Kopi TIMES

Tahun Ajaran Baru, Adakah yang Baru?

Minggu, 23 Juni 2024 - 08:50 | 39.59k
Bintang Maulana Ichsan, Sosiolog.
Bintang Maulana Ichsan, Sosiolog.

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pendidikan merupakan sebuah proses yang sangat fundamental bagi kehidupan manusia. Proses ini sangat penting untuk menuntun manusia agar bisa memahami hal-hal yang ada di kehidupan. Pendidikan menjadi sebuah hak bagi setiap manusia tanpa terkecuali. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, negara wajib menjamin kesetaraan dan keadilan dalam proses pendidikan untuk warga negaranya. 

Pentingnya sebuah pendidikan bisa kita lihat dari peristiwa sejarah yang terjadi di Jepang pada 06 Agustus 1945. Saat itu, Jepang terkena bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki oleh pasukan Amerika. Pada saat itu, kondisi Jepang sangat tragis dan mengalami krisis karena terkena bom atom tersebut. Namun, kaisar Jepang saat itu, Kaisar Hirohito langsung memerintahkan bawahannya untuk mencari berapa Guru yang selamat dari peristiwa bom atom tersebut. Karena, menurut Kaisar Hirohito, melalui Guru dan pendidikan Jepang akan bisa cepat bangkit dari krisis yang dikarenakan bom atom tersebut. 

Perintah dari Kaisar Hirohito tersebut, menjadi bukti bahwa pendidikan adalah faktor yang sangat penting untuk manusia dan peradaban. Dengan perintah tersebut, dunia internasional bisa melihat betapa cepatnya Jepang bangkit dari keterpurukan. Bahkan sekarang, Jepang menjadi salah satu negara yang maju dan berpengaruh di dunia. Dari kisah ini, dapat kita ambil pelajaran bahwa betapa pentingnya pendidikan bagi manusia dan peradaban. Maka dari itu, negara mempunyai tugas wajib untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. 

Sistem pendidikan di suatu negara menjadi faktor yang sangat penting untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pemerintah seharusnya membuat sebuah sistem pendidikan yang benar-benar memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai keadilan dan nilai kesetaraan. Di Indonesia, hampir sering berubah-ubah sistem pendidikannya. Tidak ada sebuah konsep yang pasti bagaimana sistem pendidikan yang ingin diterapkan di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari setiap pergantian Menteri Pendidikan, pasti sistem pendidikannya berganti juga. Tidak ada sebuah pola ataupun konsep yang paten dari setiap Menteri Pendidikan.

Kesinambungan sebuah program seharusnya menjadi perhatian agar tercipta sebuah sistem pendidikan yang jelas tujuannya. Keadaan seperti ini jelas generasi bangsa yang sangat dirugikan. Padahal, jika kita melihat ke dunia internasional, banyak negara-negara yang lain sudah memiliki sebuah sistem pendidikan yang paten dan jelas tujuannya kemana. 

Lingkungan pendidikan di Indonesia akan memasuki tahun ajaran baru. Mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) sampai jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Lantas, adakah ada sesuatu yang baru? Atau akan tetap menggunakan pola-pola pendidikan yang lama? Pertanyaan yang sederhana ini seharusnya menjadi perhatian kita bersama. Selain itu, kita juga perlu mempertanyakan apakah kurikulum merdeka sudah diterapkan secara optimal? 

Dari pertanyaan-pertanyaan yang sederhana seperti ini, kita seharusnya benar-benar berintrospeksi apakah sistem pendidikan yang sekarang sudah berjalan sesuai cita-cita Ki Hajar Dewantara dan founding fathers bangsa Indonesia?
Kita semua menyepakati bahwa pendidikan adalah hal yang sangat fundamental dan penting bagi manusia dan peradaban. Maka dari itu, perlu keseriusan untuk membuat sebuah sistem pendidikan yang sehat. 

Pemerintah melalui Kementrian Pendidikan seharusnya membuat sebuah program jangka panjang yang berkesinambungan dan sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesetaraan. Pola-pola yang lama dan yang berbau feodal harus segera ditinggalkan. Selain itu, jangan hanya membuat sebuah program yang hanya indah sebagai jargon saja, tetapi penerapannya tidak optimal. 

Problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. Maka dari itu, perlu keseriusan untuk menyelesaikannya. Karena, seperti yang telah kita ketahui bersama. Pendidikan menjadi salah satu faktor yang sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa dan negara. Lantas apakah yang harus kita lakukan? Sangat tidak berlebihan jika kita harus menerapkan revolusi pendidikan. Revolusi pendidikan sangat perlu kita terapkan karena problem pendidikan di Indonesia sangat kompleks. 

Bukan hanya sistem pendidikan yang berubah-ubah, mental pendidik/guru juga harus kita diperhatikan. Banyak sekali pendidik/guru yang pola pemikirannya tidak open minded. Padahal, kita ketahui bersama perkembangan dunia sangatlah cepat. Jadi bagaimana jika pola pikir pendidik kita tidak terbuka? Teringat sebuah perkataan dari seorang tokoh yang bernama Soe Hok Gie, bahwa “guru bukan seorang dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau yang selalu salah”. Maka dari itu, revolusi pendidikan menjadi solusi agar terciptanya sebuah sistem pendidikan yang baik dan karakter pendidik yang berkualitas. 

***

*) Oleh : Bintang Maulana Ichsan, Sosiolog.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES