Peristiwa Daerah

UPTD Pengelola Dadaha Undang Warga Lingkar Dadaha, Ini yang Dibahas

Senin, 06 Mei 2024 - 22:33 | 18.64k
Sejumlah warga lingkar Dadaha saat melakukan pembahasan semrawutnya Kawasan Komplek Olahraga Dadaha di Kantor UPTD Pengelola Dadaha, Senin (6/5/2024). (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Sejumlah warga lingkar Dadaha saat melakukan pembahasan semrawutnya Kawasan Komplek Olahraga Dadaha di Kantor UPTD Pengelola Dadaha, Senin (6/5/2024). (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Setiap hari Minggu pagi hingga siang, Kawasan Komplek Olahraga Dadaha, khususnya jalan utama Dadaha Kota Tasikmalaya, menjadi pemandangan kurang elok dimana di lokasi ini kegiatan bising dan semrawut tidak mencerminkan julukan kota Tasik yang Resik.

Para warga lingkar Dadaha dan pedagang telah lama menyoroti kondisi yang semakin meresahkan ini. Ratusan pedagang kaki lima dengan seenaknya menjajakan dagangannya di pinggir jalan dan trotoar, mengecilkan ruang untuk pejalan kaki dan pengguna jalan lainnya.

Kondisi memburuk dengan adanya parkir liar di sejumlah ruas jalan Dadaha. Badan jalan dan trotoar yang seharusnya menjadi akses untuk pejalan kaki kini dipenuhi oleh parkir motor dan gerobak PKL. Hal ini tidak hanya mengganggu lalu lintas, tetapi juga memberikan dampak negatif terhadap estetika Kawasan ruang terbuka publik yang menjadi kebanggaan warga Kota Tasikmalaya.

Atas sorotan tersebut UPTD Pengelola Kawasan Komplek Dadaha mengundang sejumlah warga lingkar Dadaha untuk duduk Bersama merumuskan sebuah solusi untuk kenyamanan

Agus Ketua RW. 01 Dadaha Kelurahan Nagarawangi, bersama dengan pengurus RT dan Pengurus Karang Taruna Dadaha menyambut baik undangan dari UPTD Dadaha. Mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menyampaikan keprihatinan mereka terhadap kondisi lingkungan yang semakin memburuk.

Pihak Pengurus RW menekankan pentingnya ketegasan dari UPTD dalam menangani masalah ini. Mereka meminta agar wilayah yang dapat dijadikan area untuk berdagang ditetapkan dengan jelas, dengan catatan bahwa kegiatan dagang tidak boleh mengganggu tatanan keindahan kawasan dan aturan yang telah ditetapkan.

Sebagai solusi, mereka menyarankan adanya simpul pengurus yang melibatkan unsur karang taruna di lingkar Dadaha. Ini diharapkan dapat meningkatkan koordinasi antara para pedagang dan pihak berwenang, sehingga masalah dapat diselesaikan secara efektif.

"Jadi saya meminta ketegasan dari pihak UPTD untuk mengatur area mana saja yang dapat dijadikan tempat untuk berdagang, sebab sampai saat ini masih ada pedagang yang suka berpindah-pindah area jualannya," ungkap Agus saat berdiskusi di Kantor UPTD Pengelola Dadaha, Senin (6/5/2024).

Namun demikian, pengurus RW juga menegaskan pentingnya pemberdayaan para PKL dalam bidang kesejahteraan mereka. Meskipun begitu, hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk melanggar aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Hal senada disampaikan Ketua Paguyuban Dadaha Layungsari (Dalas), Hadi (46), ia menegaskan urgensi penataan kawasan tersebut, terutama dalam mengatur keberadaan para pedagang yang semakin meluas.

Hadi menyadari bahwa kompleks Dadaha telah menjadi magnet bagi para pedagang untuk mencari penghidupan, namun dia juga menyoroti keterbatasan area bagi para pedagang, yang membuat pendataan menjadi sangat penting terutama bagi mereka yang baru memulai usaha.

Keberadaan Paguyuban Dalas, yang terdiri dari pemuda dan warga sekitar Kompleks Dadaha, menurutnya merupakan bukti konkret dari kepedulian terhadap keindahan dan kenyamanan lingkungan. Hadi menekankan bahwa kehadiran mereka didasari oleh kepedulian, sehingga diperlukan pemikiran positif untuk mengelola kawasan tersebut dengan lebih baik.

"Kita hadir disini atas dasar kepedulian sehingga diperlukan pemikiran positif untuk pengelolaan kawasan yang lebih baik."ungkapnya

Sebagai bagian dari solusi, menurutna Dalas bertindak sebagai filter dan kontributor nilai-nilai kemanusiaan untuk meningkatkan kesejahteraan lingkungan, ia berkomitmen untuk memberikan contoh yang baik dan menunjukkan kebersamaan dalam upaya penataan Kawasan Dadaha.

Di sisi lain, Plh Kepala UPTD Pengelola Komplek Dadaha, Mulyono, yang menjadi mediator pertemuan, menyampaikan keyakinannya bahwa ratusan pedagang yang ada sudah bisa diatur.

"Yang diperlukan sekarang adalah pembentukan pola kepengurusan yang memudahkan koordinasi di antara para pedagang dan pengelola. Hal ini diharapkan dapat menciptakan kawasan yang lebih nyaman dan berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan pedagang." harapnya

Mulyono menjelaskan bahwa pertemuan ini merupakan sebuah musyawarah untuk menciptakan satu wadah yang memudahkan koordinasi dalam pengelolaan Kawasan Dadaha. Melalui kepengurusan yang terbentuk, rencananya akan dilakukan kolaborasi dengan berbagai instansi terkait untuk melakukan penataan yang lebih baik.

Mulyono menyebut salah satu lahan disamping GOR Sukapura akan dijadikan sebagai lokasi sekretariat pengurus, yang diharapkan dapat menjadi contoh dalam penataan pedagang kaki lima di kawasan sejenis.

Dengan sinergi antara warga, paguyuban, dan para pedagang UPTD Pengelola Dadaha berharap penataan Kawasan Dadaha dapat menjadi satu percontohan yang sukses dalam peningkatan kesejahteraan pedagang dan keindahan lingkungan secara keseluruhan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES