Peristiwa Daerah

Kisah Katiyem, Perempuan di Pacitan yang Rela Kayuh Becak Cari Rongsokan

Jumat, 20 Januari 2023 - 14:22 | 27.79k
Katiyem warga Desa Semanten, Kecamatan/Kabupaten Pacitan 20 tahun mengayuh becak mengumpulkan rongsokan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)
Katiyem warga Desa Semanten, Kecamatan/Kabupaten Pacitan 20 tahun mengayuh becak mengumpulkan rongsokan. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PACITAN – Zaman modern identik dengan kehidupan serba bergelimang kemewahan harta. Tapi hal ini tidak berlaku bagi perempuan paruh baya di Kabupaten Pacitan bernama Katiyem. Ia pun rela mengayuh becak mencari rongsokan.

Perempuan yang berusia 52 tahun ini tampak tegar, tak ada dari raut wajahnya muram sedikit pun. Becak tua yang dikayuhnya sesekali berhenti di perempatan dan gang kecil sambil mencari barang bekas. 

Advertisement

Karung goni warna putih terisi penuh dengan barang bekas berjejalan. Sebelum setor kepada pengepul, ia berteduh dari teriknya matahari di bawah rimbunnya pepohonan depan gedung wakil rakyat.

"Setiap hari, kadang beli, kadang memungut dari rumah-rumah," katanya, Jumat (20/1/2023). 

Ibu dari tiga anak itu mengaku berprofesi sebagai tukang rosok sejak 2002 silam, bukan karena desakan nasib, namun lebih memilih pekerjaan ini sebagai peluang mengais pundi-pundi rezeki. Di sisi lain, ia tidak mau menjadi beban orang lain. 

Katiyem-2.jpgKatiyem saat berteduh usai mencari barang bekas sebelum dijual ke pengepul. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia) 

"Barang-barang yang saya kumpulkan ada paku, kawat, kaleng bekas dan kardus. Sedikit-sedikit, lumayan," terangnya. 

Katiyem yang bertempat tinggal di Desa Semanten, Kecamatan Pacitan mengayuh becak tuanya setiap hari. Jam kerjanya layaknya pekerja kantoran, berangkat pagi pulang sore.

Hasil jual-beli rosokan selalu naik-turun, meski demikian nyatanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

"Alhamdulillah, sedikit-sedikit cukup. Pas lagi rezekinya Rp50 -75 ribu, kadang dapat Rp30 ribu sehari," jelasnya kepada TIMES Indonesia. 

Selain itu, usia yang tidak lagi muda tidak menyurutkan tekad dan semangat menjalani hidup, perempuan berperawakan kerempeng tersebut seperti tidak bergeming dengan arus. Keberadaannya seolah mengilhami kita generasi milenial untuk selalu bersyukur atas takdir Tuhan. 

"Kalau ke Semanten silakan mampir ke gubuk saya, tak jauh dari jembatan," ujar Katiyem sambil tersenyum. 

Warga yang kebetulan sama-sama melintas, Sriyadi (42) ternyata juga memperhatikan perempuan tersebut. Hampir setiap hari melihat becak tua yang digunakan untuk mengangkut barang bekas lewat di dalam gang Kantor DPRD Pacitan. 

"Ibu yang itu bukan pengemis, memang dari dulu kerjanya menjadi pemulung, kalau dikasih uang mau, tapi nggak pernah minta-minta," ucapnya menceritakan kisah Katiyem mengayuh becak mencari rongsokan di Kabupaten Pacitan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES