Peristiwa Daerah

Monumen Reog Disebut Berhala, Puluhan Seniman Ponorogo Memprotes dalam Aksi Damai

Minggu, 26 Mei 2024 - 19:41 | 111.54k
Seniman reog Ponorogo melakukan aksi kecam monumen reog disebut berhala di bawah bangunan Monumen Reog di Sampung. (Foto: Sumarno/TIMES Indonesia)
Seniman reog Ponorogo melakukan aksi kecam monumen reog disebut berhala di bawah bangunan Monumen Reog di Sampung. (Foto: Sumarno/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, PONOROGO – Puluhan seniman reog Ponorogo mengadakan aksi damai, Minggu (26/5/2024) sore. Aksi digelar di bawah bangunan Monumen Reog dan Museum Peradaban Ponorogo (MRMP) di Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo.

Mereka mengecam pernyataan yang menyebut Monumen Reog sebagai berhala. Dalam aksi tersebut, para seniman asal Sampung yang tergabung dalam paguyupan Regol Wengker mempertontonkan tari reog sambil menggelar orasi di sekitar monumen. 

Mereka dengan tegas menolak label berhala yang dilekatkan pada Monumen Reog, dan menyatakan bahwa monumen tersebut adalah simbol budaya Ponorogo yang adiluhung.

"Assalamulaikum Luur...iki nyanyi jare dianggep jare berhala, bali kampung kok arep mbubrahi Monumen Reog Ponorogo sing ono ing Sampung. Baiyuh...Kok ono lakon koyo ngene. Simbol budoyo Ponorogo sing adilhung kok dianggep berhala," begitu kata- kata orasi yang diteriakkan para seniman reog secara serentak. 

Suyadi, salah satu seniman, secara tegas mengecam ucapan yang menegaskan monumen reog.  “Intine kami mengecam dan menolak ucapan terkait Berhala yang ditujukan ke Monumen Reog,” tegasnya.

Ia menyatakan penolakan atas sebutan berhala yang diarahkan pada monumen tersebut.  Secara tegas ia menyatakan bahwa monumen reog adalah simbol budaya Ponorogo, bukan sesembahan.

“Monumen reog dibangun sebagai simbol budaya Ponorogo yang adiluhung, serta bakal mensejahterakan rakyat,” ujarnya.

Menurut Suyadi, pernyataan tersebut sangat menyakitkan bagi para seniman yang peduli dengan warisan budaya Ponorogo. 

Ia berharap agar aksi penolakan semacam ini tidak hanya dilakukan oleh paguyupan Regol Wengker. Tetapi juga melibatkan seluruh seniman untuk mengingatkan pentingnya melestarikan reog sebagai warisan nenek moyang asli Ponorogo.

“Para seniman harus bergerak menyuarakan dan mengecam ucapan itu. Karena Monumen Reog bukanlah berhala, melainkan simbol budaya Ponorogo yang harus dijaga dengan baik,” tukasnya.

Sebelumnya, kecaman dilakukan para seniman reog Ponorogo terkait cap Monumen Reog sebagai bangunan berhala, mulai dari paguyupan reog Margo Jati, Harimau Tenggara dan hari ini Regol Wengker dari Kecamatan Sampung Kabupaten Ponorogo. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES