Kopi TIMES

Mudik: Menenun Kembali Jalinan Budaya, Pendidikan, dan Seni

Kamis, 03 April 2025 - 09:06 | 22.29k
Triyo Supriyatno, Guru Besar UIN Maliki Malang.
Triyo Supriyatno, Guru Besar UIN Maliki Malang.
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MALANG – Setiap tahun, jutaan masyarakat urban berbondong-bondong kembali ke kampung halaman dalam ritual tahunan yang kita kenal sebagai mudik. Fenomena ini bukan sekadar pergerakan manusia dari kota ke desa, tetapi juga representasi dari akar budaya yang terus hidup, warisan pendidikan informal, dan seni yang mengakar dalam kehidupan masyarakat.

Mudik sebagai Perekat Sosial

Dari perspektif sosiologis, mudik adalah fenomena yang memperkuat kohesi sosial. Mudik menciptakan kesempatan bagi individu untuk memperbarui hubungan sosial dengan keluarga dan komunitas asal. Interaksi ini memperkuat solidaritas mekanik, sebagaimana dikemukakan oleh Émile Durkheim, yang terjadi dalam masyarakat tradisional berbasis kesamaan nilai dan norma.

Advertisement

Selain itu, mudik juga menjadi mekanisme reintegration bagi individu yang merantau. Dalam konteks teori fungsionalisme, mudik membantu menjaga keseimbangan sosial dengan menghubungkan kembali masyarakat urban dengan komunitas asalnya. Kegiatan ini juga memperlihatkan adanya mobilitas sosial, baik secara ekonomi maupun status sosial, yang dapat mempengaruhi dinamika sosial di daerah asal.

Dari perspektif konflik sosial, mudik juga mencerminkan disparitas ekonomi antara kota dan desa. Banyak perantau yang pulang dengan kondisi ekonomi lebih baik, yang dapat menciptakan kesenjangan sosial baru atau justru menjadi inspirasi bagi masyarakat di kampung halaman untuk merantau dan meningkatkan taraf hidup.

Mudik sebagai Ritual Budaya

Dalam kajian antropologi, mudik dapat dilihat sebagai ritual peralihan (rite of passage) yang menghubungkan dua fase kehidupan: kehidupan di perantauan dan kehidupan di kampung halaman. Konsep ini mirip dengan gagasan Arnold van Gennep tentang ritual transisi, di mana individu mengalami perubahan peran sosial selama periode mudik.

Selain itu, mudik juga menjadi bentuk preservasi budaya. Dalam perjalanan pulang, banyak perantau yang kembali berinteraksi dengan adat istiadat lokal, bahasa daerah, serta tradisi yang mungkin jarang mereka praktikkan di kota. Ini menunjukkan bagaimana mudik menjadi sarana transmisi budaya antar-generasi, menjaga keberlangsungan identitas kultural.

Dari perspektif antropologi ekonomi, mudik juga berkontribusi pada ekonomi lokal melalui redistribusi ekonomi. Perantau yang pulang membawa uang dan membelanjakannya di kampung halaman, menciptakan siklus ekonomi musiman yang menguntungkan bagi daerah asal.

Pendidikan dari Perjalanan Mudik

Mudik adalah momen pembelajaran yang tak tertulis dalam kurikulum sekolah. Anak-anak yang lahir dan tumbuh di kota mendapatkan pengalaman berharga saat berinteraksi dengan kehidupan di kampung halaman. Mereka belajar tentang kearifan lokal, gotong royong, dan filosofi hidup sederhana. Interaksi dengan kakek-nenek, sanak saudara, dan tetangga di desa membuka cakrawala baru, mengajarkan mereka tentang pentingnya silaturahmi dan nilai kekeluargaan.

Selain itu, perjalanan panjang menuju kampung halaman sendiri menjadi sarana pendidikan tersendiri. Anak-anak diajak untuk memahami geografi, transportasi, dan ketahanan mental dalam menghadapi perjalanan yang sering kali tidak mudah. Inilah bentuk pendidikan karakter yang terjadi secara alamiah di luar kelas.

Mudik dan Revitalisasi Budaya

Mudik juga menjadi momen revitalisasi budaya. Dalam perjalanan pulang, banyak keluarga yang mengenalkan kembali adat istiadat kampung halaman kepada anak-anak mereka. Mulai dari bahasa daerah, kuliner khas, hingga upacara tradisional yang masih lestari.

Misalnya, di Jawa, anak-anak diajak mengenal tradisi sungkeman sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua. Di Minangkabau, mereka diperkenalkan dengan adat makan bajamba, yang mengajarkan nilai kebersamaan. Hal ini memperkuat identitas budaya yang rentan terkikis oleh modernisasi.

Lebih dari itu, mudik juga menjadi ajang pertukaran budaya. Warga yang kembali dari kota membawa kebiasaan dan inovasi baru yang kemudian berdialog dengan tradisi yang ada. Inilah yang membuat kebudayaan terus berkembang tanpa kehilangan akarnya.

Seni dalam Tradisi Mudik

Tak dapat disangkal, mudik juga berkontribusi dalam keberlangsungan seni lokal. Banyak perantau yang kembali menghidupkan keseniannya, baik dalam bentuk pertunjukan maupun perayaan lokal. Misalnya, di beberapa daerah, mudik menjadi momentum untuk mengadakan pertunjukan wayang, tari tradisional, atau seni musik khas daerah.

Bagi seniman lokal, momen ini adalah panggung untuk menunjukkan eksistensi mereka. Pagelaran seni saat Lebaran sering kali menjadi medium untuk mempertahankan keberlanjutan tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dari sinilah muncul sinergi antara masyarakat perantauan dan komunitas seni lokal.

Menjaga Esensi Mudik

Di tengah modernisasi dan arus digitalisasi, makna mudik harus tetap dijaga. Bukan sekadar ritual tahunan yang bersifat fisik, tetapi juga ruang edukasi, pelestarian budaya, dan apresiasi seni. Mudik seharusnya bukan hanya tentang pulang, tetapi juga tentang kembali memahami akar budaya dan nilai-nilai yang membentuk jati diri.

Dengan demikian, setiap kali kita menempuh perjalanan mudik, kita tidak hanya membawa koper berisi pakaian dan oleh-oleh, tetapi juga mengemas kembali nilai-nilai luhur yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena sejatinya, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual dan intelektual dalam menenun kembali jalinan budaya, pendidikan, dan seni.

***

*) Oleh: Triyo Supriyatno, Guru Besar UIN Maliki Malang.

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES