Kopi TIMES

Urgensi Melanjutkan Program Merdeka Belajar

Minggu, 16 Juni 2024 - 08:26 | 15.65k
Hatib Rachmawan, Dewan Pembina Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia dan Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.
Hatib Rachmawan, Dewan Pembina Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia dan Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Pendidikan di Indonesia mengalami pembaruan melalui serangkaian regulasi dari Kemendikbudristek, yaitu Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022, Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022, Permendikbudristek No. 56 Tahun 2022, dan Keputusan Kepala BSKAP No.008/H/KR/2022 serta No.009/H/KR/2022 Tahun 2022, yang mendukung implementasi Kurikulum Merdeka.

Permendikbudristek No. 5 Tahun 2022 menetapkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang mengatur kriteria minimal sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. SKL ini menjadi acuan untuk Kurikulum 2013, Kurikulum Darurat, dan Kurikulum Merdeka, memastikan lulusan siap menghadapi tantangan global. 

Permendikbudristek No. 7 Tahun 2022 mengatur Standar Isi yang mencakup ruang lingkup materi berdasarkan muatan wajib, konsep keilmuan, dan jenjang pendidikan. Permendikbudristek No. 56 Tahun 2022 menyediakan pedoman penerapan kurikulum untuk pemulihan pembelajaran, termasuk struktur Kurikulum Merdeka dan aturan pembelajaran. 

Keputusan Kepala BSKAP No.008/H/KR/2022 Tahun 2022 menetapkan capaian pembelajaran dan profil Pelajar Pancasila yang memberikan panduan bagi pendidik dalam merancang pembelajaran dan mengembangkan karakter siswa sesuai nilai-nilai Pancasila.

Wajib Melanjutkan Program Merdeka Belajar

Melanjutkan program Merdeka Belajar memiliki urgensi yang tinggi dalam konteks pemulihan dan peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Kurikulum Merdeka, dengan fleksibilitasnya, memungkinkan penyesuaian pembelajaran dengan kebutuhan lokal dan individual siswa, sehingga setiap siswa dapat belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka. 

Fokus pada materi-materi esensial dan pembelajaran yang mendalam dalam kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi sangat penting untuk memastikan siswa memiliki fondasi yang kuat dalam pendidikan mereka.

Selain itu, pembelajaran berbasis proyek yang mengembangkan soft skills dan karakter melalui proyek penguatan Profil Pelajar Pancasila adalah komponen krusial dalam membentuk siswa yang tidak hanya unggul dalam akademis, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang diperlukan untuk menghadapi tantangan masa depan. 

Dengan menekankan pengembangan karakter dan kompetensi umum, kurikulum ini menciptakan generasi yang siap berkontribusi secara positif dalam masyarakat.

Fleksibilitas yang diberikan kepada guru untuk melakukan pembelajaran terdiferensiasi sangat penting dalam memenuhi kebutuhan belajar individual siswa, terutama di era pasca pandemi dimana terdapat variasi besar dalam kemampuan dan tingkat pemahaman siswa. Guru dapat menyesuaikan metode pengajaran dan materi ajar sesuai dengan kemampuan dan karakteristik masing-masing siswa, memastikan bahwa tidak ada siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran.

Program Merdeka Belajar telah menjadi tonggak penting dalam reformasi pendidikan di Indonesia. Program ini dirancang untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa serta tantangan zaman. Namun, jika program ini tidak dilanjutkan, dampak negatif yang signifikan dapat terjadi pada berbagai aspek pendidikan di Indonesia.

Dampak Negatif tidak Melanjutkan Program Merdeka Belajar

Berikut adalah tiga dampak utama yang akan dirasakan jika program Merdeka Belajar tidak dilanjutkan:

Pertama, menghambat kemajuan kualitas pendidikan dan persiapan generasi masa depan. Salah satu tujuan utama program Merdeka Belajar adalah meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Dengan tidak melanjutkan program ini, upaya peningkatan kompetensi siswa dan kualitas pengajaran akan terhambat. Kurikulum Merdeka menawarkan pendekatan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa, mendorong pembelajaran yang mendalam, pengembangan soft skills, dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila. 

Tanpa kelanjutan program ini, sistem pendidikan mungkin kembali pada model yang kaku dan seragam, di mana fokus lebih pada hafalan daripada pemahaman mendalam. Akibatnya, siswa mungkin tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk bersaing di dunia kerja dan menghadapi tantangan masa depan.

Kedua, memperlebar ketimpangan pendidikan dan memperparah ketertinggalan Indonesia di kancah global. Program Merdeka Belajar juga berperan penting dalam mengurangi ketimpangan pendidikan di Indonesia. Dengan memberikan fleksibilitas kepada sekolah dan guru untuk menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan lokal dan kemampuan siswa, program ini membantu memastikan bahwa semua siswa, termasuk yang berada di daerah terpencil, mendapatkan pendidikan yang berkualitas. 

Jika program ini dihentikan, ketimpangan pendidikan antara daerah perkotaan dan pedesaan dapat semakin melebar. Selain itu, Indonesia berisiko semakin tertinggal di kancah global karena tidak mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi dan karakter yang dibutuhkan dalam persaingan internasional.

Ketiga, membuang kesempatan emas untuk membangun sistem pendidikan yang lebih fleksibel, inovatif, dan berdaya saing. Kurikulum Merdeka telah memberikan kesempatan emas untuk menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan inovatif. Dengan pendekatan pembelajaran berbasis proyek, pengembangan soft skills, dan fokus pada kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi, kurikulum ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan cara yang lebih efektif dan relevan dengan kebutuhan zaman. 

Jika program ini tidak dilanjutkan, kesempatan untuk membangun sistem pendidikan yang adaptif, berdaya saing, dan mampu merespons perubahan cepat dalam dunia kerja akan hilang. Sistem pendidikan yang tidak inovatif dan kaku tidak akan mampu mencetak lulusan yang siap menghadapi era digital dan revolusi industri 4.0. 

***

*) Oleh : Hatib Rachmawan, Dewan Pembina Yayasan Pegiat Pendidikan Indonesia dan Dosen Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES