Kuliner

Kisah Sukses Baso Mas Wiji, Kuliner Legendaris di Tasikmalaya

Sabtu, 25 Mei 2024 - 10:21 | 75.14k
Baso Mas Wiji kudapan yang mengunggah selera  selalu menjadi buruan penikmat kuliner di Tasikmalaya, foto diambil Jumat (24/5/2924) malam (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Baso Mas Wiji kudapan yang mengunggah selera  selalu menjadi buruan penikmat kuliner di Tasikmalaya, foto diambil Jumat (24/5/2924) malam (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Tasikmalaya dikenal sebagai Kota Seribu Bukit, tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau tetapi juga menjadi destinasi kuliner yang memikat para pencinta makanan. 

Di tengah hiruk-pikuk kota ini, baso menjadi kuliner yang sangat ikonik, dan ratusan pedagang menawarkan berbagai resep baso yang menggugah selera. Namun, satu nama yang selalu diingat adalah Baso Mas Wiji.

Baso Mas Wiji yang berada di Jalan Rumah Sakit Umum telah menjadi ikon kuliner legendaris di Tasikmalaya. Kisah suksesnya dimulai dari Wiji Wignyo Diharjo, yang akrab disapa Mas Wiji. Lahir pada Maret 1955 di Wonogiri, Mas Wiji merantau ke Tasikmalaya pada 1972.

“Saya mulai datang ke Tasik pada tahun 1972. Waktu itu saya mengikuti jejak usaha Uwa (pakde) yang lebih dahulu usaha baso,” ungkap Mas Wiji kepada TIMES Indonesia pada Jumat (24/5/2024) malam.

Awalnya, Mas Wiji tidak langsung berjualan baso. Ia bekerja sebagai juru antar dan tukang cuci mangkok untuk pakdenya yang berjualan baso keliling menggunakan roda. Dari pengalaman ini, Mas Wiji belajar seluk-beluk bisnis baso dan mulai meracik resepnya sendiri yang kini terkenal dengan kerenyahan dan kelezatannya.

Baso-Mas-Wiji-2.jpg

Empat tahun menjalin usaha dengan pakdenya, Mas Wiji memberanikan diri untuk mandiri. Ia mengontrak sebuah rumah di Kampung Karoeng, Kelurahan Empangsari, dan membuka kedai baso di Jalan Tanuwijaya, tepat di samping Dinas Kesehatan yang tidak jauh dari kontrakannya.

"Tahun 1976, saya ngontrak di Kampung Karoeng, dengan menggunakan roda dan membuat saung dengan seng saya berjualan di pinggir kantor. Selepas kantor bubar, barulah saya berkeliling ke Kampung Gunung Awi, Bebedahan, dan sekitarnya," kenangnya.

Pada 1977, Mas Wiji menikah dengan gadis pujaanya bernama Ginem. Saat itu usaha baso belum begitu ramai, ia mengaku  pernah tergoda oleh harga daging sapi murah di Kupang, ia sempat berjualan baso di sana. Namun, setelah dua tahun, ia kembali ke Tasikmalaya dan fokus mengembangkan usahanya.

Dari tahun ke tahun, usaha Baso Mas Wiji semakin dikenal dan merangkak maju. Kedainya selalu ramai dipadati pengunjung yang ingin merasakan kelezatan baso yang berbeda dari biasanya.

Bahkan untuk memenuhi langganannya, Mas Wiji bersama istrinya bisa menggiling daging sapi sekitar 150-200 kg setiap harinya.

Apalagi beberapa hari selepas hari Raya Idul Fitri atau hari libur pengunjung Baso Mas Wiji dipastikan membludak bahkan parkiran pengunjung pun tak heran membuat jalur jadi menjadi macet, hingga akhirnya Mas Wiji berhasil  membangun dan menata toko yang dibeli dari hasil perjuangannya.

“Masih ingat saya nyari sewaan naik sepeda dan jam 21.00 menemukan lahan sewaan yang kini jadi toko baso sekarang,” kenangnya.

Seiring perjalanan waktu pada 1997, Mas Wiji kembali berhasil membeli sebuah ruko di Jalan Siliwangi yang dijadikan cabang kedua toko basonya.

Baso Mas Wiji: Ikon Kuliner Tasikmalaya

Kelezatan dan kerenyahan baso buatan Mas Wiji telah menghantarkan namanya dikenal luas, tidak hanya di kalangan warga Tasikmalaya tetapi juga oleh para pelancong dari berbagai kota di Jawa Barat, bahkan hingga Ibukota Jakarta. Setiap hari, warung Baso Mas Wiji selalu ramai oleh pengunjung yang ingin menikmati kelezatan baso yang legendaris ini.

Baso-Mas-Wiji-3.jpg

Baso Mas Wiji bukan sekadar kuliner, tetapi sebuah simbol ketekunan dan semangat juang dalam meraih kesuksesan. Kisah Mas Wiji adalah inspirasi bagi banyak orang bahwa dengan kerja keras dan dedikasi, segala impian bisa terwujud.

Bagi siapa saja yang berkunjung ke Tasikmalaya, jangan lupa untuk mencicipi Baso Mas Wiji dan menikmati kelezatan yang telah melegenda. 

Kota Seribu Bukit ini memang menyimpan sejuta pesona, dan baso adalah salah satu permata yang tidak boleh dilewatkan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES