Peristiwa Daerah

Kisah Jhonny Iskandar Semasa di Ponpes Genggong, Asah Vokal hingga Ciptakan Mars Pesantren

Jumat, 10 Mei 2024 - 19:42 | 68.78k
Jhonny Iskandar, penyanyi legendaris yang mengasah vokalnya sejak di pesantren. (FOTO: Antara)
Jhonny Iskandar, penyanyi legendaris yang mengasah vokalnya sejak di pesantren. (FOTO: Antara)

TIMESINDONESIA, PROBOLINGGO – Duka mendalam menyelimuti dunia musik Indonesia dengan berpulangnya Jhonny Iskandar, pada Jumat (10/5/2024). Seorang musisi dangdut terkenal ini meninggal dunia pada usia 64 tahun.

Musisi legendaris ini meninggalkan warisan musikal yang kaya dan kenangan tak terlupakan bagi para penggemarnya.

Jhonny Iskandar, yang dikenal sebagai anggota penting dari grup band Orkes Moral Pengantar Minum Racun (OM PMR), memiliki hubungan khusus dengan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong di Kabupaten Probolinggo.

Pengalamann itu terukir selama empat tahun, dari 1973 hingga 1977, ketika masih mengenyam pendidikan di pesantren tersebut. Penjara suci itulah yang mampu membentuk sebagian dari karakter dan karya-karyanya.

Pengasuh Ponpes Zainul Hasan Genggong, Gus dr. Moh. Haris Damanhuri, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam atas kepergian almarhum. Jhonny dikenal sebagai santri senior hng berbakat dan memupuk bakatnya sejak masih di pesantren.

"Kami benar-benar merasa kehilangan atas berpulangnya mas Jhonny Iskandar, santri senior yang berbakat dari Pesantren Genggong. Kami berdoa agar beliau mendapatkan Husnul khatimah," ujar Gus Haris.

Dalam kenangan Gus Haris, sosok Jhonny Iskandar merupakan sosok yang ramah dan bersahabat, yang mampu berinteraksi dengan siapa saja dengan penuh kehangatan dan keceriaan.

"Beliau dikenal karena lagu-lagunya yang sederhana namun mengena di hati, yang dengan mudah diingat dan dinyanyikan oleh banyak orang," tambahnya.

Gus Haris berharap agar semangat dan karya Jhonny Iskandar dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi santri saat ini dan yang akan datang. "Semoga almarhum dipenuhi dengan rahmat dan ampunan dari Allah," tutup Gus Haris dengan penuh harap.

Kehilangan Jhonny Iskandar tidak hanya dirasakan oleh keluarga besar Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, tetapi juga oleh seluruh pecinta musik dangdut di Indonesia. Karya-karyanya akan terus hidup dan menginspirasi banyak orang, dan kenangan tentang sosoknya akan selalu terpatri dalam sejarah musik Indonesia.

Jhonny Iskandar Semasa di Pesantren

Jhonny menghabiskan sebagian dari masa mudanya di lingkungan pesantren, belajar di Pesantren Zainul Hasan Genggong dari tahun 1973 hingga 1977. Meskipun hanya empat tahun, pengalaman tersebut meninggalkan kesan mendalam dalam hidupnya. Ia mengenang bagaimana ia menggabungkan syair-syair religius dengan irama dangdut, sebuah perpaduan yang unik dan menghibur.

Asal-usulnya dari pulau Masalembu Madura membawanya ke Pesantren Zaha Genggong, tempat di mana banyak tetangga sebayanya juga belajar. Di sana, bakat musiknya semakin terasah, sering kali ia diundang untuk bernyanyi di pasar dan mendapatkan banyak hadiah karena suaranya yang merdu.

Jhonny tidak hanya dikenal sebagai penyanyi dangdut tetapi juga sebagai qori' yang mahir. Di pesantren, ia mengasah kemampuan ini dan bahkan diberi tanggung jawab untuk mengajar Qiroatul Qur'an kepada santri lainnya. Ia juga menjadi bagian dari grup zafin Hijir Marawis Genggong, di mana ia mengingat dengan jelas setiap anggota grup tersebut.

Selama di pesantren, Jhonny juga mendapat kesempatan untuk mengajar, belajar, dan menghabiskan waktu bersama almarhum KH Hasan Saifourridzall, pengasuh ketiga Pesantren Zaha Genggong. Ia mengenang bagaimana ia sering diajak oleh kiai dan merasa diperlakukan seperti keluarga.

Salah satu momen yang tidak terlupakan bagi Jhonny adalah ketika ia dibaiat oleh KH Ahmad Taufik Hidayatullah, salah satu pengasuh pesantren. Ia merasa bahwa suaranya, yang merupakan aset terbesarnya, mendapat pengakuan dan restu.

Setelah menyelesaikan masa belajarnya di pesantren pada tahun 1977, Jhonny pindah ke Jakarta bersama orang tuanya dan melanjutkan pendidikannya di SMA. Di sana, ia terus mengembangkan bakat vokalnya dengan membentuk grup musik. Grup ini sering tampil di berbagai acara dan lomba, dengan Jhonny selalu berhasil memenangkan juara.

Kemudian, kebetulan Jhonny memiliki tetangga yang bekerja sebagai penyiar di radio Prambors, yang populer di Jakarta saat itu. Melalui tetangga ini, Jhonny mendapat kesempatan untuk menjadi penyiar dan menyanyi di radio tersebut, membawa grup musiknya bersamanya.

Ia juga berkontribusi pada Pesantren Zaha Genggong dengan membuat album yang sebagian lagunya diciptakan oleh KH Hasan Saifourridzall dan sebagian lagi oleh Jhonny sendiri. Album tersebut juga menampilkan doa khusus yang dibacakan oleh Kiai Hasan Saifourridzall, sebagai bentuk pengabdian Jhonny kepada pesantren. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ryan Haryanto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES