Peristiwa Daerah

Penyuluh Pertanian dari Tasikmalaya Ciptakan Paralon Vertikultur Sayur

Sabtu, 06 Juli 2024 - 10:35 | 15.49k
Yusep Yustiana SP, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) inovator Paralon Vertikultur Sayur, dari Kota Tasikmalaya, Jumat (5/7/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)
Yusep Yustiana SP, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) inovator Paralon Vertikultur Sayur, dari Kota Tasikmalaya, Jumat (5/7/2024) (FOTO: Harniwan Obech/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, TASIKMALAYA – Pertanian selalu identik dengan penggunaan lahan yang luas, baik itu persawahan maupun perkebunan buah dan sayuran. Namun, paradigma ini dipatahkan oleh Yusep Yustiana, seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Cipedes, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat..

Dengan latar belakang pendidikan dari Institut Pertanian Bogor dan Magister Agroteknologi di Universitas Siliwangi, Yusep yang akrab disapa Kang Mantri terus berinovasi dalam bidang pertanian, salah satunya melalui Paralon Vertikultur Sayur.

Saat ditemui TIMES Indonesia, Yusep menjelaskan bahwa Kota Tasikmalaya sedang berkembang dalam membangun infrastruktur. Namun, di balik itu, Tasikmalaya memiliki luas lahan tidur yang cukup besar.

"Tasikmalaya memiliki potensi lahan yang cukup untuk dikelola dalam bidang pertanian. Kegiatan urban farming harus terus dihidupkan di Kota Tasikmalaya," ungkap Yusep di salah satu saung Gapoktan di wilayah Kahuripan, Tawang, Kota Tasikmalaya, Sabtu (6/7/2024).

Urban Farming dan Manfaatnya

Menurut Yusep, urban farming adalah upaya untuk menghidupkan kembali lingkungan, menciptakan lahan hijau, serta mengurangi panas dan polusi udara. Gerakan urban farming, lanjutnya, dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan berdampak positif terhadap kesehatan tubuh serta kesejahteraan keluarga.

Inovasi Paralon Vertikultur Sayur yang ia ciptakan telah melalui proses panjang dan penuh dedikasi. Karyanya ini berhasil meraih juara ketiga dalam lomba Inovasi Teknologi Tepat Guna (TTG) yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bapelitbangda) Kota Tasikmalaya tahun 2024.

Keberhasilan ini terasa istimewa karena Yusep adalah satu-satunya peserta dari kalangan non-akademisi yang berhasil menembus tiga besar.
Atas prestasinya, Pemerintah Kota Tasikmalaya mengusulkan Yusep untuk mewakili kota ini dalam lomba Aparatur Sipil Negara (ASN) berprestasi tingkat Jawa Barat. Yusep yang tergabung dalam wadah DPD Perhiptani Kota Tasikmalaya mengungkapkan rasa syukurnya atas apresiasi yang diterimanya.

Ia berharap inovasi Paralon Vertikultur Sayur dapat menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin bertani meskipun memiliki lahan terbatas. Teknologi ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat Tasikmalaya, terutama di perkotaan yang minim lahan pertanian.

"Inspirasinya memang berawal karena terdorong situasi di mana alih fungsi lahan yang sporadis serta pertambahan jumlah penduduk yang tinggi. Hal itu membuat lingkungan perkotaan seperti di Cihideung, Tawang, dan lainnya sangat minim lahan untuk bertani," ujar Yusep.

Teknik Vertikultur yang Efektif

Vertikultur merupakan teknik budidaya di lahan sempit dengan memanfaatkan bidang vertikal sebagai lahan tumbuh. Teknik ini sangat cocok untuk perkotaan yang tidak memiliki lahan luas. "Dengan karakter perkotaan yang tidak punya lahan luas, maka teknologi ini saya kira bisa jadi solusi," tambahnya.

Model vertikultur menurutnya bisa berbentuk persegi panjang, segitiga, piramida, rak, dan lainnya sesuai kreativitas. Bahan yang digunakan bisa dari bambu, paralon, kaleng bekas, karung bekas, dan lainnya. Yusep memilih pipa paralon karena lebih efisien, mudah dibuat, dapat menampung lebih banyak tanaman, serta memiliki nilai estetika yang tinggi.

Inovasi Paralon Vertikultur Sayur gagasanya juga menjadi bahan penelitian dalam tesis magister agroteknologinya di Universitas Siliwangi. Tesisnya yang berjudul "Pengaruh Media Tanam dan Interval Waktu Penyiraman terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Selada pada Sistem Vertikultur" mendapatkan banyak perhatian.

Untuk menyempurnakan penelitiannya, Yusep membuat demplot dan pengkajian lapangan di kelompok tani Tunas Harapan Kahuripan dan Kelompok Wanita Tani (KWT) Srigalih Mukti Kahuripan. Di sana, ia mensosialisasikan hasil penelitiannya kepada berbagai kelompok tani dan masyarakat.

Yusep berharap inovasi ini dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat untuk memperoleh sumber pangan sendiri dengan memaksimalkan lahan yang ada. Inovasi seperti Paralon Vertikultur Sayur sangat penting di tengah keterbatasan lahan pertanian di perkotaan.

Pasar Tani: Menggerakkan Ekonomi Lokal

Tidak hanya itu, untuk memasarkan hasil dari program urban farming yang ia kembangkan di wilayah binaanya, Yusep mendorong para petani untuk mengadakan pasar tani di setiap kelurahan yang diadakan oleh beberapa gabungan kelompok tani (gapoktan), bekerjasama dengan pemerintah kelurahan dan kecamatan.

"Kita buat pasar tani yang akan merangsang perbaikan kegiatan usahatani mulai dari hulu sampai hilir sektor agribisnis. Petani sekarang  dituntut agar mengerti produk terbaik sesuai keinginan konsumen, sehingga mereka diharuskan mengetahui bagaimana memproduksi produk pertanian yang berkualitas melalui GHP (Good Handling Practices) agribisnis," jelas Yusep.

Pasar tani menurutnya akan memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap perkembangan urban farming. Hal ini tidak terlepas dari bagaimana para petani dituntut mengerti komponen dasar pengelolaan komoditas pertanian.

Para petani juga akan dituntut untuk memperhatikan metode budidaya yang baik mulai dari persiapan lahan, benih, pemupukan, panen, dan pascapanen sehingga menciptakan integrasi segala aspek agribisnis.

Selain itu, pasar tani juga menghubungkan jalur pemasaran dan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi petani, poktan, dan Kelompok Wanita Tani (KWT) dengan para stakeholder terkait.

Ini memungkinkan keuntungan dengan memotong rantai pemasaran dan memberi keuntungan lebih bagi para petani. Pasar tani juga merangsang pelaku utama pertanian untuk menjadi pelaku usaha pertanian dengan menerapkan konsep NTDS (nilai tambah dan daya saing) produk pertanian.

"Pada akhirnya para petani diharuskan meningkatkan nilai tambah dan daya saing produk mereka, salah satunya dengan menerapkan perlakuan pascapanen yang baik dan pengolahan hasil pertanian agar memperoleh harga yang lebih tinggi dan daya tahan produk yang lebih lama."pungkasnya

Dengan inovasi dan prestasinya ini, Yusep Yustiana SP tidak hanya mengharumkan nama Kota Tasikmalaya, tetapi juga memberikan inspirasi bagi banyak orang untuk terus berinovasi dan berkontribusi bagi pertanian berkelanjutan di Indonesia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES