Pendidikan UIN Malang

Dosen UIN Maliki Malang Lakukan Pengabdian di Kluster Pendidikan

Senin, 14 Juni 2021 - 19:26 | 56.86k
Pengabdian Qoryah Thoyyibah di Ponpes Ash Shiddiqy Lawang oleh Dosen UIN Maliki Malang. (Foto: Muhsin Anwaru For TIMES Indonesia)
Pengabdian Qoryah Thoyyibah di Ponpes Ash Shiddiqy Lawang oleh Dosen UIN Maliki Malang. (Foto: Muhsin Anwaru For TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Dosen Program Studi (Prodi) Pendidikan Agama Islam (PAI), Dosen Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (Pendidikan IPS) dan Dosen Prodi Perpustakaan dan Ilmu Informasi (PIF) Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Maliki Malang) melakukan Pengabdian Qoryah Thoyyibah di kluster pendidikan dan pelatihan di Pondok Pesantren (Ponpes) Ash Shiddiqy Lawang. Pengabdian tersebut dilaksanakan oleh M. Muhsin Arumawan M.Pd.I Dosen Jurusan PAI UIN Malang, dan beranggotakan Wahyu Hariyanto, M.M Dosen Jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi serta Mahasiswa Jurusan Perpustakaan dan Ilmu Informasi, M. Rofiul Achsan. Pengabdian tersebut berlangsung selama satu bulan, pada Bulan Mei hingga Juni 2021.

INFORMASI SEPUTAR UIN MALANG DAPAT MENGUNJUNGI www.uin-malang.ac.id

"Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui tingkat efektivitas kurikulum anti radikalisme yang sudah dikembangkan sebelumnya, serta melakukan sosialisasi dan pelatihan bagi para guru di Ponpes Ash Shiddiqy terkait teknis penerapan kurikulum tersebut," ujar Muhsin Arumawan M.Pd.I, Ketua Pengabdian Qaryah Thoyyibah yang dilakukan oleh Dosen UIN Maliki Malang kepada TIMES Indonesia, Senin (14/6/2021).

Muhsin Arumawan menjelaskan, yang melatarbelakangi dilakukannya pengabdian Qaryah Thoyyibah karena Ponpes Ash Shiddiqy belum punya kurikulum tertulis dan semakin berkembangnya faham radikalisme harus diantisipasi melalui kegiatan pendidikan yang berlandaskan pada nilai-nilai anti radikalisme.

"Kenapa kurikulum antiradikalisme? Berdasarkan landasan filosofis, radikalisme merupakan salah satu hal yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan angka radikalisme yang menjangkit berbagai kalangan masyarakat, khususnya para pemuda semakin meningkat," ujar Hayyun LatHifaty Yasri, M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan IPS UIN Maliki Malang yang juga merupakan dosen yang melakukan pengabdian.

UIN Malang

Hayyun LatHifaty menyampaikan, kurikulum antiradikalisme sebagai tindakan prefentif, sebagai pendidikan yang sarat akan kemoderatan bagi umat yang universal, dan sebagai kajian-kajian komprehensif. Terdapat proses pelaksanaan antiradikalisme yaitu yang pertama, menekankan Iman dan Takwa Kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yang kedua, menekankan pada kemampuan santri dalam beribadah. Yang ketiga, menekankan pada keterampilan dan kefasihan santri dalam membaca dan memahami Al-Quran. Yang keempat, menekankan pada pembentukan akhlak al karimah.

Yang kelima, proses pembelajaran didasarkan pada upaya meningkatkan kemampuan membaca dan memahami Al Quran serta ilmu keagamaan yang mendukungnya serta menguatkan defend diri santri sehingga dapat terhindar dari paparan faham radikal.

Yang keenam, penilaian hasil belajar mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotor dengan penekanan utama pada aspek afektif. Santri senantiasa dipantau perkembangannya, khususnya pada sikap dan keterampilan sebagai manifestasi berkembangnya pengetahuan.

INFORMASI SEPUTAR UIN MALANG DAPAT MENGUNJUNGI www.uin-malang.ac.id

"Tujuan pembelajaran pendidikan Ponpes Ash Shiddiqy bertujuan untuk membentuk santri yang memahami dan mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam secara utuh dengan berlandaskan pada Al-Quran dan hadist," tutur Hayyun LatHifaty Yasri, M.Pd., Dosen Prodi Pendidikan IPS UIN Maliki Malang yang juga merupakan dosen yang melakukan pengabdian. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES