Kuliner

Ketika Aroma Kopi Bertemu Anggur, Begini Cita Rasa Menggoda dari Kopi Wine Banyuwangi

Rabu, 08 Maret 2023 - 05:54 | 40.96k
Proses pengeringan setelah pencucian cheri kopi hasil petik merah kebun kopi rakyat Gombengsari. (Foto: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Proses pengeringan setelah pencucian cheri kopi hasil petik merah kebun kopi rakyat Gombengsari. (Foto: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Benar adanya jika kenikmatan cita rasa kopi memang membutuhkan kualitas. Itulah yang diterapkan oleh petani kopi sekaligus pembuat kopi wine asal kelurahan Gombengsari, Banyuwangi, Sahnawi.

Dengan teknik dan tangan terampilnya dalam meracik, ia mampu memunculkan minuman dengan cita rasa dan aroma khas wine anggur dari biji kopi.

Advertisement

Seperti selayaknya wine. Kopi wine punya nama lain yaitu Fermented Coffee. Disebut demikian karena sebelum dijadikan Grean Bean (Biji kopi), cheri kopi ini mengalami proses fermentasi.

"Setiap jenis kopi memiliki cita rasanya masing-masing, bagaimana selera penikmat kopi memilih jenis kopi kesukaanya," jelas pembuat kopi wine, Sahnawi, Selasa, (07/03/2023).

Seperti saja kopi wine jenis Arabika. Aroma anggur tercium saat diseduh dengan air panas, rasa manis sedikit masam kopi ini sangat cocok bagi pecinta kopi dengan cita rasa strong dalam satu tegukan. Begitu pula wine kopi Excelsa, meski sedikit dari pecinta kopi Indonesia yang minum varietas dari Kopi Liberika tersebut.

Kopi-Wine-2.jpgSahnawi, pembuat kopi wine di Gombengsari sedang berada di Coffe Shop miliknya Triskele Kahyangan Coffee dengan menunjukan fermentasi kopi. (Foto: Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

Namun sebelum disruput aroma durian tajam tercium harum, dengan rasa dominan pahit sedikit masam, manis dan sepat seperti rasa buah membuat kopi wine Excelsa banyak digemari pecinta kopi di Jepang.

"Saya biasa kirim kopi wine ke Jepang dengan varietas paling laku yaitu kopi wine Arabika dan Excelsa dengan harga tinggi," ucapnya

Untuk jenis kopi wine Robusta sendiri memiliki rasa pahit dengan sedikit rasa anggur. Jenis wine Robusta kurang banyak digemari karena aroma dan rasa tidak terlalu kuat, oleh sebab itu kopi wine jenis Robusta memiliki harga jual rendah.

"Perkilo biji kopi wine jenis Arabika dan Excelsa yang telah di roasting dihargai Rp1Juta dan untuk Kopi Wine jenis Robusta Rp400.000 untuk pesanan luar kota dan negeri," ucapnya.

"Dan untuk lokal di Banyuwangi biji kopi wine Arabika dan Excelsa saya jual Rp600ribu hingga Rp500ribu yang diambil hampir seluruh Coffe Shop Banyuwangi," imbuh Sahnawi.

Proses pembuatan kopi wine di Gombengsari

Dibutuhkan ketelatenan tinggi dalam proses pembuatan kopi wine karena jika salah sedikit bisa membuat kopi gagal fermentasi bahkan bisa membuat biji kopi menghasilkan racun.

Diawali dengan mencuci cheri kopi hasil petik merah petani Gombengsari, setalah itu dicuci proses dilanjutkan pengeringan dengan cara dijemur selama setengah hari bila cuaca sedang panas, untuk sedikit mengurangi kadar air dalam kulit kopi. Dalam tahap ini harus benar-benar bersih dan tidak ada sedikitpun kotoran masuk yang bisa menyebabkan bakteri berupa jamur.

Setelah kering, tahap selanjutnya ialah fermentasi. Dengan cara membungkus cheri kopi dalam plastik dengan kedap udara, proses ini membutuhkan waktu sekitar 41 hari, dengan skala pengecekan seminggu sekali untuk memastikan kopi tidak menggumpal dan terjadi gagal fermentasi. Tahap ini menjadi riskan bila dilakukan lebih dari 41 hari karena tanin yang keluar memunculkan racun berupa Sianida dan Arsenik.

Kopi-Wine-3.jpgHasil fermentasi cheri kopi selama 6 hari yang telah mengeluarkan aroma anggur. (Foto: Anggara Cahya /TIMES Indonesia)

"Dalam seminggu itu biasanya aroma wine anggur sudah muncul dan warna sudah memudar, apabila tidak menggumpal menandakan fermentasi kopi berhasil," katanya.

Pas 41 hari, proses selanjutnya dikeringkan kembali memastikan kadar air sudah sepenuhnya hilang. Setalahnya cheri kopi dikupas diambil grean bean, proses berikutnya adalah roasting biji kopi. Proses ini juga menentukan pas atau tidaknga rasa dan aroma yang muncul, bila terlalu lama membuat rasa pahit kuat dengan aroma sedikit memudar dan apabila kurang pun menjadikan kopi memiliki rasa sepat beraroma kurang sedap.

"Rasa kopi tergantung bagaimana seseorang meracik dalam melakukan roasting biji kopi tersebut," tegasnya.

Sahnawi sendiri sudah berkelut didunia kopi sedari kecil. Namun ia mempelajari kopi wine tahun 2018 dari rekanya yang berasal dari China dan membuat kopi dengan aroma madu atau Honey procces.

Selain membuat kopi, Sahnawi juga memiliki usaha coffe shop dan brand kopinya sendiri diberi nama Triskele Kahyangan Coffee yang terletak di Lingkungan Gombeng, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Mulai dari produk kopi wine, kopi luwak, kopi lanang dari ketiga jenis kopi, dapat dinikmati sembari merasakan kesejukan dan keasrian kebun kopi rakyat seluas 700Hektare rendah pestisida di Coffe shop milik pak Sahnawi tersebut. Keorganikan dan alam yang masih asri tersebutlah membuat cita rasa kopi hasil kebun rakyat memiliki kekhasan tersendiri.

Penikmat kopi juga bisa memesan kopi asli Gombengsari tanpa harus datang langsung ketempat, karena Sahnawi juga membuat produk dalam bentuk kemasan berisi 300Gram kopi yang ia hargai mulai dari Rp30.000 hingga Rp100.000 tergantung dari produk kopi yang akan dipesan.

Lengkap sudah hidup meneguk kopi wine dan menengok alam, memadu dalam sebuah rasa keindahan serta kenikmatan dalam satu waktu. (*)

Pewarta: Anggara Cahya

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES