Kopi TIMES

Cara Cerdas menjadi Pendukung dalam Pemilu

Minggu, 30 Juni 2024 - 14:24 | 15.29k
 HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy
HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pemilihan Umum yang demokratis merupakan sarana untuk menegakkan kedaulatan rakyat dan untuk mencapai tujuan negara. Oleh karena itu Pemilihan Umum tidak boleh menyebabkan rusaknya sendi-sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemilu dipahami masyarakat sesuatu yang sangat sederhana dan tanpa tuntutan strategis yang jelas. Maka selesai pemilu kehidupan berjalan biasa biasa saja. Bahkan tidak ada tuntutan apa apa. 

Padahal kalau kita tahu makna strategis pesta demokrasi, serta hasil proses politik setelahnya (memiliki seorang pejabat politik yang kita dukung), maka kita akan memiliki pikiran yang mungkin berbeda. Artinya sebagai pendukung mestinya memiliki agenda politik dan manfaat yang ingin diraih setelah calonnya menang. 

Fenomena bagaimana mengelola dan memanfaatkan calon yang sukses menduduki jabatan politik, sehingga kita menjadi pendukung yang cerdas. Maka, dalam kesempatan ini kami ingin memberikan catatan bagaimana menjadi pendukung yang cerdas dalam pesta demokrasi atau pemilu, antara lain :

1. Setiap kompetisi politik pasti ada yang kalah dan menang, maka sebagai pendukung kita harus menyadari. Jangan sampai perbedaan dukungan politik akan menyisakan masalah dengan orang lain yang berbeda dengan calon yang kita dukung.

2. Dukung calon yang memiliki kepedulian dan perhatian, karena yang terpenting ketika kita mendukung adalah kedepan akan memberikan Support dan bantuan untuk kemajuan ekomi maupun infrastruktur.

3. Bicarakan dengan jelas dan kongkrit apa yang kita dapat ketika mendukung, karena jika tidak ada komitmen awal kita hanya sebagai kayu bakar untuk kemenangan mereka. 

4. Dukungan politik melahirkan kekuasaan, dengan kekuasaan seseorang akan bisa melakukan apa saja yang bermanfaat dengan kekuasaannya. Maka semua harus dibicarakan di awal biar jelas komitmen yang akan dia berikan.

5. Selama ini kita selalu maunya instan, padahal proses bantuan atau sejenisnya memakai prosedur. Maka kita wajib belajar agar kita bisa mengambil fasilitas yang ada. 

6. Jangan pernah meminta uang receh pada seorang calon, karena uang receh akan membuat harga diri pemilih rendah dan calon yang kita dukung akan lari dari tanggungjawab karena merasa sudah membeli suaranya.

7. Dalam politik khususnya urusan mendukung kandidat ukuran baiknya adalah, ketika seseorang bisa berbuat dan memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat setelah mereka sukses (jadi).

8. Kita harus memiliki keberanian untuk mengingatkan calon yang kita dukung, karena kalau mereka salah dan tidak sesuai aturan, kita akan malu.

9. Nafsu ketika berkuasa sering Selaras dengan nafsu serakah, karena kekuasaan melahirkan fasilitas, kekuasaan dan uang. Maka pilih yang kira kira masih memiliki hati nurani dan kepedulian agar kita tidak salah pilih.

10. Belajar melepas fanatik buta dalam dukungan politik, karena resiko ketika yang kita pilih tidak memiliki keahlian dan hati nurani, resikonya rakyat yang akan jadi korban.

11. Meminta program dalam arti luas, pada  orang yang memiliki jabatan politik lebih berarti dari pada uang receh. Karena dari sisi dampak dan manfaat jauh lebih besar. 

12. Sebagai pejabat publik, seorang anggota DPRD, DPR-RI, Bupati atau Gubernur memiliki kewajiban untuk memperjuangkan aspirasi rakyat yang diwakili sesuai dengan amanat UU.

13. Rakyat (Pendukung) memiliki hak untuk mendapatkan anggaran untuk mencapai kesejahteraan hidup sebagaimana amanat UU.

14. Pendukung harus cerdas dengan berperan aktif untuk melakukan komunikasi dengan pejabat terpilih agar terjalin kerja sama untuk mempercepat keberdayaan pribadi dan penyikapan problematika masyarakat.

Demikian catatan sederhana yang mencerahkan, semoga semua orang bisa memahami besarnya manfaat politik dan kekuasaan untuk kesejahteraan rakyat. Untuk wakil rakyat atau pejabat publik lainnya harus sadar, bahwa amanat adalah sebuah kewajiban yang kelak nanti  akan mintai pertanggungjawaban. 

Allah akan menyelamatkan pejabat yang baik dan manfaat karena dia sama dengan berjuang di jalan Allah. (*)

***

*) Oleh : HM Basori M.Si, Direktur Sekolah Perubahan, Training, Research, Consulting, and Advocasy.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

*) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES