Sampah Visual Jelang Pilkada, Ribuan Baliho Bikin Kotor Kota Malang

TIMESINDONESIA, MALANG – Menjelang Pilkada 2024 Kota Malang yang akan digelar 27 November 2024, Kota Malang, Jawa Timur mulai dipenuhi dengan baliho pilkada dan spanduk kampanye dari berbagai calon. Baliho bergambar tokoh tersebut dipasang secara tidak beraturan, menyebabkan adanya sampah visual di sejumlah daerah kota.
Fenomena ini tidak hanya menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga, karena banyak baliho bahkan terlihat dipasang di tempat yang tidak semestinya, seperti di trotoar, tiang listrik, dan pohon, mengganggu estetika kota dan kenyamanan pejalan kaki.
Advertisement
Menurut Megasari Noer Fatanti, S.I.Kom, M.I.Kom, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang, fenomena baliho tidak hanya terjadi di Indonesia di beberapa negara lain juga ada, meskipun bentuknya berbeda-beda. Efektivitas baliho dalam kampanye belum bisa dipastikan karena pemilihan belum terlaksana.
Megasari Noer Fatanti, S.I.Kom, M.I.Kom dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (FOTO: Megasari Noer Fatanti, S.I.Kom, M.I.Kom)
"Efektivitas baliho baru bisa dinilai setelah pemilihan selesai. Baliho digunakan untuk pengenalan diri dan belum tentu mempengaruhi persepsi masyarakat untuk memilih," ucapnnya kepada TIMES Indonesia, Kamis (6/7/2024).
Menurutnya, tujuan utama baliho adalah membuat orang tahu dan tertarik, serta menyasar pasar tertentu. Baliho bisa menjadi ajang persaingan antar calon, terutama bagi mereka yang memiliki modal besar dan akses luas, memungkinkan mereka menguasai kampanye. Semakin banyak publik disuguhi foto, semakin mudah mereka mengingat calon tersebut.
Selain baliho, ada banyak alat kampanye lainnya, seperti media sosial. Namun, kadangkala sulit memilah informasi yang benar dan palsu di media sosial. Ditambah lagi, perilaku pemilih kita seringkali didorong oleh tren dan ikut-ikutan, bukan karena partisipasi politik yang matang.
Salah satu baliho bergambar tokoh terkait Pilkada Kota Malang yang ada di Jalan MT Hariyono, Kota Malang. (FOTO: Valentina Kusmila Putri/TIMES Indonesia)
"Media lain seperti radio atau podcast juga bisa digunakan untuk kampanye, karena memungkinkan calon untuk dikenal melalui suara dan penampilan mereka, bukan hanya dari gambar," lanjut Megasari.
Pemasangan baliho tergantung pada kepatuhan politisi terhadap aturan yang berlaku. Keberhasilan politisi tidak hanya diukur dari pemasangan baliho, tetapi juga dari program kerja dan pesona diri mereka.
Sementara itu, Tri Lestari, salah satu warga berpendapat, baliho yang dipasang sebenarnya tidak menjadi masalah besar apabila dipasang secara beraturan dan tidak di trotoar karena bisa mengganggu pejalan kaki. Selain itu, pemasangan di pohon dengan paku juga merusak lingkungan.
Menurutnya, banyaknya baliho menjelang pilkada sebenarnya wajar untuk mengenalkan diri, tetapi pemasangannya perlu lebih diperhatikan agar tidak mengganggu.
Tri Lestari juga menyarankan untuk mengganti baliho dengan videotron agar lebih menarik dan tidak mengganggu sekitar. Dia juga menyarankan dinas terkait menertibkan baliho yang tidak beraturan karena dikhawatirkan membahayakan dan mengganggu orang di jalan.
Ia berharap, kampanye Pilkada di Malang dapat berjalan dengan lebih tertib dan mendidik, sehingga dapat memberikan contoh yang baik bagi masyarakat mengenai pentingnya kepatuhan terhadap aturan dan kesadaran akan pentingnya menjaga keindahan kota. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
Publisher | : Sofyan Saqi Futaki |