Kuliner

Mengintip Lezatnya Nian Gao Buatan Ny Lioe di Tasikmalaya

Sabtu, 10 Februari 2024 - 13:39 | 31.85k
Ratusan kue keranjang /Nian Gao buatan Ny. Lioe siap diberi label dan dikemas untuk dipajang di kiosnya Jalan Sukawarni No. 72, Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Ratusan kue keranjang /Nian Gao buatan Ny. Lioe siap diberi label dan dikemas untuk dipajang di kiosnya Jalan Sukawarni No. 72, Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Perayaan Imlek serasa tak lengkap rasanya tanpa kehadiran kue keranjang, yang juga dikenal sebagai "Nian Gao". Kue tradisional yang terbuat dari tepung ketan dan gula ini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan tahun baru Imlek bagi masyarakat Tionghoa.

Tidak hanya sebagai hidangan lezat, tetapi juga sebagai simbol keberuntungan dan harapan untuk tahun yang baru. Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, menjadi salah satu tempat di mana industri rumahan legendaris telah memproduksi kue keranjang sejak era 1960-an.

Di sini, masyarakat lokal akrab menyebutnya dengan sebutan "Kue Jawadah Korang". Diperkirakan, kue keranjang awalnya dibuat sebagai persembahan kepada Dewa Dapur, sebagai bagian dari ritual tradisional yang diyakini akan membawa keberuntungan bagi rumah tangga.

Menurut Ny. Lioe, seorang warga Kota Tasikmalaya yang telah mewarisi usaha pembuatan kue keranjang dari neneknya sejak puluhan tahun yang lalu, mengatakan bahwa kue ini telah menjadi bagian dari warisan keluarga mereka.

Tumpukan-kue-keranjang.jpg

"Wah sudah lama sekali, usaha kue keranjang ini merupakan warisan nenek saya sejak tahun enam puluhan," ungkapnya kepada TIMES Indonesia di kiosnya Jalan Sukawarni No. 72, Cihideung, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Sabtu (10/2/2024)    

Ny. Lioe dan putrinya hanya memproduksi kue keranjang menjelang perayaan Imlek, yang jatuh setiap tahunnya. Ny. Lioe mengatakan bahwa dalam proses pembuatan kue ini membutuhkan ketelatenan dan kesabaran yang tinggi. Dari memilih bahan baku yang terbaik hingga proses memasak yang memakan waktu, semuanya dilakukan dengan cermat untuk menghasilkan kualitas kue yang maksimal.

"Dibutuhkan waktu sekitar 13 jam untuk menghasilkan cita rasa yang lezat dari kue keranjang ini. Bahannya juga harus dari ketan yang berkualitas dan dimasak dengan tekun," tambahnya.

Ny. Lioe juga menyatakan bahwa menjelang perayaan Imlek, permintaan akan kue keranjang dari pelanggan setianya selalu meningkat. Tidak hanya dari kalangan etnis Tionghoa, tetapi juga dari warga pribumi yang tertarik untuk mencicipi kelezatan kue ini dan berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan kerabat mereka.

Dengan tradisi yang kaya akan makna dan cita rasa yang menggugah selera, kue keranjang terus menjadi salah satu ikon tak terpisahkan dari perayaan Imlek di seluruh dunia. Sebuah warisan budaya yang terus hidup dan menjadi pengikat antargenerasi dalam merayakan kebersamaan dan harapan akan masa depan yang lebih baik. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES