Pendidikan

Menuju Pendidikan Bermutu, SMPN 2 Purwosari Bojonegoro Rangkul SMP Bumi Cendekia Yogyakarta

Minggu, 19 Mei 2024 - 14:36 | 104.95k
Kegiatan sesi berbagi bersama yang digelar SMPN 2 Purwosari, Bojonegoro dan SMP Bumi Cendekia, Yogyakarta. (Dok. SMPN 2 Purwosari)
Kegiatan sesi berbagi bersama yang digelar SMPN 2 Purwosari, Bojonegoro dan SMP Bumi Cendekia, Yogyakarta. (Dok. SMPN 2 Purwosari)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Untuk mendorong kolaborasi dan kemajuan pendidikan, SMPN 2 Purwosari Bojonegoro dan SMP Bumi Cendekia Yogyakarta menyelenggarakan sesi berbagi bersama. 

Kedua sekolah berbagi praktik baik dan mengeksplorasi pendekatan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan tantangan yang menyertai upaya tersebut. Acara dilaksanakan pada Sabtu (18/5/2024) di Giga Show, Sleman, Yogyakarta.

Acara ini mempertemukan para pendidik, administrator, dan pemangku kepentingan dari kedua sekolah. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan platform yang dinamis untuk bertukar ide dan praktik terbaik. 

Dimoderatori oleh Mohammad Kundori dari Yayasan Ademos, sesi ini membahas berbagai aspek dalam meningkatkan pengalaman belajar siswa dan upaya-upaya dalam memfasilitasi potensi dan bakat peserta didik. 

SMP Bumi Cendekia memulai diskusi dengan menceritakan sejarah dan latar belakang berdirinya Bumi Cendekia dan cita-cita yang diusung oleh sekolah ini. 

“Pelayanan pendidikan saat ini dan ke depan harus berpusat kepada peserta didik. Semua upaya dan sumber daya harus dioptimalkan untuk memfasilitasi potensi dan tumbuh kembang siswa," kata pengurus Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta yang menaungi Bumi Cendekia, Mohammad Alfuni’am.

Ni’am menekankan pentingnya kolaborasi dari berbagai pihak dalam upaya meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada siswa. 

“Keterbatasan sumber daya dan sarana prasarana dapat diatasi dengan berkolaborasi,” pungkasnya.

Sementara itu, pengurus Yayasan Bumi Aswaja Yogyakarta, Saeroni menyampaikan tentang pentingnya mendekatkan pengalaman belajar siswa dengan pengalaman keseharian dan kehidupan masyarakat di sekitar sekolah.

Orang tua dan masyarakat yang justru memiliki peran sangat penting dalam pendidikan seringkali tidak mendapatkan perhatian. 

“Dengan mengintegrasikan tantangan dunia nyata ke dalam kurikulum, para siswa kami telah mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan keterampilan kolaboratif yang akan berguna bagi mereka di luar kelas," terangnya.

Hal tersebut dibenarkan Ahmad Shodikin, Kepala SMPN 2 Purwosari, Bojonegoro. Sekolah dan guru seringkali memiliki keterbatasan dalam di luar lingkungan sekolah.  Tapi, upaya-upaya untuk menjalin komunikasi dengan orang tua siswa terus dilakukan, terutama dalam hal pendampingan dan fasilitasi bakat dan minat siswa. 

Sedangkan menurut Kepala SMP Bumi Cendekia, Angga Palsewa, salah satu kunci utama dalam upaya menghadirkan inovasi di sekolah terutama pengalaman pembelajaran siswa, adalah melalui guru sebagai tenaga pendidik. 

Porsi jam mengajar yang diberikan kepada guru harus benar-benar diatur agar tidak terjadi kelebihan beban sehingga guru tidak memiliki ruang untuk melakukan pengembangan diri. 

Pelatihan berkelanjutan kepada guru-guru juga harus menjadi program pokok yang harus dimiliki oleh sekolah. 

“Kita tidak bisa berharap lahir inovasi dari guru-guru yang kelelahan karena kelebihan beban mengajar. Oleh karena itu guru perlu diberikan ruang dan keleluasaan untuk melahirkan inovasi dalam proses pembelajaran di kelas,” pungkasnya. 

Sesi berbagi juga mengeksplorasi peran teknologi dalam memfasilitasi pengalaman belajar yang dipersonalisasi. Para peserta bertukar wawasan tentang cara memanfaatkan analisis data dan platform pembelajaran adaptif untuk memenuhi kebutuhan siswa secara individual. 

Di akhir sesi, kedua sekolah mengungkapkan antusiasme mereka untuk inisiatif bersama di masa depan, mengakui kekuatan kolaborasi dalam mempercepat inovasi pendidikan dan memberikan dampak positif bagi kehidupan siswa. 

Sebelum menutup acara, Kundori menyampaikan pentingnya forum-forum berbagi seperti ini. Menurutnya, kolaborasi seperti ini sangat berharga untuk mendorong perubahan sistemik dalam pendidikan.

"Dengan menumbuhkan budaya berbagi pengetahuan dan pemecahan masalah secara kolektif, kita dapat membuka jalan bagi lingkungan belajar yang lebih inovatif dan berkualitas," imbuhnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES