Peristiwa Daerah

Loktuan Bontang Jadi Lokus Stunting, Semua Pihak Bergerak Bersama

Sabtu, 25 Februari 2023 - 11:25 | 100.37k
Camat Bontang Utara, Sutrisno bersama Lurah Loktuan, Hadi Jumianto Dan Pejabat Fungsi Dinas Kesehatan Bontang, Asma Dalam Kesempatan Rembug Stunting Beberapa waktu lalu (Foto : Kusnadi/TIMES Indonesia)
Camat Bontang Utara, Sutrisno bersama Lurah Loktuan, Hadi Jumianto Dan Pejabat Fungsi Dinas Kesehatan Bontang, Asma Dalam Kesempatan Rembug Stunting Beberapa waktu lalu (Foto : Kusnadi/TIMES Indonesia)
Kecil Besar

TIMESINDONESIA, BONTANG – Menekan dan menurunkan Stunting di Kelurahan Loktuan Kota Bontang menjadi konsen semua pihak. Salah satu upaya yang dilakukan yakni melakukan gerakan sadar ke posyandu. 

Posyandu menjadi ujung tombak penanganan stunting. Sehingga tak heran kader posyandu lah yang menjadi harapan dalam menjalankan program terukur dan berkualitas baik dari Dinas kesehatan maupun perusahaan dengan program CSRnya.

Advertisement

Hal itu mengemuka dalam rembug Stunting di Kelurahan Loktuan beberapa waktu lalu, dimana Kelurahan di wilayah utara kecamatan Bontang utara itu menjadi lokus pencegahan stunting Kota Bontang.

Media ini kembali mengulik kembali pentingnya Pencegahan stunting bagi stakeholder yang pernah hadir dalam Rembug Stunting garapan Puskesmas BU II bersama Pupuk Kaltim pada 2 Pebruari 2023 lalu.

Ketua LPM Loktuan, Kusnadi Said misalnya, memberikan masukan agar kesadaran orang tua mesti direkayasa agar terpanggil untuk datang ke posyandu dengan membawa balitanya.

"Perlunya cara out of the box agar orang tua mau bawa anaknya ke posyandu, misal dengan cara menyiapkan hadiah atau reward, solusi inovatif begini mesti di tumbuhkan," ujarnya Sabtu (25/02/2023)

Tak sedikit pula terlihat bahwa dibalik lemahnya kesadaran ke posyandu, masih terdapat sebab lain yang cukup besar dominasinya. Hal itu salah satunya adanya asupan makanan yang tidak cukup gizi bagi anak.

Lurah Loktuan Hadi Jumianto meminta agar setiap orang tua hendaknya memperhatikan asupan makanan yang diterima anak. Pasalnya kadang anak lepas dari pengawasan orang tua dalam memilih makanan yang cukup dengan kebutuhan gizi.

"Seperti di pesisir padahal ketersediaan ikan tidak diragukan lagi, tapi masih ada saja anak yang terkena Stunting," ungkapnya.

Hingga saat ini kondisi Stunting di Kelurahan Loktuan lanjut Hadi masih berada di atas 24 persen. Sedangkan angka penurunan kasus Stunting diharapkan mencapai 15 persen pada tahun 2024. "Ini menjadi pekerjaan rumah kita semua," ucapnya

Camat Bontang Utara, Sutrisno mengatakan jika Rembug stunting hendaknya digalakan berkala, program ini menurutnya merupakan upaya leading sector untuk menerima masukan terkait kondisi di lapangan.

Bahkan jika terdapat variabel yang belum terdeteksi terkait program yang telah menjadi isu nasional itu, dapat ditemukan bersama. "Ini upaya yang baik untuk dilakukan, karena stunting kini jadi masalah bersama terutama di kelurahan Loktuan,"ujarnya.

Sementara Edi yang mewakili Organisasi pemuda IPPLB meminta agar kendala Stunting yang ada bisa dimaksimalkan membantu menyebar program ini di kalangan pemuda loktuan.

"Kalau ada momennya bisa juga dikasi waktu sosialisasi dikalangan pemuda loktuan, supaya kami juga bisa membantu memberikan edukasi kepada remaja dan pemuda," katanya.

Kepala Puskesmas Bontang Utara II, Dwiyanti menyambut baik masukan dari seluruh stakeholder dan pemangku yang ada di Kelurahan Loktuan.

Ia berharap masukan ini akan menjadi momentum atas gerak bersama pencegahan stunting di kelurahan Loktuan Kota Bontang. "Dukungan semua pihak akan kami jadikan penyemangat dalam memaksimalkan program guna mencapai target pencegahan stunting hingga bisa zero stunting," ujarnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES