Kopi TIMES

Manfaat Sosiologis Keberlanjutan Kurikulum Merdeka

Sabtu, 29 Juni 2024 - 15:33 | 14.85k
Ikrima Maulida, Aktivis Pendidikan dan Perempuan
Ikrima Maulida, Aktivis Pendidikan dan Perempuan

TIMESINDONESIA, BALI – Perkembangan zaman tentu akan memberikan dampak di segala sektor. Salah satunya tentu sektor pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu indikator kemajuan suatu bangsa. Berbicara mengenai pendidikan, tentu tak akan lepas dari berbicara mengenai kurikulum.

Kurikulum adalah rancangan yang memuat seperangkat mata pelajaran atau materi yang akan dipelajari atau yang diajarkan pendidik kepada peserta didik. Menurut UU Nomor 20 Tahun 2003, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

Tujuan pendidikan nasional di Indonesia pada Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 mempunyai banyak tujuan. Tujuan tersebut mencakup kepentingan bangsa serta perkembangan diri dari warga negara Indonesia. Salah satu cara mencapai perkembangan diri warga negara Indonesia ialah melalui pendidikan dan kurikulum. Kurikulum yang ada hendaknya merencanakan aspek pembelajaran harus mempertimbangkan aspek sosiologis.

Pengembangan kurikulum semua landasan perlu diperhatikan dengan serius, terutama landasan sosiologis. Sudah seharusnya dalam pengembangan kurikulum aspek sosiologis jangan dianggap sepele. Landasan sosiologis dalam pengembangan kurikulum sangat dibutuhkan karena masyarakat menuntut tersedianya proses pendidikan yang relevan (Latifa, Maysa, & Arifmiboy, 2023).

Landasan Sosiologis

Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki berbagai gejala sosial, hubungan antara individu dengan individu, antar golongan, lembaga sosial yang disebut dengan ilmu masyarakat (Latifa, Maysa, & Arifmiboy, 2023). Landasan sosiologis pengembangan kurikulum merupakan asumsi-asumsi yang berasal dari sosiologis yang dijadikan acuan dalam pengembangan kurikulum.

Menurut Saputri Rima Yuni (2020), pengembangan kurikulum sebaiknya mengacu kepada aspek sosiologis dikarenakan peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari, anak selalu bergaul dengan lingkungan atau dunia sekitar. Dunia sekitar merupakan lingkungan hidup bagi manusia.

Landasan sosiologis ini merujuk pada konteks manusia sebagai makhluk sosial. Landasan ini menjadi acuan atau asumsi dalam penerapan pendidikan yang bertolak pada interaksi antar individu sebagai makhluk sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu (guru dan siswa). Guru merupakan generasi yang memungkinkan siswanya untuk mengembangkan diri.

Oleh karena itu, pengembangan kurikulum sebaiknya mengacu kepada aspek sosiologis dikarenakan peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan dalam lingkungan masyarakat, dan diarahkan agar mampu terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Karena itu, kehidupan masyarakat dan budaya dengan segala karakteristiknya harus menjadi landasan dan titik tolak dalam melaksanakan pendidikan dan pengembangan kurikulum.

Kurikulum Merdeka

Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam dengan konten yang diajarkan akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Selain itu, guru juga memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar dan minat peserta didik.

Kurikulum Merdeka memberikan banyak keleluasaan bagi guru dan siswa dalam implementasinya. Siswa akan lebih banyak aktif dan mengeksplorasi sumber belajar. Guru juga akan lebih leluasa dalam menciptakan suasana pembelajaran sehingga sesuai dengan kebutuhan siswa.

Hal ini tentu akan memiliki dampak positif. Siswa akan merasa nyaman dan semangat dalam belajar. Ini juga akan berdampak pada minat belajar siswa. Minat sangat besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, karena apabila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat, siswa tidak akan belajar dengan baik sebab tidak menarik baginya (Riwahyudin Arvi, 2015).

Angin Segar Pendidikan Indonesia

Hadirnya Kurikulum Merdeka tentu atas landasan, tidak mungkin langsung hadir saja. Kurikulum Merdeka lahir salah satunya dari landasan sosiologis untuk menjawab permasalahan pendidikan di Indonesia. Terdapat tiga pertimbangan sosiologis utama dalam Kurikulum Merdeka, yaitu terkait revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 (society 5.0), dinamika global, dan keragaman sosial masyarakat Indonesia (https://kurikulum.kemdikbud.go.id/).

Kurikulum Merdeka sebagai upaya merespons dan berkontribusi memecahkan masalah sosial melalui pendidikan. Muatan Kurikulum Merdeka terkait karakter, nilai-nilai, etos kerja, berpikir ilmiah, dan akal sehat, perlu penekanan. Dan Kurikulum Merdeka juga menekankan pentingnya desain fleksibilitas dalam penerapan pembelajaran, agar siswa mempelajari hal yang relevan terjadi di lingkungan sekitarnya dengan tetap mempromosikan perdamaian untuk isu suku, agama, ras, dan antar golongan, kesetaraan gender, dan isu kontekstual lainnya.

Kurikulum Merdeka tidak terlepas dari dinamika dan isu-isu global. Siswa dilatih sensitivitas sosialnya atas masalah yang terjadi di berbagai belahan dunia lain, termotivasi untuk belajar beragam budaya yang berbeda-beda, dan terdorong untuk berkontribusi bagi kehidupan dunia yang lebih baik. Kurikulum Merdeka juga menekankan pembelajaran yang ekologis, interkultural, dan interdisiplin untuk transformasi sosial yang lebih adil dan masa depan yang berkelanjutan.

Selain itu, pelaksanaan Kurikulum Merdeka dan muatan di dalamnya juga mengajak kolaborasi antara guru dengan orang tua dan lingkungan sekitar atau masyarakat. Sehingga tri pusat pendidikan dapat bersinergi dengan baik. Hal ini tentu akan berdampak pada kompetensi siswa.

Kurikulum Merdeka juga memberikan dasar pengetahuan, kecakapan, dan etika untuk merespons realitas revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0. Adapun kecakapan tersebut adalah kecakapan yang relevan di abad 21. Era revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 juga membutuhkan lingkungan belajar yang saling terhubung yang menginspirasi imajinasi, memicu kreativitas, dan memotivasi siswa.

Melalui berbagai kegiatan yang termuat dalam Kurikulum Merdeka, tentu yang akan termotivasi untuk menjadi pribadi yang kreatif dan inovatif tidak hanya guru melainkan siswa juga. Hal ini tentu sudah dilakukan berbagai penelitiannya dan hasilnya melalui Kurikulum Merdeka dapat meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam pembelajaran.

Karakteristik pembelajaran Kurikulum Merdeka juga memfokuskan pada peserta didik sebagai subjek belajar yang harus dilayani kebutuhan belajarnya, serta dipahami latar sosial, budaya, dan ekonominya yang beragam. Selain itu, kesadaran mengenai konteks juga hadir dalam kurikulum ini. Artinya, menempatkan konteks sebagai hal yang harus digali dari siswa dan lingkungan sekolah, terutama melalui asesmen awal.

Tujuannya agar apa yang dipelajari oleh siswa bukan sesuatu hal yang mengawang-awang, melainkan siswa dapat mengaitkannya dengan konteks kehidupan di mana mereka berada. Semangat Kurikulum Merdeka sebagai kurikulum yang kontekstual (Bolt & Swartz, 1997), yakni yang perlu diadaptasikan dalam konteks sekolah, ditunjang oleh pembelajaran kontekstual (Johnson, 2002).

Hadirnya Kurikulum Merdeka tentu menjadi angin segar Pendidikan Indonesia apalagi kalua kita telisik dari landasan sosiologis. Kurikulum Merdeka ini sebagai upaya merespons dan berkontribusi memecahkan masalah sosial melalui pendidikan ini tentu melihat dan mempertimbangkan realitas sosial sebagai hal penting yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum. 

Semua itu tentu telah masuk di dalam muatan Kurikulum Merdeka dan akan terus mengalami perkembangan sesuai dengan kebutuhan ke depannya. Namun, besar harapan Kurikulum Merdeka ini tetap dilanjutkan karena muatan Kurikulum Merdeka ini telah sesuai dengan kebutuhan bangsa Indonesia dalam menghadapi tantangan zaman.

***

*) Oleh : Ikrima Maulida, Aktivis Pendidikan dan Perempuan.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES