Pemerintahan

Lomba Melukis Sejarah dan Budaya, Cara Disparbud Lamongan Melestarikan Budaya dan Sejarah

Selasa, 06 Desember 2022 - 20:52 | 18.57k
Peserta Lomba Lukis Sejarah dan Budaya yang diselenggarakan Disparbud Lamongan, Selasa (6/12/2022), (FOTO: Moch. Nuril Huda/TIMES Indonesia)
Peserta Lomba Lukis Sejarah dan Budaya yang diselenggarakan Disparbud Lamongan, Selasa (6/12/2022), (FOTO: Moch. Nuril Huda/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Lamongan atau Disparbud Lamongan membebaskan para pelukis Kota Tahu Campur untuk mengeluarkan imajinasi melukis Sejarah dan Budaya Lamongan. 

Tak hanya itu, lomba yang diselenggarakan Disparbud Lamongan itu juga bertujuan untuk mengenalkan cagar budaya, sejarah dan kesenian melalui seni lukis serta menggali potensi seniman lukis di Kabupaten Lamongan. 

Advertisement

Lomba yang digelar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik museum ini diikuti oleh 15 peserta dari kategori umum dengan syarat peserta harus berdomisili Lamongan dibuktikan dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). 

Peserta-Lomba-Lukis-Sejarah-dan-Budaya-2.jpg

"Karya lukisan mereka harus memuat tiga unsur yakni cagar budaya, kesenian dan koleksi Museum Sunan Drajat," kata Siti Rubikah, Kepala Disparbud Lamongan, Selasa (6/12/2022). 

Rubikah mengungkapkan, penilaian lomba lukis tersebut diserahkan sepenuhnya kepada tim juri yang berasal dari Dewan Kesenian Lamongan ( DKL), media serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jatim. 

Menurutnya, yang terpenting tidak keluar dari 4 (empat) kriteria yang menjadi juknis yang telah ditetapkan serta karya harus original tanpa adanya plagiasi. 

"Kami berharap para seniman lukis Lamongan dapat menghasilkan karya yang nantinya dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan Lamongan di kancah nasional maupun internasional," ujarnya. 

Peserta-Lomba-Lukis-Sejarah-dan-Budaya-3.jpg

Sementara itu salah satu Tim Juri Lomba Lukis Sejarah dan Budaya Lamongan, Sadari dari UPT Museum Negeri Mpu Tantular mengatakan, tema yang diberikan panitia (Disparbud Lamongan) luar biasa. 

Apalagi, jelas Sadari, harus menampilkan unsur cagar budaya, kesenian dan koleksi museum yang ada di Sunan Drajat Lamongan. 

"Dalam memberikan penilaian, tentunya harus ada pertimbangan-pertimbangan yang kita berikan. Terutama ada ide, sesuai dengan tema, teknik dan keunikan lukisan," ucap Sadari. 

Selain Cagar Budaya, kesenian, dan koleksi museum Sunan Drajat Lamongan, dikatakan Sadari, terdapat beberapa unsur yang harus diperhatikan oleh pelukis dalam menggiring dan memindahkan objek alam ke dalam kanvas dua dimensi. 

"Intinya melukis itu beda dengan memahat. Jadi yang menjadi prioritas dalam seni lukis itu komposisi proporsi warna, garis, bidang, anatomi dan teknik pengerjaan," tuturnya. 

Tentunya seorang seniman sudah memiliki gambaran imajinasi ketika menekuni sebuah seni lukis, menurutnya, lomba lukis Sejarah dan Budaya Lamongan ini sebuah tantangan bagi mereka. 

"Ketika dibebaskan, mereka akan dipaksa berimajinasi untuk memindahkan sebuah objek alam ke bidang kanvas 2 dimensi. Sehingga akan muncul style mereka, mulai dari model halus, ekspresif dan spontan. Bahkan objek tersebut bisa terlukis secara emosional, sehingga nampak seperti lukisan abstrak," ujarnya. 

Setelah dilaksanakan penilaian dari tim juri, dihasilkan 5 peserta yang meraih nilai terbaik dari pelukis lainnya. 

Kelima peserta tersebut, diantaranya Sjahidul Haq Chotib peraih juara I dengan skor 285, Desi Catur W peraih juara II dan Pamuji peraih juara III. 

Sedangkan dua peserta lainnya, Yani Dwi Jayanti peraih harapan I dengan skor 266 dan M. Diva Sifa Wibowo peraih harapan II dengan skor 261. 

Yoyok Eko Prastyo yang juga selaku tim juri Lomba Lukis Sejarah dan Budaya Lamongan mengatakan, hasil karya Sjahidul Haq Chotib unggul dari peserta lainnya. 

Karena dirinya berhasil memunculkan ide memadukan Kapal Van der Wijck dengan beberapa icon Lamongan. Bahkan kapal tersebut terlihat lebih ekspresif. 

"Dia berhasil memadukan kapal Van der Wijck dengan Gapuran Paduraksa, tari boranan dan museum peninggalan Sunan Drajat," kata Yoyok. 

Selain itu, ungkap Yoyok, peraih juara I Lomba Lukis Sejarah dan Budaya yang diselenggarakan Disparbud Lamongan itu memiliki teknik melukis yang beda dari peserta lainnya. "Dia mengunakan teknik dusel, sehingga kesan abstrak yang muncul juga kuat dari karyanya," ujar Yoyok. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES