Kopi TIMES

Teknologi Pascapanen untuk Pengawetan Bahan Pangan

Jumat, 17 Mei 2024 - 14:07 | 12.37k
Fadli Hafizulhaq, Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas
Fadli Hafizulhaq, Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas

TIMESINDONESIA, SUMATERA – Belum lama ini, Kementerian Pertanian Indonesia menjalin kerja sama teknologi pertanian dengan Iran. Kerja sama tersebut disepakati di Kantor Pusat Kementerian Pertanian pada 29 April lalu. Pada hari itu terjadi pertemuan antara Menteri Pertanian Andri Amran Sulaiman dengan duta besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.

Dikutip dari sebuah siaran pers di laman pertanian.go.id, Boroujerdi menjelaskan bahwa teknologi pertanian yang diterapkan oleh Iran saat ini meliputi mesin-mesin penyimpanan hasil produksi, mesin tanam, mesin pengawet dan juga mesin mutakhir lain dalam aplikasi sistem pendorong air atau pompanisasi pada irigasi lahan.

Adapun salah satu latar belakang dijalinnya kerja sama ini adalah keinginan Kementerian Pertanian (Kementan) untuk fokus pada peningkatan produksi padi dan jagung sebagai komoditas utama Indonesia di masa yang akan datang. Dalam jangka pendek, Kementan ingin menghadirkan solusi cepat dalam antisipasi fenomena el nino dengan teknologi pompanisasi serta pengolahan lahan rawa.

Pentingnya Penanganan dan Teknologi Pascapanen

Terjalinnya kerja sama teknologi pertanian Indonesia-Iran beberapa waktu yang lalu menjadi bukti bahwa pemerintah menaruh perhatian khusus pada penanganan pascapanen produk hasil pertanian. Bagaimana tidak, proses pascapanen yang tidak tepat dapat menciptakan kehilangan hasil produksi yang cukup besar. Terutama pada produk hasil pertanian yang berbentuk bulir atau grain seperti halnya padi dan jagung.

Saba dan Ibrahim (2018) dalam sebuah artikel ilmiah bertajuk "Postharvest Loss in Rice: Causes, Stages, Estimates and Policy Implications" melaporkan bahwa dalam sebuah studi di Afrika jumlah kehilangan bulir padi selama pemrosesan berjalan berada di rentang 10 hingga 20 persen, sementara perkiraan kehilangan bahan pangan berupa bulir dikarenakan kesalahan penanganan, pembusukan dan infestasi hama di negara berkembang mencapai 25%.

Persentase kehilangan tadi tentu saja bukan sebatas angka. Hal itu merupakan representasi bahwa 10-25% usaha yang telah dilakukan dari awal proses bioproduksi menjadi sia-sia. Air irigasi yang hilang, pupuk, biaya tenaga kerja dan lainnya. Dengan kata lain, angka losses atau kehilangan tadi merepresentasikan kerugian ekonomi yang ditanggung oleh para petani.

Teknologi Pascapanen untuk Pengawetan

Kembali pada narasi di awal, penulis menilai bahwa kerja sama yang dicanangkan oleh Kementan dengan Iran merupakan hal yang tepat di tengah ancaman krisis pangan global. Kita tentu berharap ada teknologi-teknologi pertanian, khususnya dalam pengawetan bahan makanan, yang nantinya dapat diterapkan di Indonesia.

Akan tetapi, sebelum adaptasi teknologi baru tersebut dapat dilaksanakan secara maksimal, petani masih dapat melakukan proses pengawetan sederhana yang cukup berguna. Proses pengawetan pascapanen ini dimulai dari pengeringan bahan pangan. Untuk memperpanjang masa simpan dan mengurangi potensi kehilangan, bahan pangan seperti padi perlu dikeringkan hingga kadar air yang tepat.

Umumnya padi yang baru dipanen memiliki kadar air di rentang 20-25%, pengeringan padi dapat dilakukan hingga kadar airnya berada di angka 15% ke bawah. Pengeringan ini bertujuan untuk mereduksi kemungkinan gabah rusak dikarenakan jamur dan mikroba lainnya. Gabah yang telah kering harus disimpan pada ruang penyimpanan yang kering agar kadar airnya tidak meningkat.

Terkait dengan ruang penyimpanan, jika memungkinkan pengaturan dan pengawasan temperatur dan kelembapan ruangan dapat dipilih. Adapun dua teknik pascapanen yang umum untuk hal tersebut adalah Modified Atmospheres (MA) dan Controlled Atmospheres (CA). Hanya saja, kedua teknologi tadi membutuhkan peralatan tingkat lanjut agar dapat diterapkan.

Alternatif yang relatif lebih mudah untuk diwujudkan adalah pembangunan silo penyimpan padi atau bahan makanan berbasis bulir lainnya. Meskipun tetap membutuhkan biaya yang tidak sedikit, pembangunan silo cukup layak untuk dijadikan program oleh pemerintah. Bagaimanapun, penyimpanan di dalam silo akan lebih baik ketimbang menyimpan padi atau sejenisnya di dalam karung semata. (*)

***

*) Oleh : Fadli Hafizulhaq, Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Andalas

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES