Peristiwa Daerah

Dampak Algoritma Media Sosial pada Pemilu 2024: Penghalang Rasionalitas Pemilih Muda

Rabu, 28 Februari 2024 - 22:49 | 26.82k
Pakar Komunikasi dari Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)
Pakar Komunikasi dari Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D. (Foto: Achmad Fikyansyah/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANGAlgoritma media sosial ibarat pedang bermata dua. Membawa keuntungan sekaligus ancaman bagi penggunanya. Keuntungannya, dengan algoritma media sosial, seseorang bisa banyak melihat apa yang dia senangi. Kelemahannya, informasinya yang mereka dapatkan menjadi cenderung dibatasi, sehingga penggunanya tidak banyak mendapatkan informasi terkait hal yang tidak disuka, sekalipun itu hal penting.

Dalam konteks ini, algoritma media sosial juga membawa dampak yang cukup besar terhadap Pemilu 2024. Pakar Komunikasi dari Universitas Brawijaya, Maulina Pia Wulandari, S.Sos., M.Kom., Ph.D  menyebut, algoritma media sosial menjadi penghalang  bagi generasi muda untuk bisa menilai seorang kandidat dalam Pemilu secara objektif.

"Algoritma di media sosial cenderung membatasi akses pemilih muda terhadap informasi yang beragam, yang pada akhirnya mempengaruhi keterbatasan rasionalitas dalam mengevaluasi kandidat," ucapnya.

Dalam sebuah penelitian berjudul “Pemilih Muda yang Minim Logika” yang dilakukan oleh Danu Eko Pranoto dibimbing oleh Maulina Pia Wulandari, mereka menyoroti peran loyalitas dalam menentukan pilihan pemilih muda dalam konteks pemilihan umum.

Peneliti menemukan bahwa loyalitas seringkali mengalahkan pertimbangan rasional dalam memilih kandidat terutama di kalangan Generasi Z pada Pemilu Pilpres 2024 beberapa waktu lalu.

Menurut Pia, generasi muda cenderung kurang rasional dalam memutuskan perilaku politik mereka, karena preferensi pribadi lebih dominan daripada pertimbangan rasional.

Hal ini tercermin dalam siklus pemilihan umum di Indonesia, dimana banyak pemilih generasi muda terpengaruh oleh loyalitas terhadap kandidat tanpa mempertimbangkan secara mendalam kualitas dan keunggulan yang dimiliki oleh kandidat tersebut.

"Oleh karena itu, penting bagi pemilih muda untuk menyadari pentingnya mengesampingkan emosi dan mempertimbangkan secara rasional kualitas kandidat dalam proses pemilihan,” tuturnya.

Danu Eko Pranoto menambahkan bahwa generasi muda sangat terkait dengan teknologi, terutama internet dan media sosial.

“Kampanye politik yang menggunakan media digital memiliki dampak yang signifikan, seperti contoh sukses kampanye ‘gemoy effect’ oleh tim kampanye Prabowo– Gibran. Namun demikian, popularitas kandidat tidak begitu mempengaruhi keputusan pemilih muda,” kata Danu.

Penelitian ini melibatkan survei terhadap pemilih dari generasi muda (Millennial dan GenZ) di wilayah provinsi se-Pulau Jawa.

Penelitian ini menunjukkan bahwa loyalitas merupakan faktor utama yang mempengaruhi niat memilih, diikuti oleh persepsi terhadap kualitas kandidat. Namun, popularitas kandidat tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

Pilihan elektoral dari pengikut public figure tertentu akan dipengaruhi oleh pilihan dari figure yang mereka gemari tersebut. Pemilu 2024 untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia periode 2024-2029 sudah terlaksana.

Per Februari 2024, hasil real count sementara dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) menunjukkan bahwa pasangan kandidat Capres dan Cawapres Prabowo– Gibran mengungguli perhitungan suara, kemudian disusul oleh kandidat Anies– Muhaimin serta Ganjar– Mahfud.

Hasil ini tentu tidak terlepas dari peran pemilih muda (Millennial dan GenZ) yang menyumbang 56,45 % dari suara pemilih nasional. Banyak pakar yang mengatakan bahwa Pemilu 2024 adalah Pemilu-nya anak muda.

“Jika Anda telah memiliki loyalitas pada suatu merek tertentu, maka kecil kemungkinan bahwa anda akan mempertimbangkan sisi negatif dari merek yang Anda berikan loyalitas Anda tersebut,” kata Danu.

Logika yang sama juga berlaku ketika melakukan evaluasi kandidat. Jika loyal pada tokoh tertentu, kita pasti menganggap tokoh tersebut memiliki kualitas dan sesuai dengan keinginan.

Logika sering tidak mampu membendung emosi karena sangat mungkin apa yang menjadi keputusan tokoh tersebut akan kita ikuti begitu saja apapun konsekuensinya. Ironisnya, efek loyalitas ini tidak hanya pada kandidat yang berlaga saja, tetapi juga pada tokoh yang berasosiasi dengan kandidat tersebut.

Dengan kata lain, pilihan elektoral dari pengikut public figure tertentu akan dipengaruhi oleh pilihan dari figure yang mereka gemari tersebut.

Penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang dinamika pemilihan umum di Indonesia, khususnya peran loyalitas dan rasionalitas dalam pengambilan keputusan politik.

Generasi muda perlu menyadari bahwa dengan mengesampingkan emosi dalam mengevaluasi kandidat, mereka akan dapat menjadi pemilih yang rasional dan bukan menjadi pemilih muda yang minim logika.

Dengan pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemilih muda, diharapkan dapat meningkatkan partisipasi pemilih yang lebih rasional dan terinformasi dalam proses demokrasi. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES