Peristiwa Internasional

Belanda Hentikan Pengiriman Suku Cadang F-35 ke Israel, Ini Alasannya

Selasa, 13 Februari 2024 - 09:45 | 14.02k
Jet tempur F-35 milik Israel saat terlihat di Beersheba, Israel.(FOTO: The New York Times)
Jet tempur F-35 milik Israel saat terlihat di Beersheba, Israel.(FOTO: The New York Times)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pengadilan Belanda mengabulkan permohonan banding dari organisasi hak asasi manusia, agar negerinya menghentikan pengiriman suku cadang untuk jet F-35 ke Israel.

Keputusan pengadilan di Belanda itu merupakan langkah yang mencerminkan meningkatnya kekhawatiran atas banyaknya korban sipil dalam perang Israel di Gaza, meski mungkin tidak akan berdampak langsung pada kampanye militer Israel.

Belanda adalah gudang suku cadang F-35 milik AS yang diekspor ke negara-negara yang mengoperasikan pesawat tempur tersebut.

Oxfam dan dua organisasi hak asasi manusia lainnya mengajukan gugatan terhadap pemerintah Belanda pada bulan Desember lalu, dan menuntut pemerintah Belanda menghentikan ekspor suku cadang F-35 di tengah kekhawatiran atas potensi pelanggaran Israel terhadap hukum internasional di Gaza.

Dalam keputusan awal pada bulan Desember lalu, pemerintah menolak mengeluarkan perintah tersebut. Tetapi pada hari Senin kemarin, pengadilan banding di Den Haag mengatakan tidak ada kesepakatan dengan kelompok hak asasi manusia.

Pemerintah Belanda diberi waktu tujuh hari untuk menghentikan ekspor suku cadang F-35 ke Israel.

Pengadilan menemukan bahwa ada risiko yang jelas bahwa jet tempur F-35 Israel kemungkinan digunakan untuk melakukan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional, begitu bunyi keputusan pengadilan tersebut.

Pemerintah Belanda mengatakan akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung negara tersebut terhadap keputusan tersebut, yang diambil ketika Perdana Menteri Mark Rutte sedang mengunjungi Israel.

Kementerian Sementara Pertahanan Israel menolak berkomentar.

Lebih dari 28.000 warga Palestina telah dibunuh tentara Israel baik melalui serangan pesawat udara, laut dan darat di Gaza.

Menurut pejabat kesehatan di sana, Israel melancarkan perang balasan terhadap Hamas setelah serangan mematikan kelompok bersenjata tersebut pada 7 Oktober.

Organisasi-organisasi hak asasi manusia semakin memblokir negara-negara untuk memblokir ekspor senjata ke Israel untuk memprotes cara negara tersebut melakukan serangannya.

Pada hari Senin, diplomat utama Uni Eropa, Josep Borrell Fontelles menyarankan masyarakat internasional harus mempertimbangkan untuk menyediakan lebih sedikit senjata.

Para analis mengatakan keputusan hari Senin kemungkinan akan berdampak kecil pada kemampuan militer Israel, mengingat mereka memiliki senjata lain dan suku cadang F-35 tersedia di tempat lain. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES