuk mengatasi tuntutan wirausaha memainkan peran penting dalam mencapai kesuksesan. 

Ada dua sumber daya tak berwujud penting yang tersedia bagi pengusaha, yaitu modal psikologis dan modal sosial (Baluku et al., 2018). Kedua sumberdaya ini diyakini dapat membantu dan mendukung peran wirausahawan yang menantang, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan mereka.  

Menurut Luthans & Youssef-Morgan (2017), modal psikologis meliputi hope, efficacy, resiliency, dan optimism. Tanpa sumberdaya psikologis ini, sulit bagi para wirausaha untuk mencapai tujuannya, yaitu tetap survive dalam kondisi krisis seperti saat ini, apalagi menjadi excellence. Bila dikelola dengan baik, modal psikologis justru akan melebihi apa yang dimiliki pengusaha, yaitu modal finansial, human capital, bahkan modal sosial. 

Modal psikologis umumnya terkait dengan sikap kerja yang positif, kinerja yang unggul, dan kesejahteraan dalam situasi kerja (Chen et al., 2017; Kim et al., 2017). Sementara itu, modal sosial merupakan jaringan kerja sosial antara para wirausaha dengan berbagai pemangku kepentingan dan seberapa sering kerjasama diantara mereka. 

Kuantitas jaringan, banyaknya kenalan pengusaha, kekuatan jaringan, frekuensi kontak antara pengusaha dan anggota jaringan, dan tingkat kepercayaan/dukungan antara anggota organisasi, semuanya memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kinerja kewirausahaan organisasi (Ma et al.,2018).

Ketika pandemi COVID-19 melanda dunia seperti yang terjadi saat ini, para pengusaha perlu mengubah model bisnis mereka dan mengadopsi strategi kerja jarak jauh. Kondisi krisis yang berlangsung secara mendadak dan dramatis tanpa ada persiapan dengan sumberdaya yang terbatas, tentu menimbulkan kesulitan bagi para pengusaha untuk harus mengatasi krisis.

Bekerja dari rumah' bukanlah pilihan yang layak untuk semua pengusaha, mereka harus mengarahkan kembali pengetahuan mereka yang ada dan menemukan jalur inovatif untuk mengurangi kerumitan yang disebabkan oleh pandemi.

Para pengusaha dan pemimpin usaha kecil dan menengah harus memiliki rencana darurat untuk menghadapi krisis dan untuk mencegah keterlambatan dalam pemulihan krisis. Sikap para pemimpin dan strategi intervensi krisis yang diterapkan selama krisis sebelumnya secara signifikan memengaruhi keputusan mereka.

Pada umumnya, para pengusaha dan pemimpin usaha kecil selalu dihadapkan pada kendala sumberdaya dan biaya dalam skenario yang tidak terduga yang menyulitkan mereka untuk menangani krisis secara efektif. Para pengusaha dan pemimpin usaha kecil dan menengah harus mampu menciptakan strategi bisnis adaptif dengan memupuk ketahanan di tempat kerja, sehingga mereka mampu mengatasi kerugian mereka yang disebabkan oleh krisis dan meningkatkan keberlanjutan mereka.

Para pengusaha benar-benar dihadapkan pada permasalahan yang belum pernah mereka alami. Untuk itu, menganalisis tantangan di setiap aspek sangat penting untuk memahami sejauh mana dampak pandemi. Pengusaha yang memanfaatkan intuisinya untuk mengatasi kekurangan akibat krisis lebih berhasil survive jika dibandingkan dengan pengusaha yang menggunakan cara konvensional.

Oleh karena itu, kondisi psikologis pengusaha membantu mereka mengenali kebutuhan untuk menerapkan solusi yang membutuhkan modal kerja minimal. Mereka memanfaatkan sumberdaya mental dan fisik yang ada untuk menjalankan strategi intervensi krisis selama pandemi COVID-19 untuk mempertahankan bisnis mereka.

Pengusaha menyatakan bahwa kerja sama yang kuat antara karyawan dan diri mereka sendiri sangat penting untuk bertahan dari krisis COVID-19. Keyakinan akan kekuatan kolektif ini tampaknya telah mengakar dalam pola pikir para pengusaha.

Para karyawan percaya bahwa para pemimpin mereka akan membawa mereka melalui masa krisis akibat pandemi.  Oleh karena itu, para pengusaha atau para pemimpin perlu mempertahankan sikap positif, menganjurkan transparansi dan mengkomunikasikan rencana tindakan perusahaan untuk mencapai kesuksesan selama pandemi kepada seluruh anggota organisasi. 

Metode penguatan positif dan komunikasi verbal dapat menghasilkan lingkungan yang mendukung di perusahaan yang membimbing karyawan dengan percaya diri untuk menghadapi krisis dan bekerja menuju tujuan perusahaan (Walumbwa et al., 2010). Kekuatan relasional tersebut sering dikenal dengan modal sosial. Modal sosial merupakan sumberdaya relasional untuk membantu karyawan lain dengan jaringan sumberdaya pribadi (Ghitulescu, 2013).

Modal sosial dapat menumbuhkan interaksi sosial dan kepercayaan antar individu, sehingga meningkatkan kemampuan beradaptasi mereka. Dalam kondisi krisis, modal sosial dibutuhkan sebagai respon dalam menghadapi situasi yang tidak terduga.

Sementara itu, modal psikologis juga harus dibangun secara kuat untuk bangkit dari krisis akibat pandemi yang belum tahu kapan akan berakhir. Dengan harapan yang kuat yang harus selalu kita hadirkan agar dapat menimbulkan optimisme untuk dapat menemukan tindakan dan strategi yang tepat agar bangkit dari krisis. Optimisme yang realistis dan dapat dilakukan akan memperkuat kondisi mental atau psikologis para pelaku usaha. Indonesia adalah bangsa yang besar yang sudah berpengalaman dalam mengatasi berbagai masalah. 

Perjuangan untuk merdeka yang masih diikuti dengan riak-riak perselisihan baik antar kelompok yang ada maupun karena keinginan berbagai negara yang masih ingin berkuasa di Indonesia. Krisis ekonomi dunia tahun 1998, dan berbagai bencana yang melanda seperti gempa bumi, tsunami, dan masih banyak lagi cobaan yang melanda, Indonesia mampu mengatasinya dan menyelesaikannya dengan baik. Berbagai perjuangan telah membuktikan bahwa Indonesia mampu bertahan dalam menghadapi krisis (resiliency). Hal inilah yang membuat kita percaya bahwa kita mampu keluar dari krisis akibat pandemi, sehingga self-efficacy meningkat. Bila keempat komponen tersebut kita upayakan secara terintegrasi, niscaya kita bisa bangkit dari keterpurukan akibat pandemi COVID-19.

Dunia usaha pasti mempunyai pengalaman yang sama dalam berjuang menghadapi berbagai permasalahan dan keterbatasan. Hal-hal itulah yang dapat meningkatkan modal psikologis dunia usaha dalam upaya bangkit dari krisis akibat pandemi COVID-19. Berdasarkan penelitian para ahli, modal psikologis dapat meningkatkan kemampuan individu untuk beradaptasi (lihat misalnya, Hicks & Knies, 2015; Luo et al., 2021; Pajic et al., 2018; Safavi & Bouzari, 2019). Psychological capital dapat menimbulkan emosi positif yang memungkinkan pengusaha untuk mengevaluasi krisis secara positif (Luthans et al., 2007). 

Selama pandemi, para pengusaha kemungkinan besar dipengaruhi oleh modal psikologis dan memungkinkan mereka untuk memeriksa berbagai jalur untuk mengurangi dampak negatif dengan menetapkan tujuan (hope), bertahan dalam kondisi krisis dengan memiliki keyakinan pada kemampuan mereka (resilience and efficacy) dan tidak kehilangan pandangan. gambaran yang lebih besar karena pandemi ini bersifat sementara (optimisme). Modal psikologis tidak hanya membantu mengatasi pandemi tetapi juga menganjurkan untuk mengeksplorasi peluang baru dengan mengikuti pasar dan menunggu masa depan yang menjanjikan.

Pentingnya relasi antar para wirausaha dan bagaimana wirausahawan memanfaatkan sumber daya psikologis dan perilaku mereka untuk meningkatkan kemampuan bertahan hidup selama masa krisis telah mendapat perhatian dalam literatur (Dixon et al., 2017). Luthans et al. (2007) menegaskan bahwa individu dengan tingkat modal psikologis yang lebih tinggi lebih baik dalam mengatasi hambatan dan tantangan yang dibawa oleh krisis.

Meskipun kemunduran terjadi, faktor ketahanan modal psikologis membuat individu tetap termotivasi. Kekuatan modal psikologis pada wirausahawan memungkinkan wirausahawan untuk memperkuat hubungan dengan karyawan yang meningkatkan komitmen karyawan dan mendorong kreativitas dan inovasi.

Sumberdaya tak berwujud yang ada dalam pribadi para pengusaha memfasilitasi pengakuan adanya peluang, pengambilan keputusan, jaringan, negosiasi bisnis, mengatasi stres, memanfaatkan sumberdaya dan berhubungan dengan para pemangku kepentingan yang berbeda, merupakan tugas penting dari pengusaha yang mengarah pada kesuksesan. Selain itu, modal psikologis dan modal sosial yang lebih kuat juga meningkatkan kemungkinan bertahan dalam peran kewirausahaan. 

Kemampuan untuk tetap optimis, penuh harapan, ulet dan percaya diri, serta kemampuan untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain merupakan cara untuk bertahan dalam kegiatan kewirausahaan. Mendukung pengusaha untuk memperkuat kompetensi psikologis dan sosial mereka menjadi penting untuk mempromosikan kewirausahaan yang sukses.

***

*) Oleh: Dorothea Wahyu Ariani adalah Mahasiswi Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY). 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Amar Riyadi
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES