Advertisement
Kuliner

Merawat Silaturahmi Melalui Tradisi Jenang Suro 1 Muharram

Siapa yang tidak kenal dengan jenang suro atau bubur suro. Jenang yang dibikin khusus pada awal Maharram ini kerap ditemui, khusunya di Kota Probolinggo, Jawa Timur. ... ...

TIMES Indonesia,
Merawat Silaturahmi Melalui Tradisi Jenang Suro 1 Muharram
Farda, cucu dari Sulika menunjukkan jenang suro hasil buatannya. (FOTO: Rizky Putra Dinasti TIMES Indonesia)
A-AA+

PROBOLINGGO Siapa yang tidak kenal dengan jenang suro atau bubur suro. Jenang yang dibikin khusus pada awal Maharram ini kerap ditemui, khusunya di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Tradisi yang telah berlangsung secara turun temurun ini terus dijaga lantaran memiliki filosofi yang kuat.

Seperti yang disampaikan oleh Sulika, perempuan 60 tahun asal Kelurahan Sukabumi, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolingo. Menurutnya, tradisi pembuatan jenang satu suro ini sudah ia lakukan turun temurun. Bahkan sudah lebih dari tiga generasi. 

Advertisement

Jenang yang identik dengan bubur putih yang terbuat dari beras dengan taburan kacang, serta potongan telur dan daging ayam ini, memiliki makna atau filosofi tersendiri. “Pembuatan jenang suro ini sudah turun temurun dibuat pada momen 1 muharram mas,” imbuhnya.

Jenang-Suro-1.jpg
Jenang suro buatan Sulika, warga Kota Probolinggo. (FOTO: Rizky Putra Dinasti/TIMES Indonesia)

Sulika menjelaskan, jika jenang suro ini dibuat untuk dimakan bersama sebagai bentuk menjaga silaturahmi antar sesama.

“Jadi biasanya buat ramai-ramai. Ada yang diantar ke masjid ada pula yang diantar ke tetangga sekitar mas. Hal ini sebagai simbol untuk terus menjaga silaturahmi, serta kerukunan antar sesama,” tutur Sulika.

Sulika berharap, agar ia diberikan umur yang panjang dan mempunyai kesempatan bertemu lagi dengan 1 muharram tahun depan. Sehingga bisa membuat jenang suro dan bersilaturahmi lagi dengan sesama. 

Advertisement

“Tradisi ini jangan sampai luntur. Bahkan saya juga sudah ajarkan kepada anak dan cucu saya. Saya libatkan dalam pembuatannya. Harapannya, kelak ketika saya sudah meninggal, tradisi ini tetap bisa dipertahankan,” tandas perempuan kelahiran Kota Probolinggo itu. (*)

Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

Ryan H
PenulisRyan HJurnalis yang meliput, peristiwa, politik, hukum, pemerintahan, seni, budaya, hingga isu-isu nasional.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp TIMES Indonesia