Kopi TIMES

Menciptakan Sumber Daya Manusia Berdaya Saing Global

Selasa, 14 Mei 2024 - 12:00 | 40.37k
Sugiyarto, S.E., M.M,
Sugiyarto, S.E., M.M,

TIMESINDONESIA, TANGERANG – Tingginya biaya hidup di negara maju membuat banyak generasi muda memilih untuk tidak menikah. Jepang, Korea, dan Jerman adalah beberapa negara maju yang sudah merasakan dampak menurunnya populasi warga negara mereka dua puluh satu tahun yang lalu. Menurunnya angka kelahiran ini akan terus berlanjut seiring dengan tingginya biaya hidup di negara maju. Jangan heran banyak generasi di negara maju tersebut lebih memilih untuk memikirkan kebahagian pada diri mereka sendiri. Kalaupun menikah, mereka lebih memilih untuk tidak memiliki anak.

Terbukti, negara maju seperti Jepang dengan banyaknya warga negara yang memilih untuk tidak memiliki anak berdampak pada menurunnya angka kelahiran dan menjadi permasalahan pada tersedianya tenaga kerja pada dunia industri mereka, termasuk di Jerman. Bahkan ada beberapa sekolah di Jepang mulai ditutup karena tidak adanya siswa.

Sebagian besar negara yang memiliki industri maju dan mampu menciptakan produk, cenderung masyarakatnya memiliki produktivitas dan etos kerja yang tinggi serta individualis. Mereka sibuk dengan aktivitas mereka sendiri dan kurang peduli terhadap lingkungan disekitar. Masyarakat di negara maju juga lebih cenderung memiliki pemikiran bahwa selama mereka tidak terganggu, maka mereka akan hidup dengan dunia masing-masing, sesuai dengan prinsip yang mereka jaga untuk selalu menghormati privasi orang lain.

Berbeda dengan cara berpikir masyarakat di negara berkembang dimana budaya dan etos kerja masih perlu ditingkatkan. Budaya seperti ini yang menjadi kendala dan menjadi salah satu alasan investor enggan merelokasi industri mereka di negara berkembang selain tuntutan upah tenaga kerja yang tinggi. Indonesia menjadi salah satu negara dengan potensi pasar yang besar menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk melakukan investasi, termasuk industri kendaraan listrik yang sedang ramai saat ini. Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi produsen mobil listrik dunia termasuk China. Bahkan pabrikan dari Vietnam ikut serta bersaing meramaikan pasar mobil listrik di dalam negeri, walaupun China masih menjadi pemimpin pasar.

Dibutuhkan kesadaran kolektif untuk bisa menjadi negara maju. Pada dasarnya kita sudah memiliki modal besar yang tidak dimiliki oleh negara lain yaitu potensi pasar yang cukup besar, mulai dari pangan, pakaian, dan kebutuhan lainnya bisa diserap pasar dalam negeri jika negara mampu memproduksi sendiri.

Untuk bisa menjadi negara mandiri, dibutuhkan leadership yang kuat dari pemimpin bangsa serta pemangku kepentingan lainnya untuk bersatu membangun bangsa dan negara demi kepentingan rakyat yang mendambakan harga pangan murah dan terjangkau, rumah layak huni, dan transportasi murah serta terintegrasi dengan moda transportasi lainnya, termasuk akses kesehatan murah bagi masyarakat miskin.

Yang paling mendesak saat ini adalah bagaimana memperbaiki kualitas sumber daya manusia, dimulai dari pola makan sehat serta perbaikan gizi masyarakat. Bagi masyarakat kelas menengah ke atas, mungkin permasalahan mereka bukan pada kecukupan gizi, namun lebih cenderung kebutuhan hiburan dan liburan. Maka sangat menarik ketika presiden dan wapres terpilih untuk periode 2024–2029 memiliki program makan gratis. Semoga program mulia ini tepat sasaran dan mampu menjangkau rakyat miskin serta mampu mengurangi angka stunting di negara kita.

Seperti yang disampaikan Presiden Jokowi, dimana beliau pernah membaca anggaran untuk mengatasi stunting sebesar 10 milyar, 80% dari anggaran digunakan untuk kegiatan sosialisasi dan rapat, sementara untuk mengatasi stunting secara langsung seperti belanja telur & daging untuk warga miskin hanya 2 milyar. Ini jelas salah sasaran dan harus diluruskan seperti yang disampaikan presiden Jokowi.

Bagaimana bangsa ini bisa berdaya saing jika penyelenggara negara tidak peduli dengan bangsa dan rakyatnya sendiri. Sementara banyak program pemerintah yang bagus dan berpihak kepada masyarakat bawah banyak disalahgunakan. Termasuk tingginya biaya pendidikan tinggi yang sedang ramai dikeluhkan mahasiswa di beberapa perguruan tinggi negeri. Bahkan tidak sedikit di antara mereka melakukan aksi demo dengan tingginya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di beberapa perguruan tinggi negeri setelah berubah menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH).

***

*) Oleh : Sugiyarto, S.E., M.M, Dosen Fakultas  Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES