
TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Kue Nastar selalu tersaji di atas meja ruang tamu saat lebaran. Pun demikian dengan lebaran 2023. Tak berlebihan jika kue Nastar jadi andalan.
Kue ini bentuknya mungil, berwarna kuning keemasan, bertekstur lembut dengan rasa manis gurih.
Advertisement
Ketika lebaran tiba, kue berbentuk bulat ini tak sulit ditemui. Hampir di setiap rumah. Bahkan saat sonjo -silaturahmi lebaran dalam bahasa Jawa-, yang dicari adalah kue Nastar.
Sebenarnya apa sih istimewanya kue satu ini?
Kue Nastar merupakan salah satu kue yang berasal dari negeri Belanda. Namanya pun berasal dari kata nanas dan tart atau tar nanas. Gabungan dari dua kata tersebut akhirnya menjadi Nastar.
Dalam bahasa Belanda, nama Nastar disebut nastaart yang berarti kue nanas. Sedangkan dalam bahasa Inggris disebut Pineapple Tarts, atau Pineapple Nastar Roll. Tapi di Eropa, kue tersebut banyak tersaji saat Nata.
Masyarakat Tionghoa pun juga mengenal kue tersebut. Namun menggunakan punya nama lain yakni Ong Lai yang berarti buah pir emas. Kue tersebut melambangkan datangnya kemakmuran, keberuntungan dan rezeki.
Dalam proses pembuatannya, kue Nastar terbuat dari campuran adonan tepung terigu, mentega, gula, dan telur. Saat sudah jadi, biasanya terdapat tambahan cengkih atau kismis di atasnya.
Pada awalnya, resep kue Nastar terinspirasi dari kue pie khas Eropa. kue pie ala Eropa itu dibuat dalam satu loyang besar berisi selai stroberi, blueberry, atau apel. Namun, karena buah-buahan itu sulit didapatkan di Indonesia, maka isian pie diganti dengan nanas rasa manis.
Sebenarnya, kue Nastar tidak hanya identik saat lebaran, Natal, atau perayaan tahun baru. Kue Nastar juga kerap menjadi hidangan perayaan Imlek. Sebab kue tersebut melambangkan keberuntungan.
Saat ini, kue Nastar dijual di toko roti, toko kue, dan swalayan dalam kemasan beragam. Karenanya, mencari kue Nastar di momen lebaran 2023 tidak akan sulit. Selamat lebaran. Selamat menikmati kue Nastar. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Muhammad Iqbal |
Publisher | : Lucky Setyo Hendrawan |