Kopi TIMES

Pendidikan Kunci Kebangkitan Nasional

Kamis, 16 Mei 2024 - 15:44 | 14.62k
 Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S, M.Pd, D.PEd, Kepala SMKN 1 Klabang, Bondowoso.
Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S, M.Pd, D.PEd, Kepala SMKN 1 Klabang, Bondowoso.

TIMESINDONESIA, BONDOWOSO – Peringatan hari kebangkitan nasional yang pada tahun 2024 ini adalah yang ke-116 merupakan momentum yang tepat untuk melakukan refleksi historis tentang dahsyatnya usaha bangkit bangsa Indonesia dari penjajahan. Harus diakui, bahwasannya kritik pedas Van Deventer melalui tulisannya yang berjudul Een Eereschlud (utang khormatan) pada majalah De Gids menjadi pemantik lahirnya politik etis (balas budi). Maka, melalui kuasa Ratu Wihelmina diangkatlah Gubernur Jenderal Baru yakni J.B Van Heutsz dan penasihatnya yaitu Prof. C. Snouck Hurgronje lahirlah tiga kebijakan balas budi antara lain irigasi, transmigrasi, dan edukasi.

Meski pada awalnya pendidikan yang dilaksankan hanya pendidikan tingkat rendah dan terbatas untuk memenuhi pegawai rendah pemerintah Belanda, akan tetapi kebijakan pendidikan tersebut pada perkembangannya sangat berdampak bagi lahirnya model pergerakan perjuangan Bangsa Indonesia mencapai pintu gerbang kemerdekaan. Pendidikan terbatas dan penuh keterbatasan itulah yang akhirnya merangsang tumbuhnya kesadaran nasional sebagai sama-sama orang Indonesia.
    
Kesadaran nasional ini berbeda dengan model pergerakan para pendahulu yang hanya mengandalkan otot melalui perjuangan fisik, bersifat kedaerahan, dan sporadis. Perang gerilya yang dipilih oleh Pattimura di Ambon, perang Martha Christina Tiahahu di Maluku, Cut Nyak Dien di Aceh, Perang Padri oleh Tuanku Imam Bonjol di Sumatera Barat, Pangeran Diponegoro yang dikenal dengan Perang Jawa, dan berbagai perang fisik lainnya semuanya dengan mudah ditaklukkan Belanda. Tentunya nalar kritis kita akan begitu gemas melihat fakta sejarah tersebut seraya bergumam Andaikan semua panglima di atas bersatu dan menyusun kekuatan untuk menyerang pada waktu yang sama pasti kemerdekaan hadir di abad 19. 

Penentuan 20 Mei sebagai Harkitnas dengan berdirinya organisasi pertama di Indonesia pada masa kolonial Belanda yaitu Boedi Oetomo oleh sejumlah kawanan mahasiswa STOVIA menunjukkan jelas bagaimana peran pendidikan sebagai kunci kebangkitan nasional. Menariknya, gagasan sang inisiator lahirnya Boedi Uetomo yakni Soetomo ini berawal dari gagasan Dokter Wahidin Sudirohusodo yang mempunyai tekad tinggi meningkatkan harkat dan martabat rakyat untuk segera membebaskan diri dari belenggu penjajahan. Catatan pentingnya adalah bahwa Harkitnas lahir dari semangat persatuan, kesatuan, nasionalisme, serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. 

Tekad bangkit dari belenggu penjajahan seiring tumbuh kembangnya golongan terpelajar yang menggelora pada tahun 1908 juga mengisyaratkan perubahan strategi perjuangan dari perang gerilya menuju perjuangan diplomasi melalui organisasi adalah langkah cerdas nenek moyang kita yang super luar biasa. Semangat tanpa lelah untuk menggelorakan persatuan seperti dalam catatan sejarah pada akhirnya membutuhkan waktu 20 tahun menuju gerakan kebangkitan oleh sumpah pemuda, tepatnya 28 Oktober 1928. 

Sungguh sebuah nilai-nilai karakter yang luar biasa dari proses perjuangan kebangkitan nasional oleh para pejuang bangsa Indonesia kala itu dengan segala keterbatasannya. Perjuangan dengan strategi diplomasi organisasi tersebut pada perjalanannya juga terus dilakukan di tengah kungkungan penjajahan yang tak kunjung usai. 

Semangat kebangkitan terus menggelora, seiring juga dengan tambah banyaknya golongan terpelajar akibat di tempa pada kawah candradimuka pendidikan. Lagi-lagi catatan sejarah membuktikan bahwa pendidikan menjadi kunci kebangkitan para anak bangsa untuk menemukan identitas nasional. Langkah revolusioner pun dilakukan oleh Ki Hajar Dewantara yang pada 3 Juli 1922 mendirikan perguruan Taman Siswa. Sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai tujuan mulia memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi jelata Indonesia seperti yang dimiliki para priyayi dan orang-orang Belanda.

Laksana tak ada hasil yang dikhianati oleh proses, proses kesadaran nasional yang terbangun dengan merubah model perjuangan dari optimalisasi otot menjadi otak, dari perang fisik menjadi diplomasi organisasi tahun 1908 pada akhirnya meledak 20 tahun kemudian. Sebuah hajat besar pemuda yang kedahsyatannya sampai detik ini belum terkalahkan, yakni Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. Sekali lagi, tidak bisa dipungkiri bahwasannya peristiwa pemuda itu terlahir dari hasil sebuah pendidikan yang melahirkan tokoh-tokoh penggagas Sumpah Pemuda yang berikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa yakni Indonesia.

Harus diakui bahwasannya pendidikan merupakan ujung tombak perlawanan bangsa Indonesia masa lalu melawan penjajahan berjilid-jilid hingga berbuah manis dengan sampainya pada gerbang kemerdekaan. Lantas bagaimana pendidikan tetap menjadi kunci kebangkitan nasional era sekarang ini? jawabannya sangat mudah namun sulit dilakukan, yakni mengamalkan pancasila dan tida sekedar hafal untuk diucapkan saja. Sila Pertama, pendidikan membangun pondasi kehidupan berlandaskan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Sila Kedua, bagaimana pendidikan menanamkan jiwa tolong menolong, kepedulian, solidaritas sosial, cinta kepada sesama manusia meski di tengah keberagaman demi terwujudnya kemanusian yang adil dan beradab. Sila Ketiga, yakni pendidikan yang mampu menyatukan segala macam perbedaan dalam rumah besar persatuan Indonesia tercinta. 

Sila Keempat, bagaimana pendidikan kembali menekankan pentingnya duduk bersama, bermusyawarah dengan penuh kedamaian dalam setiap penyelesaian masalah. Sila Kelima, bagaimana pendidikan gratis berkualitas dapat diakses oleh semua masyarakat Indonesia terlebih bagi masyarakat miskin demi terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

***

*) Oleh : Dr. Daris Wibisono Setiawan, S.S, M.Pd, D.PEd, Kepala SMKN 1 Klabang, Bondowoso. 

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES