Peristiwa Daerah

Banyuwangi Punya ‘Rembug Anak’, Wadah Gali Aspirasi Anak untuk Anak

Sabtu, 04 Mei 2024 - 19:50 | 16.88k
Suasana kegiatan Rembuk Anak di Banyuwangi, Sabtu (4/5/2024). (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)
Suasana kegiatan Rembuk Anak di Banyuwangi, Sabtu (4/5/2024). (Foto: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, Jawa Timur, menggelar Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Anak. Kegiatan bertajuk “Rembug Anak” itu bertujuan untuk menjaring aspirasi yang akan menjadi pertimbangan pengambilan kebijakan terkait pemenuhan hak anak.

“Jaman sudah berubah sebegitu cepatnya, pemikiran anak-anak kita juga sudah berkembang dibanding jaman kita. Jadi, kita harus mulai menyelami apa yang menjadi kebutuhan mereka di era saat ini. Rembug anak ini dibuat untuk kebutuhan ini,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Sabtu (4/5/2024).

Rembug Anak digelar di Pelinggihan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi. Kegiatan ini digelar selama dua hari, 2-3 Mei 2024, diikuti 50 pelajar setingkat SMP/SMA dari berbagai wilayah se-Banyuwangi. 

Mereka adalah perwakilan forum anak tingkat kelurahan, kecamatan dan kabupaten. Ada juga perwakilan dari anak-anak berkebutuhan khusus (ABK).

Ada 5 kluster yang dibahas. Mulai dari hak sipil dan kebebasa. Lingkungan keluarga dan pengasuhan alternatif. Kesehatan dasar dan kesejahteraan. Pendidikan pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya serta perlindungan khusus.

Ipuk mengatakan, kegiatan ini menjadi tempat untuk menggali permasalahan, potensi, dan kebutuhan anak. Menurutnya, selama ini anak-anak jarang dilibatkan dalam proses pengambilan kebijakan, sehingga banyak kebijakan yang kemudian tidak sepenuhnya sesuai dengan apa yang diharapkan.

“Ini menjadi media untuk menjaring aspirasi anak-anak Banyuwangi. Apa yang dihasilkan dari forum ini, akan kami jadikan pertimbangan untuk perencanaan dan penyusunan program kerja ke depan,” ungkap Ipuk.

Rembug tersebut dimanfaatkan oleh para siswa untuk menyampaikan berbagai usulan. Salah satunya yang disampaikan Bilquis Syifa Aziza yang menginginkan memperbanyak kegiatan outdoor.

“Kami ingin ada kegiatan permainan outdoor berbasis budaya lokal. Permainan ini selain dapat mengenalkan budaya daerah, juga mendorong para siswa aktif bersosialisasi sehingga tidak ketergantungan pada gadget dan game online,” kata siswa SMAN 1 Genteng itu.

Siswa lainnya, M Ega Arizona Vata, juga mengusulkan pembuatan aplikasi adminduk khusus disabilitas.

“Kami mengusulkan pembuatan aplikasi adminduk yang bisa membaca dan mengeluarkan suara sehingga membantu teman netra mengetahui identitasnya,” kata dia.

Usulan juga datang dari Ketua Forum Anak Nabila Patricia Elita. Dia meminta agar sosialisasi terkait pencegahan kasus pelecehan seksual, kekerasan kepada anak, bullying hingga dampak pernikahan dini lebih dimasifkan lagi.

“Kami mohon agar dinas terkait semakin masif lagi melakukan sosialisasi ini, kalau perlu hingga menyeluruh ke pelosok desa,” ujar siswi SMAN 1 Glagah itu.

Sebelumnya, para peserta rembug diajak mengunjungi sejumlah lokus yang berkaitan dengan kluster pembahasan. Di antaranya, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Kantor Urusan Agama (KUA), Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, dan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan KB (Dinsos PPKB).

Di sana, peserta rembug anak mendapatkan berbagai informasi terkait berbagai permasalahan serta solusi yang telah dilakukan dinas terkait. Misalnya di Dinas Pendidikan, mereka mendapat berdiskusi tentang masih banyaknya anak yang mengalami putus sekolah. Juga anak yang kecanduan game online dan gadget. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES