Kopi TIMES

Menghidupkan Kembali Evaluasi Pendidikan Nasional

Jumat, 04 Juli 2025 - 10:48 | 5.94k
An-Najmi Fikri R, Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
An-Najmi Fikri R, Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu.
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, BENGKULU – Evaluasi menjadi satu instrumen penting bagi berjalannya suatu program, baik itu program pendidikan, pembelajaran, ataupun pelatihan. Didunia pendidikan, proses evaluasi menjadi istilah yang tidak asing, terutama bagi pendidik. 

Pada hakikatnya, evaluasi adalah proses pengukuran dan penilaian terhadap suatu pembelajaran di mana pendidik mengukur atau menilai hasil pembelajaran peserta didik.

Advertisement

Ina Magdalena (2020), fungsi evaluasi selain untuk mengukur pencapaian tujuan pembelajaran, juga berperan aktif dalam menilai keterlibatan siswa selama proses pembelajaran. Hal ini tentu akan membantu guru mengidentifikasi strategi yang dapat meningkatkan partisipasi siswa.

Tidak hanya dilakukan seusai pembelajaran berlangsung, dalam pendidikan evaluasi diujung jenjang akademik juga diterapkan. Tentu kita mengenal Ujian Nasional (UN), salah satu instrumen evaluasi yang dilakukan sebagai bahan pertimbangan kelulusan peserta didik di berbagai tingkat.

Abdul Mu’ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa sebelumnya evaluasi seperti tes akhir jenjang kerap dinilai sebagai sumber stres bagi siswa. Merespon hal tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meluncurkan kebijakan baru mengenai evaluasi pendidikan di akhir jenjang yakni Tes Kompetensi Akademik (TKA).

Mengingat pernyataan perihal tes akhir jenjang, maka TKA didesain bagi siswa yang memang ingin mengikuti. Sehingga tes ini tidak bersifat wajib. Meski demikian, tes ini dihadirkan sebagai bentuk penambahan nilai individual. 

Mengenal Kebijakan TKA

Dalam perbincangan mengenai akuntabilitas serta kesetaraan akses pendidikan bagi semua kalangan, maka kebijakan Kemendikdasmen mengenai TKA memang perlu diperhatikan secara serius. 

Berdasar penjelasan bahwa TKA didesain hanya bagi siswa yang siap mengikuti, maka sifat dari TKA adalah opsional. Meski demikian, pelaksanaannya menjadi suatu hal yang tentu ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, terutama kualitas lulusan.

TKA hadir sebagai layanan dari pemerintah untuk membantu lembaga pendidikan, guru dan sekolah dalam memperoleh informasi mengenai capaian pembelajaran peserta didik dengan lebih terstandar. Bukan menggantikan sistem yang ada, justru TKA hadir sebagai pelengkap serta penguat sistem yang sudah ada.

Jika sebelumnya evaluasi terdiri dari uji secara makro melalui asesmen nasional dan uji secara mikro melalui asesmen harian, TKA tidak hadir untuk menyingkirkan keduanya. Justru TKA dapat berjalan berdampingan tanpa menghilangkan fungsi, peran dan ruang evaluasi sebelumnya. 

Hal yang lebih penting dipahami juga bahwa TKA tidak merenggut kekuasaan guru dalam menilai peserta didik. Justru sebaliknya, TKA akan menghadirkan penilaian yang nantinya dapat dijadikan pertimbangan pendidik maupun lembaga sekolah.

Lebih jauh lagi, TKA secara tidak langsung telah mengentaskan pendidikan dari jurang ketidakadilan akses. Sebab, jika selama ini nilai rapor menjadi tolak ukur diterima di jenjang pendidikan selanjutnya, bukankah nilai 80 satu sekolah dengan sekolah lainnya berbeda. 

Nantinya, kasus seperti ini akan memungkinkan jenjang lanjutan kesulitan dalam menilai secara objektif hasil peringkatan, apalagi ditingkat Perguruan Tinggi. 

Kemdikdasmen merespon tantangan ini dengan menyediakan layanan instrumen yang bersifat nasional. Menurut PERMEN Dikdasmen No. 9 tahun 2005, hasil dari TKA akan memberikan gambaran nilai yang lebih terstandar yang bisa dijadikan pertimbangan oleh jenjang pendidikan lanjutan dalam menerima peserta didik. 

Guru dan sekolah juga tetap memiliki keleluasaan dalam memberikan asesmen kepada peserta didik, sebab TKA tidak sama dengan UN yang menjadi hakim kelulusan peserta didik. TKA memberikan gambaran objektif bagi sekolah dalam mengevaluasi kualitas ujian dan pembelajarannya.

Inisiatif Meningkatkan Kualiatas

Kehadiran TKA merupakan inisiatif Kemendikdasmen dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Menghidupkan kembali evaluasi berstandar nasional diharapkan dapat melengkapi ekosistem pendidikan yang lebih baik efektif. 

Mengingat program ini penting bagi kelangsungan pendidikan ke depan, perlu perencanaan yang matang agar memudahkan proses implementasinya. 

Menunjang keberhasilan TKA terutama pada pelaksanaan ditingkat bawah, perlu disosialisasikan secara masif dan juga melakukan pemetaan kurikulum yang berlaku. 

Kita memahami secara umum TKA adalah untuk menjadikan atmosfir pendidikan lebih merata dan setara bagi semua pihak dan kalangan. 

Tetapi jika pendekatan pembelajaran antar lembaga pendidikan berbeda secara konten dan materi, maka dikhawatirkan pada pelaksanaan TKA tetap akan ada ketimpangan.

Sebagus dan sebaik apapun kebijakan pemerintah, jika tidak didukung dengan kerja sama yang baik antar semua stakeholder terkait, maka gagasan cemerlang ini hanya akan menjadi angin segar yang sebentar dirasakan. 

Oleh karenanya, semua pihak perlu berjalan beriringan dalam mewujudkan program ini demi peningkatan kualitas pendidikan.

***

*) Oleh : An-Najmi Fikri R, Dosen Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES