Peristiwa Daerah

Fetish Serbet Teror Selebgram Malang, Ini Tanggapan Psikolog

Senin, 05 September 2022 - 14:10 | 66.50k
Tangkapan Layar korban Fetish Serbet saat membagikan ke media sosial. (Foto: Tangkapan Layar/TIMES Indonesia)
Tangkapan Layar korban Fetish Serbet saat membagikan ke media sosial. (Foto: Tangkapan Layar/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, MALANG – Salah satu Selebgram asal Malang bernama Priskila Oktaviani mengalami teror Fetish Serbet melalui direct message (DM) dari salah satu pemilik akun Instagram bernama @tamaserbet.

Dalam pesan yang diterima oleh Priskila, @tamaserbet menanyakan apakah ada serbet bau yang dijualnya. Akun tersebut pun juga berisikan foto-foto muka seseorang yang ditutup penuh dengan serbet.

Advertisement

"Haaii kakak cantik, boleh saya beli serbet dapur yang sudah bau?," tulis @tamaserbet melalui pesan yang ditujukan kepada Priskila Oktaviani.

Menanggapi hal itu, Dosen Psikolog Universitas Brawijaya (UB) Malang, Ika Herani mengatakan bahwa di dunia serba digital ini, memang sebuah Fetish mulai merambah dan menyerang melalui virtual.

Oleh sebab itu, Ika pun merasa miris, karena dengan kemudahan era digital maka siapa pun bisa menjadi sasarannya. "Bisa juga masuk Fetish secara virtual, karena situasi sekarang. Miris banget ya, mudah sekali siapa saja jadi sasaran Fetish akhirnya," ujar Ika, Senin (5/9/2022).

Fetish sendiri, lanjut Ika, merupakan obsesi atau gangguan seksual yang terkait dengan fantasi seksual pada benda atau tubuh non genital pada manusia. Misalnya seperti yang saat ini terjadi, yakni Fetish terhadap benda serbet.

"Jadi benda-benda ini akhirnya membangkitkan hasrat seksual yang juga bisa merujuk pada bagian tubuh tertentu juga," ungkapnya.

Namun, kata Ika, sebenarnya penyebab pasti Fetish tersebut memang belum diketahui secara pasti. Ada sejumlah faktor yang menurut Ika bisa mengarah ke hal tersebut.

"Penyebab masih belum ada secara pasti. Kalau menurut teorinya dari perspektif, psikoanalisis dan behavioral. Ada juga faktor lainnya, seperti biologis, sosiokultural dan budaya atau kultural," bebernya.

Melihat peristiwa tersebut, Ika pun menyarankan kepada sejumlah korban yang terkenal Fetish, khususnya secara virtual tak memberikan respon yang berlebihan. Terlebih, menurutnya kurang baik sebenarnya jika disebarluaskan oleh korban. Sebab, perlu adanya penetapan permasalahan sebelum memberikan judgment.

"Sama-sama lebih bijak menggunakan media sosial dan saling mengingatkan ketika ada perilaku yang kurang tepat. Tidak malah menyebarkan atau memberikan judgment tanpa tahu alasan dan permasalahan sebelumnya," tuturnya.

Saran dari Ika, para korban hanya perlu memblokir atau melaporkan secara virtual akun tersebut agar mendapatkan sanksi. Sebab, jika semakin di respon dan disebarluaskan, pelaku Fetish tersebut malah semakin terangsang dan senang, karena mendapat perhatian lebih.

"Karena ini terjadi secara virtual maka akun pelaku harusnya di blokir. Semakin korban memberikan reaksi atau netizen memberikan reaksi apapun pelaku akan semakin senang. Artinya dengan aksinya ini pelaku mendapatkan perhatian," pungkasnya terkait teror fetish serbet yang menimpa Selebgram asal Malang. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES