Olahraga Tragedi Stadion Kanjuruhan

Arti Kode ACAB dan 1312 Gate 13 Stadion Kanjuruhan

Rabu, 05 Oktober 2022 - 05:17 | 534.29k
Arti Kode ACAB dan 1312 Gate 13 Stadion Kanjuruhan
Simbol '1312' usai insiden Stadion Kanjuruhan, Malang. (Fotot: Twiter/RagilSemar)
FOKUS

Tragedi Stadion Kanjuruhan

TIMESINDONESIA, MALANGKode ACAB dan 1312 muncul di tembok Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Jawa Timur, setelah tragedi Stadion Kanjuruhan. Kode ini muncul di sekitar gate 13 Stadion Kanjuruhan, tempat korban paling banyak ditemukan pada tragedi 1 Oktober 2022.

Kode ACAB dan 1312 sering ditemukan pada aksi vandalisme sebagai bentuk proses protes terhadap perilaku polisi yang tidak etis. Kode ini sering digunakan pada grafiti, tato sampai dengan gambar grafis lainya.

Arti kode 1312 adalah pertukaran kode ACAB dalam bentuk angka. Di mana huruf A adalah urutan pertama digunakan angka 1, huruf C sebagai urutan ke-3, dan huruf B posisi ke-2. Sehingga jika diurutkan maka menjadi kode 1312 artinya sama dengan kode ACAB.

Menurut data dari laman special-ops.org, kode ACAB dan 1312 adalah simbol anti-polisi. Dalam Bahasa Inggrisnya, ACAB adalah akronim dari "All Corps Are Bastards" atau "semua polisi adalah bajingan". 

Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan antipati terhadap penegak hukum dan polisi. Slogan ini sering dipakai dalam tato penjara di Inggris Raya, biasanya ditulis di kepalan tangan, dan jari demi jari. 

Simbol ini kemudian berkembang dan dipakai oleh penggemar sepak bola di seluruh dunia. 

Sejarah Kode ACAB dan 1312 

kode-1312.jpgFOTO: Tria Adha/TIMES Indonesia

Informasi dari laman gq.com, asal usul kode ACAB yang tepat dari istilah itu tidak diketahui secara pasti, tetapi ada juga yang mengatakan istilah tersebut muncul di Inggris pada paruh pertama abad kedua puluh. ACAB juga disebut pertama kali dipakai pekerja mogok di tahun 1940-an. 

Dalam versi yang berbeda, akronim itu pertama kali muncul di depan umum saat seorang jurnalis Newcastle bernama Eric Partridge menghabiskan malam di penjara pada tahun 1977. Waktu itu dia mendokumentasikan akronim ACAB yang tertulis di dinding penjara. 

Eric Partridge menerbitkan sebuah buku berjudul "The Dictionary of Catchphrases". Menurut Eric Partridge, akronim ACAB ada sejak awal 1970-an, tapi dia mendengar arti dari ungkapan itu pada lagu di tahun 1920-an: "Saya akan menyanyikan sebuah lagu untuk Anda, itu tidak terlalu lama: semua polisi adalah bajingan." 

Menurut pengetahuannya, frasa tersebut sudah ada sepanjang abad ke-20 dan telah digunakan “di antara penjahat dan penjahat profesional, setidaknya selama satu generasi sebelumnya.” 

Band punk Inggris 4 Skins sering memakai akronim ACAB dalam lagu mereka dengan nama yang sama selama tahun 1980. Pada 2020 lalu, ACAB juga menjadi tren di Amerika Serikat setelah kematian George Floyd. 

Seperti diberitakan News.com, simbol itu dicat di gedung-gedung, mobil polisi dan tersebar di media sosial. George Floyd adalah seorang pria kulit berwarna yang diborgol oleh seorang polisi kulit putih. Dia meninggal setelah lehernya ditindih polisi dengan lutut selama hampir 10 menit.

Gate 13 Stadion Kanjuruhan

Gerbang 13 atau Gate 13 Stadion Kanjuruhan adalah saksi bisu dari tragedi Stadion Kanjuruhan Malang. Ketika kericuhan terjadi, gerbang ini terkunci rapat.

Kesaksian Aremania menyebutkan bahwa gas air mata yang ditembakkan polisi di dalam stadion Kanjruhan jadi pemantik kegentingan penonton di tribun 14 hingga membuat mereka berhamburan keluar menuju pintu keluar 13 yang terkunci rapat.

Seorang saksi mata Eko Arianto, melihat pemandangan mengerikan. Perempuan, lelaki, bahkan anak-anak yang kesemuanya Aremania berdesak-desakan terperangkap di dalam Stadion Kanjuruhan.

Ketika itu, pintu keluar Gate 13 terkunci rapat. Dari arah lapangan, masih terdengar suara tembakan gas air mata yang ditujukan ke arah mereka.

Sempat ada yang menyuruh mereka ke arah tribun penonton, agar tak berdesak-desakan di depan pintu. Tapi masalahnya, polisi juga menembakkan gas air mata ke tribun. Mereka terjebak.

Eko melihat orang-orang yang terjebak berusaha menjebol dinding semen agar bisa keluar dari stadion, di tengah kondisi kesesakkan itu.

Bermodal alat seadanya, ratusan Aremania berjuang menjebol dinding tersebut. Eko dan kawannya berinisiatif mencari aparat keamanan di sekitar agar bisa membantu membukakan pintu. 

Namun sayang,  semuanya sudah terlambat. Ketika Eko dan petugas keamanan mendatangi pintu 13, banyak di antara Aremania yang tergeletak tak bernyawa.

Di lantai dekat pintu 13, Eko melihat banyak perempuan dan anak-anak tergeletak bertumpukan—lemas, meregang nyawa.

Dalam tragedi Stadion Kanjuruhan ini, gate 13 Stadion Kanjuruhan Malang menjadi saksi bisu puluhan korban dari 125 korban yang meninggal dunia.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

KOPI TIMES