Peristiwa Daerah

Bupati Banyuwangi Dorong Produksi Pisang Ambon Putih, Ini Alasannya

Rabu, 03 Juli 2024 - 20:06 | 10.51k
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas sedang memanen pisang ambon putih di lahan Sunarto. (FOTO: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas sedang memanen pisang ambon putih di lahan Sunarto. (FOTO: Humas Pemkab Banyuwangi for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, mendorong produksi tanaman hortikultura di Bumi Blambangan, salah satunya yakni pisang ambon putih atau cavendish. Karena pisang tersebut memiliki pangsa pasar yang luas dan harganya cenderung stabil. 

“Potensinya besar dan kita memiliki alam yang cocok untuk jenis pisang ini. Ini harus kita optimalkan agar pendapatan dan kesejahteraan petani Banyuwangi bisa meningkat,” kata Ipuk, Rabu (3/7/2024). 

Untuk diketahui, pisang cavendish merupakan komoditas buah tropis yang sangat populer di dunia sehingga memiliki prospek pasar yang luas. Pengembangan buah ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan petani hortikultura di Banyuwangi.

Beberapa kecamatan di Banyuwangi telah melakukan budidaya dan pengembangan pisang ambon putih, di antaranya di Kecamatan Bangorejo, Tegaldlimo, Purwoharjo, dan Muncar. 

Namun, untuk sentra pisang cavendish di Banyuwangi terletak di Kecamatan Cluring. Saat ini, total luasan tanaman pisang Cavendish di Kecamatan Cluring mencapai 10 hektar.

Saat melaksanakan program Bunga Desa (Bupati Ngantor di Desa), pada Kamis (27/6/2024) lalu, Ipuk menyempatkan diri untuk melihat langsung dan memanen pisang ambon milik Sunarto, salah satu petani pisang ambon putih di Desa Cluring.

Dihadapan Ipuk, Sunarto menceritakan pihaknya mengembangkan pisang Cavendish berjenis Grand Nine (G9). Pisang tersebut memiliki karakteristik ukuran buah lebih besar, tekstur daging buah yang lembut, dan rasa manis asam.

Awal mulanya, Sunarto merupakan seorang petani cabai. Namun sejak lima tahun lalu, dia beralih menjadi petani pisang Cavendish karena dinilai lebih menguntungkan. Selain harganya lebih stabil, perawatannya tidak rumit. Biaya operasionalnya juga lebih murah. 

“Permintaan pisang cavendish sangat tinggi, sehingga prospek ke depan lebih menjanjikan. Kita tidak kerepotan mencari pasar karena buah ini sangat diminati,” kata Sunarto.

Sunarto menyampaikan, bahwa menanam pisang cavendish memerlukan keuletan dan ketelatenan. Pemilihan bibit yang unggul, proses penanaman, cara perawatan, hingga penanganan pasca panen sangat menentukan kualitas buah yang dihasilkan.

Rata-rata satu pohon mampu memproduksi pisang cavendish seberat 20 klogam (kg). Hasil panennya ini akan langsung diambil oleh pengepul, untuk diproses dan dipasarkan ke sejumlah supermarket di wilayah Surabaya, Bali, dan beberapa kota besar lainnya.

“Harga dari kami Rp6.000 per kilogram. Jadi kalau dirata-rata per pohon bisa menghasilkan Rp120.000,” imbuhnya.

Saat ini, Sunarto memiliki 500 pohon pisang Cavendish di lahannya. Kalau dirata-rata produksinya bisa mencapai 1 ton dengan omzet mencapai Rp60 juta dalam satu musim tanam.

Kisah Sunarto ini merupakan salah satu bahwa pertanian hortikultura jika dikembangkan hasilnya cukup memuaskan dan dapat meningkatkan kesejahteraan. Diharapkan dengan dukungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi, hasil produksi tanaman hortikultura bisa menjangkau ke pasar yang lebih luas lagi. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES