Peristiwa Daerah

Ade Kurniawan, Mahasiswa Universitas Negeri Malang yang Melestarikan Primbon Jawa

Kamis, 02 Mei 2024 - 12:35 | 17.35k
Ade Kurniawan, Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (Foto: Dokumentasi Ade Kurniawan)
Ade Kurniawan, Mahasiswa S1 Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (Foto: Dokumentasi Ade Kurniawan)

TIMESINDONESIA, MALANG – Laki-laki itu mengeluarkan piranti perkuliahannya dari dalam tas. Seperti mahasiswa pada umumnya, ia membawa laptop, satu buku catatan, satu buku bacaan, dan satu buku lagi yang menyita perhatian.

Buku itu berwarna putih dengan dihiasi garis-garis wajah Batara Kala. Di bawah garis-garis itu, tertera judul berpelipit warna keemasan: Kitab Primbon Betaljemur Adamakna.

Dialah Ade Kurniawan, mahasiswa semester enam S1 Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang (UM). Ade, sapaan akrabnya, memang sering membawa Primbon kemanapun ia berada.

“Aku lahir dari rahim seni, sejak kecil aku diasuh oleh Mbah yang sangat kental dengan kesenian. Semasa SD hingga SMP aku sering ikut tanggapan, ludruk, karawitan, sesekali juga wayangan,” ungkap Ade kepada TIMES Indonesia, di selasar Kafe Pustaka UM, Rabu (01/4/2024).

Ditemani rindangnya pepohonan yang menjulang, Ade terus bercerita mengenai awal kisahnya kenapa bisa begitu lekat dengan seni. Itu bermula ketika ada problematika dalam keluarganya dan berakhir Ade diasuh oleh kakeknya.

Selama hidup bersama kakeknya ini, kecintaan seni yang ada dalam diri kakeknya mulai tertular kepada Ade. Saat itu hidup Ade tak bisa begitu jauh dari riuhnya gamelan. Namun, kedekatan Ade dengan seni mulai buyar ketika ia memasuki jenjang SMK.

Ia masuk jurusan Teknik Kimia di SMKN 1 Kabuh, Jombang, Jawa Timur dan tentu saja ia disibukkan dengan praktikum-praktikum yang menyita pikiran. Bagi Ade, itu adalah berkah sekaligus musibah. Dikatakan berkah karena selama di SMK ia memiliki kesempatan untuk melatih jiwa kepemimpinan, berbaur dengan masyarakat yang lebih luas, hingga berbicara di depan umum. Akan tetapi, di sisi lain, Ade jadi begitu jauh dengan seni.

Di penghujung masa SMK, Ade mengalami kebimbangan, apakah ia harus bekerja seperti teman-temannya yang lain ataukah berkuliah.

“Aku ingat apa yang diucapkan guru SMK-ku, kuliahlah supaya pikiranmu bisa terbuka,” tambahnya.

Atas dorongan dari guru tersebut akhirnya Ade mencoba untung-untungan. Ia mengambil jalur SNBP (dulu masih SNMPTN) dengan Prodi Teknik Kimia di salah satu universitas ternama di Jawa Timur. Sayang sekali, nasib berkata lain. Ade gagal lolos seleksi tersebut.  

Ade kembali mengalami kebimbangan. Seleksi gratis yang tersisa saat itu hanyalah SNBT (dulu masih UTBK-SBMPTN). Dan jika ia gagal seleksi tersebut, Ade memilih pasrah. Ade tidak mungkin memberatkan Kakeknya yang sangat ia cintai itu untuk mengikutkannya di seleksi mandiri.

Akan tetapi, takdir membawa Ade ke jalan lain. Ia lolos seleksi UTBK di Prodi S1 Bahasa dan Sastra Indonesia UM. Tidak hanya itu, Ade juga diterima sebagai mahasiswa Kartu Indonesia Pintar-Kuliah (KIP-K). Ketika bercerita soal keberuntungannya itu, Ade mengucap syukur seperti tanpa kenal lelah.

Namun, nasib membawa dirinya kedalam kebimbangan yang lain. Semasa SMK ia hanya mengenyam teori-teori kimia, dan sekarang di perkuliahan ia harus berkutat dengan teori-teori sastra. Bagi Ade, itu bukan hanya hal baru, tetapi sekaligus hal yang teramat sulit.

Hingga sampailah Ade di semester dua perkuliahan. Ia menemukan mata kuliah Menulis Prosa dan Puisi yang baginya begitu sangat menggugah jiwa sastranya. Ia bertemu dengan puisi-puisi bagus, dengan karya-karya sastra yang menggugah selera. Sejak saat itulah ia menekuni bidang kepenulisan puisi.

Tercatat hingga semester enam ini Ade beberapa kali menunjuukkan kepiawaiannya dengan berhasil mengharumkan nama UM di jagat perpuisian. Ia pernah meraih Juara 1 Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Daerah Jawa Timur, Juara harapan 1 Penulisan Puisi Pekan Seni Mahasiswa Nasional, Juara 1 Penulisan Puisi tingkat Nasional di Universitas Trunojoyo Madura, Juara 3 Penulisan Puisi tingkat Nasional di Universitas Gadjah Mada, dan masih banyak lagi. Terakhir kali, ia berhasil membawa nama UM sebagai juara 1 Penulisan Naskah Lakon di Universitas Brawijaya.

Kini di tengah kesibukan kuliah dan perlombaan, Ade memiliki rutinitas lain. Ia mengelola akun TikToknya dengan nama pengguna ‘Wedar Jawi’ yang berisi hitungan-hitungan weton, hari-hari baik, dan semacamnya, yang bersumber dari Kitab Primbon. Akun TikTok tersebut telah diikuti oleh lebih seratus ribu pengguna.

“Ya, aku pengen nguri-nguri warisan dari mbahku saja. Aku pengen pertalian tentang perhitungan primbon dengan anak-anak sekarang tidak putus,” tandasnya penuh rasa bangga. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES