Kopi TIMES

Harmoni Agama

Sabtu, 15 Juni 2024 - 18:33 | 21.95k
Gus Sholikh Al Huda, Dr. M.Fil.I, Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur & Sekretaris Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya
Gus Sholikh Al Huda, Dr. M.Fil.I, Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur & Sekretaris Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Desa Balun Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan terbilang cukup unik dibandingkan desa lainnya. Di sini heterogenitas masyarakatnya menonjol dari segi keagamaan.

Ada tiga agama. Islam, Kristen, Hindu, yang dianut warga desa. Tapi tak pernah terjadi gesekan antar agama. Islam memang mayoritas. Bisa menghargai yang minoritas.

Menurut data BPS Kabupaten Lamongan tahun 2018, jumlah penduduk Desa Balun 4.744 orang, Jumlah KK 1.138. Dari jumlah itu warga muslim sebanyak 3.498 orang (75 persen), Kristen 857 orang (18 persen), Hindu 289 orang (7 persen).

Mayoritas pekerjaan petani dan petambak. Ada juga guru, pegawai negeri, dan pedagang. Mereka hidup rukun berdampingan saling mendukung dalam kegiatan sosial, budaya dan kemanusiaan.

Simbol kerukunan itu juga ditunjukkan dari tiga tempat ibadah berada pada satu lokasi. Masjid Miftahul Huda letaknya bersebelahan dengan Pura Sweta Maha Suci. Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) berada di sebelah timur masjid.

Di acara sosial keagamaan semua warga hadir. Misal, saat ada kegiatan selamatan kematian, kenduri, perayaan Natal, pawai ogoh-ogoh, kerja bakti bersama.

Potret masyarakat Balun itu mewakili wajah Islam moderat di Lamongan. Di tempat lain kabupaten ini gambarannya kurang lebih sama. Keberagamaan yang harmoni. Sikap toleransi, inklusif, dan saling menghargai di tengah pluralitas sosial, agama, politik, golongan, dan budaya.

Kehidupan masyarakat terbangun dalam relasi sosial keberagamaan antara mayoritas muslim dengan minoritas Kristen dan Hindu. Harmoni tanpa ada hegemoni dan diskriminasi mayoritas terhadap minoritas.

Fakta sosiologis ini menepis opini seolah-olah wajah Islam masyarakat Lamongan itu keras, radikal, dan intoleran gara-gara kasus Bom Bali 12 Oktober 2002.

Pelaku Bom Bali seperti Amrozi, Ali Gufron, Ali Imron yang warga Solokuro Lamongan tidak bisa di-gebyah uyah menjadi watak muslim Lamongan seluruhnya. Apalagi dalam kasus itu ada Imam Samudra yang berasal dari Serang, Banten, yang tak juga mewakili etnis setempat.

Watak keislaman Amrozi dkk yang dinilai keras, radikal, militan itu lebih banyak faktor pengaruh pergaulan dari luar negeri. Mereka pernah berjihad di Afghanistan saat melawan Uni Sovyet tahun 1990-an. Juga pernah ke Moro Filipina. Jihad model itu yang ingin dipraktikkan oleh mereka di dalam negeri sehingga menimbulkan konflik besar.

Fakta Sosiologis

Riset saya di Desa Balun menunjukkan fakta sosiologis terkait pola keislaman masyarakat Lamongan yang menggambarkan wajah moderat. Kedamaian dan saling toleran. Islam sebagai agama mayoritas, bisa menjadi pengayom bagi minoritas.

Mayoritas Islam tidak menjadi alasan untuk menghegemoni apalagi bullying, diskriminasi terhadap warga minoritas Hindu-Kristen.

***

*) Oleh : Gus Sholikh Al Huda, Dr. M.Fil.I, Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur & Sekretaris Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES