Kopi TIMES

Petani Milenial dan Masa Depan Pangan Nasional

Minggu, 02 Juni 2024 - 17:45 | 23.09k
Agam Rea Muslivani, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang
Agam Rea Muslivani, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Anak Muda alias generasi milenial kini tak lagi malu, sungkan atau gengsi untuk menjadi seorang Petani. Lambat laun, profesi petani semakin diminati oleh kalangan millenial. 

Dulu, kita selalu melihat pertanian, desa, petani itu selalu diasosiasikan dengan kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan, tapi sekarang justru sebaliknya. 

Banyak anak-anak muda berpendidikan dan menguasai teknologi yang melihat bahwa masa depan Indonesia bukan lagi di Kota, tetapi di Desa. 

Maraknya sarjana yang bercita-cita menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Pegawai berseragam cokelat, tak membuat nyali para petani milenial goyah. Bahkan tak sedikit anak-anak muda yang bisa sukses dan survive dengan memilih jalan menjadi seorang Petani. 

Kemajuan era digital lambat laun akan mendisrupsi berbagai sektor kehidupan, termasuk dari sisi pekerjaan atau profesi. Tenaga kerja manusia di masa depan mau tidak mau akan tergantikan oleh robot-robot buatan manusia alias artificial intelligence (AI).

Akhirnya banyak pabrik-pabrik yang terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya untuk memangkas biaya operasional secara ugal-ugalan. Inilah salah satu dampak yang paling terasa di era disrupsi saat ini.

Salah satu sektor yang tak akan lekang oleh zaman, yaitu adalah sektor pertanian. Bagaimana tidak, urusan pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Wajar saja jika anak muda sekarang lebih banyak yang beralih profesi menjadi petani.

Salah satu ciri khas yang membedakan antara petani milenial dan petani-petani dahulu terletak pada penggunaan teknologi. Kini petani banyak terbantukan dengan adanya alat-alat pertanian modern yang sangat canggih. Sehingga dalam prosesnya, semakin efektif dan efisien. 

Apabila melihat dalam skala nasional, sektor pertanian Indonesia dinilai tumbuh paling tinggi dalam satu dekade terakhir. Bahkan turut meningkatkan ekonomi Indonesia dalam tumbuh semakin baik setiap tahunnya.

Ditengah adanya krisis pangan yang melanda berbagai negara di eropa dan afrika, Indonesia masih mampu bertahan untuk menjaga kebutuhan pangan dalam negeri. Sayangnya hal ini tidak berbanding lurus dengan nasib para petani dalam negeri.

Salah satu penyebabnya yakni lantaran pemerintah masih sering melakukan impor pangan dari luar negeri. Sehingga kesejahteraan petani masih menjadi tanda tanya besar hingga saat ini.

Petani Milenial dan Dukungan Pemerintah

Pemerintah perlu untuk terus mendorong dan men-support para petani millenial yang merupakan ujung tombak pembagunan suatu negara. 

Salah satu peran yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan meluncurkan program-program seperti pelatihan, pemodalan dan peningkatan produksi pangan dalam negeri.

Sehingga melalui berbagai program tersebut mampu melahirkan jutaan petani-petani muda yang memiliki jiwa wirausaha. Tak hanya itu, dukungan pemerintah juga turut melahirkan inkubator-inkubator bisnis dari sektor pertanian dengan berbagai komoditas yang sesuai dengan potensi daerah.

Adanya program-program yang sebelumnya telah diluncurkan oleh Kementerian Pertanian, seperti program Youth Enterpreneurship And Employment Support Services (YESS) penting untuk terus dilanjutkan sembari dilakukan evaluasi.

Secara kasatmata program tersebut terbukti mampu menarik perhatian anak-anak muda untuk kembali ke desa dan mulai bertani. Sayangnya, program tersebut masih kurang maksimal lantaran bersifat temporal. 

Kedepan perlu upaya maksimal dari pemerintah agar para petani milenial benar-benar memiliki bekal yang matang untuk terjun dan berkembang di dunia pertanian. Sehingga lima atau sepuluh tahun ke depan, hasil olahan para petani dalam negeri benar-benar akan menjadi lumbung pangan nasional bahkan dunia.

***

*) Oleh : Agam Rea Muslivani, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES