Pemerintahan

Rekor MURI Jaranan Dor, DPRD Jombang Minta Pemkab Pertimbangan Output Teknis

Selasa, 30 April 2024 - 21:35 | 114.34k
Kartiyono Wakil Ketua FPKB Jombang sekaligus Sekretaris Komisi A DPRD Jombang. (FOTO: dok. Pribadi for TIMES Indonesia).
Kartiyono Wakil Ketua FPKB Jombang sekaligus Sekretaris Komisi A DPRD Jombang. (FOTO: dok. Pribadi for TIMES Indonesia).

TIMESINDONESIA, JOMBANGDPRD Kabupaten Jombang menanggapi polemik program pemecahan rekor MURI melalui kesenian jaranan dor yang melibatkan sekitar 50 ribu siswa jenjang SD dan SMP pada bulan Oktober 2024 mendatang.

Kartiyono, Sekretaris Komisi A DPRD Jombang mengatakan memasyarakatkan kesenian dan kebudayaan adalah sebuah upaya dalam rangka membumikan seni dan budaya asli daerah. Hal itu bukan hanya penting tapi harus, agar generasi mendatang tidak kehilangan jejak sejarah seni dan budaya yang telah diwariskan oleh para pejuang seni kala itu.

Pemecahan rekor MURI jaranan dor itu merupakan upaya Pemkab Jombang untuk mempopulerkan budaya khas daerah dari tingkat regional, nasional hingga go Internasional.

"Tentu hal itu patut diapresiasi, seperti halnya yang telah di lakukan oleh Pemkab Jombang ditahun 2023 yang lalu melalui rekor MURI tari Remo Boletan, dan kali ini menyusul akan di lakukan upaya pemecahan rekor MURI kesenian jaran dor," ungkap Kartiyono Wakil Ketua Fraksi PKB DPRD Jombang kepada TIMES Indonesia, Selasa (30/4/2024).

Kartiyono juga mendorong Pemkab Jombang mengkaji dan mempertimbangkan output teknisnya, apakah hanya sekedar mengejar piagam rekor MURI saja atau ada target strategis lainnya yang membangun dan ditindak lanjuti.

Lebih lanjut, jika ini adalah menjadi program unggulan Pemkab Jombang maka Pemerintah harus menyiapkan segala pernak-perniknya, jangan hanya dibebankan kepada masyarakat atau wali murid peserta didik.

"Jangan sampai demi rekor MURI lalu memberikan beban-beban biaya kepada masyarakat dengan berbagai macam dinamikanya," ujarnya

Meski dinas pendidikan dan kebudayaan tidak meminta siswa untuk membeli properti yang digunakan, nyatanya di lapangan banyak wali murid peserta didik yang mengeluhkan hal tersebut. Sebab, diharuskan untuk memiliki jaranan untuk persiapan hingga hari-H nanti pada bulan Oktober mendatang.

Pria kelahiran 1971 ini berharap kebudayaan dan kesenian daerah yang dimiliki dapat dikelola dengan baik sehingga akan menjadi produk unggulan daerah dalam bentuk karya. Misalnya dengan mengadakan event rutin bulanan seperti Jombang Pendak Dinoan dengan dikemas Car Free Night (CFN) di Jl. KH. Wahid Hasyim. Tidak tertutup kemungkinan akan menjadi destinasi Wisata Seni dan Budaya Jombang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES