Kuliner

Tradisi Menu Sayur Klingking Rebung dari Desa Kebobang Wonosari, Sajian Tamu saat Lebaran

Rabu, 02 April 2025 - 09:37 | 18.01k
Faryani, pembuat olahan klingking, dari Dukuh Lohpawon Desa Kebobang Wonosari, Kabupaten Malang, yang jadi tradisi hidangan lebaran masyarakat setempat. (Foto: Amin/TIMES Indonesia)
Faryani, pembuat olahan klingking, dari Dukuh Lohpawon Desa Kebobang Wonosari, Kabupaten Malang, yang jadi tradisi hidangan lebaran masyarakat setempat. (Foto: Amin/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MALANGKuliner tradisional yang khas menyertai tradisi masyarakat di bulan puasa Ramadan dan selama lebaran. Salah satunya, menu masakan klingking rebung atau daging bambu muda, yang dimasak menjadi sajian makanan khas.

Masakan klingking yang menjadi tradisi turun temurun ini ada pada masyarakat Dukuh Lohpawon, Desa Kebobang Wonosari, Kabupaten Malang. 

Advertisement

Seperti diterangkan Bu Faryani, pengerajin olahan klingking, yang merupakan warga asli Dukuh Lohpawon Desa Kebobang Wonosari, rebung klingking harus dikeringkan terlebih dahulu beberapa hari, sebelum bisa dihidangkan menjadi makanan. 

Oleh masyarakat setempat, olahan klingking dari rebung daging bambu ini umumnya dimasak pedas, misal jadi menu sayur pedas sama ayam kampung.

"Olahan klingking ini biasanya disajikan kalau pas lebaran, itu pasti tiap rumah ada. Di sini kan banyak yang produksi. Lainnya nggak ada juga sih, daerah sekitar sini," terang Faryani, saat dikunjungi TIMES Indonesia, belum lama ini. 

Menu-6.jpg

Menurutnya, untuk bahan masakan rebung bahan klingking, biasanya didapat di kebun-kebun milik warga sekitar perkampungan setempat. 

Proses membuat klingking menjadi masakan khas olahan untuk hidangan tamu lebaran ini boleh dibilang cukup rumit. Karena, rebung klingking terkadang butuh beberapa minggu sampai betul-betul kering. 

"Nah, ini rebung yang biasa itu direbus dulu, habis direbus terus dijemur, diirisin terus dijemur sampai kering," terangnya. 

Jika tidak panas untuk penjemuran, pengeringan harus dilakukan dengan cara dipanggang di atas api atau diasap. 

"Jadi kan rasa panggangannya ini khas, kalau kurang kering ya dijemur. Di panggang berhari-hari, kadang hingga satu minggu. Nah, rebung di panggang di atas asap ini yang disebut di desa kami klingking," kata Faryani. 

Untuk pengolahan menjadi sayur klingking, lanjutnya, caranya harus direndam dulu semalaman. Habis direndam, besoknya direbus sampai mekar. Sehingga, nanti tekstur daging klingkingnya tebal dan lebih empuk.

Faryani menambahkan, bahan klingking sendiri juga bisa dijualnya, saat asa permintaan peminat. 

"Kadang mereka pesan dulu, karena bahan klingkin ini musiman. Kalau nggak musim, ya nggak ada. Makanya kadang harus ada stok. Kalau musim penghujan gini, kan mereka mencari banyak-banyak. Kita bisa carikan, terus disetok di sini," terangnya. 

Rata-rata pembelinya, dari masyarakat sekitar Desa Kebobang, namun ada yang dari luar kota bahkan luar negeri.

Bahkan, masyarakat yang sedang merantau sampai ke Hongkong bahkan terkadang minta sayur olahan klingking untuk dikirim ke sana.

Menu-7.jpg

Harga rebung yang dijualnya bergantung musim. Biasanya, ketika awal-awal tumbuh harganya mahal, sampai Rp10.000 per kilogram. Akan tetapi, kalau sudah banyak stok atau pas musim, itu paling Rp4.000 per kilogram. 

"Kalau untuk bahan klingking (kering) sendiri, per kilogram sekarang bisa dijual Rp120.000," demikian perempuan yang juga memproduksi beberapa jajanan kue kering tradisional ini. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES