Kopi TIMES

Posisi Agama dan Sains dalam Artificial Intelligence

Minggu, 02 Juni 2024 - 04:21 | 21.57k
Abdul Mukti Ro’uf, Dosen Studi Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Abdul Mukti Ro’uf, Dosen Studi Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Hadirnya teknologi baru bernama Artificial Intelligence (AI) cukup mengguncang tatanan kehidupan manusia akhir-akhir ini. Guncangan itu sekaligus mengundang kecemasan baru karena potensi daya rusaknya terhadap keberlangsungan kehidupan manusia. Tetapi pada saat yang sama, sebagai konsekuensi dari perkembangan penemuan sains, teknologi ini dapat menjadi bagian dari cara manusia memahami, memudahkan, dan mengatasi masalah-masalah baru yang ditimbulkan. 

AI, sebagaimana temuan teknologi lainnya selalu berdampak ganda: positif dan negatif. Dan memang sejak awal, temuan sains dalam fase sejarah tertentu, dalam batas-batas tertentu mengalami ketegangan dengan agama. Ada hubungan pasang-surut antar keduanya. Karena itu, fenomena kecemasan dan harapan akan lahirnya temuan baru manusia dapat dilihat dari perspektif relasi antara agama dan sains.

Mengenali Artificial Intelligence 

Per definsisi, AI merupakan program yang merekayasa kecerdasan manusia untuk dapat diterapkan pada perangkat mesin atau sistem komputer. AI dibuat dengan tujuan supaya komputer memiliki kemampuan berpikir, belajar, dan bertindak seperti manusia. Mesin ini juga menunjukkan sifat-sifat yang terkait dengan pikiran manusia. Prosesnya termasuk dengan pembelajaran perolehan informasi dan aturan untuk menggunakan informasi, penalaran menggunakan aturan untuk mencapai perkiraan kesimpulan yang pasti dan koreksi diri. 

Secara kronologis, AI bukan tiba-tiba datang. Dalam catatan Dr. Lukas, ketua Indonesia Artificial Intelligence Society (IAIS), cikal bakal AI dapat ditelusuri sejak tahun 1900-an hingga tahun 1950-an. Ia terbagi menjadi empat bagian, yakni dimulai dari perkembangan teori, gelombang pertama yang menandai munculnya pemikiran untuk memberikan pengetahuan bagi mesin, gelombang kedua ketika mesin mulai mengolah data yang dimasukkan, serta gelombang ketiga saat internet telah ditemukan.

Kehadiran dan penerapannya kini mulai memasuki sendi-sendi kehidupan manusia dengan berbagi dampak positif dan negatifnya seperti di bidang teknologi, bisnis, pendidikan, industri dan kesehatan. 

Zulfikar Hardiansyah, (Kompas, (28/11/2023) mengulas bahwa AI mencakup berbagai jenis sistem untuk membuat komputer atau perangkat mesin lainnya memiliki kecerdasan layaknya manusia. Ia memiliki fokus pada beberapa aspek keterampilan kognitif yang antara lain meliputi: Pembelajaran (Learning): Aspek AI ini berfokus pada pengumpulan data dan pembuatan aturan untuk mengubahnya menjadi informasi yang dapat diambil tindakan. 

Aturan ini disebut algoritma yang dapat memberikan petunjuk pada komputer tentang cara menyelesaikan tugas tertentu. Penalaran (Reasoning): Aspek kecerdasan buatan ini berfokus pada pemilihan algoritma yang tepat untuk mencapai hasil yang diinginkan. Koreksi mandiri (Self-correction): Aspek AI ini dirancang untuk terus menyempurnakan algoritma dan memastikan bahwa mereka memberikan hasil yang paling akurat. Kreativitas (Creativity): Aspek AI ini ditujukan untuk dapat menghasilkan gambar, teks, musik, dan ide baru.

Dampak positif yang bisa ditunjukkan antara lain, peningkatan produktivitas dalam bekerja karena sistem otomatisasi teknologi, membantu dalam proses pengambilan keputusan karena kemampuan menganalisa data dalam skala besar secara cepat dan akurat, mendorong inovasi dalam teknologi seperti mengendarai mobil tanpa driver (manusia), mempermudah proses pembelajaran, dan penghematan biaya karena mengambil alih pekerjaan manual oleh manusia. 

Pada bagian lain, penerapan AI akan memiliki dampak negatifnya seperti, ketidakteraturan dan ketegangan antara informasi mesin dan data asli. Jika data yang disuplay ke sistem AI tidak akurat, maka hasilnya pun akan tidak akurat, ancaman terhadap keamanan siber, menurunnya keterampilan manusia, terbajak dan terlanggarnya urusan privasi seseorang karena menyangkut data pribadi yang masuk dalam sejumlah data yang besar, dan terancamnya hilangnya pekerjaan manusia dan menciptakan pengangguran yang meluas.

AI: Dimana Agama, Dimana Sains?

Ulasan tentang dampak positif dan negatif AI bagi kehidupan manusia talah banyak disajikan baik secara ilmiah maupun dalam bentuk tulisan-tulisan yang lebih populer. Kesimpulan dari diskusi atas dampak AI menunjukkan bahwa teknologi ini dalam dirinya sendiri mengandung perdebatan klasik yaitu, apakah AI sebagai teknologi, netral/bebas nilai atau sebaliknya, sarat nilai? Teknologi sebagai “anak kandung” dari sains tidak mungkin berdiri dan terpisah dari kehidupan manusia dimana nilai-nilai agama dan etika ada di dalamnya. 

Karena itu, jalan bijaksana untuk masalah ini adalah integrasi. Pendekatan integratif ini ditempuh karena posisi agama dan sains (baca: teknologi) dalam kehidupan manusia menjadi satu dan menyatu. Dalam konteks AI, ia harus selalu diposisikan sebagai tools/alat/wasilah untuk memudahkan kehidupan manusia menuju tujuannya yang hakiki: menciptakan harmoni, kedamaian, kebahagian. Karena itu, tuntutan sentuhan etik bagi para pengguna teknologi menjadi wajib. Kerana, jika teknologi berada di tangan “manusia jahat” ia akan cenderung merusak dan menghancurkan kehidupann manusia sendiri. 

Tidak hanya tanggung jawab etika, rumusan regulasi hukum yang mengikat dalam penggunaan AI layak untuk dipertimbangkan sebagai antisipasi bagi upaya liar yang dapat mengancam kehidupan manusia sendiri. Akhirnya, kecemasan dan harapan akan hadirnya AI dalam kehidupan manusia sehar-hari memerlukan berbagai ijtihad baru baik di wilayah agama itu sendiri maupun wilayah teoritis dalam banyak ilmu pengetahuan lainnya.

***

*) Oleh : Abdul Mukti Ro’uf, Dosen Studi Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES