Peristiwa Internasional

Faksi-Faksi Palestina Berusaha Bersatu dalam Pertemuan di Rusia

Minggu, 03 Maret 2024 - 08:11 | 19.58k
Azzam Al-Ahmad, anggota komite Fatah dan Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) keluar setelah pertemuan intra-Palestina di Moskow. (FOTO: CNN/AP).
Azzam Al-Ahmad, anggota komite Fatah dan Komite Eksekutif Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) keluar setelah pertemuan intra-Palestina di Moskow. (FOTO: CNN/AP).

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Faksi-faksi di Palestina yang mengadakan pertemuan di Moskow, Rusia berusaha membentuk pemerintahan persatuan nasional termasuk Hamas dan Fatah.

Faksi-faksi Palestina, yang beberapa di antaranya telah berselisih selama hampir dua dekade itu bertemu di Moskow untuk membahas pembentukan pemerintahan baru hanya beberapa hari setelah pemerintahan Otoritas Palestina runtuh.

Mengakhiri pertemuan dua hari di Moskow, kelompok-kelompok Palestina, termasuk Hamas, mengeluarkan pernyataan bersama pada hari Jumat, menyatakan dukungan mereka yang teguh terhadap Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai satu-satunya perwakilan sah rakyat Palestina.

Faksi-faksi tersebut menggambarkan pertemuan tersebut sebagai pertemuan yang “positif dan konstruktif,” tekanan perlunya menghadapi agresi Israel dan menolak upaya mengusir warga Palestina dari tanah air mereka, khususnya di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem.

Mereka juga berkumpul di blokade pencabutan di Gaza dan Tepi Barat untuk memastikan pengiriman bantuan kemanusiaan tanpa batasan.

Menolak segala upaya untuk memisahkan Gaza dari Tepi Barat, faksi-faksi tersebut menegaskan hak untuk menentukan nasib sendiri dan membentuk negara merdeka dengan kedaulatan penuh atas seluruh wilayah Palestina yang diduduki.

Lebih jauh lagi, gerakan-gerakan Palestina menekankan pentingnya mencegah konsolidasi pendudukan Israel dan kendali atas bagian mana pun di Gaza atau wilayah pendudukan lainnya.

Hussein Hamayel, juru bicara partai politik Fatah, menyatakan bahwa pembicaraan tersebut bertujuan untuk membentuk pemerintahan teknokratis dan menekankan pentingnya persatuan di antara faksi-faksi.

Pertemuan ini terjadi tak lama setelah pengunduran diri pemerintah Palestina, sehingga membuka jalan bagi diskusi mengenai pembentukan pemerintahan baru.

“Tujuannya adalah untuk membentuk pemerintahan baru di Otoritas Palestina, yang memerintah sebagian Tepi Barat,” kata Hamayel kepada CNN.

Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad al-Maliki telah menyatakan harapannya bahwa perundingan tersebut akan menghasilkan pemahaman tentang perlunya pemerintahan teknokratis, meskipun ia tidak mengantisipasi adanya invasi dalam waktu dekat.

Ia menyarankan agar pertemuan di Moskow dilanjutkan dengan pertemuan lebih lanjut di wilayah tersebut.

Faksi-faksi tersebut juga menyatakan dukungannya terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel dan tekanan peran Badan Bantuan dan Pekerjaan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) dalam merawat pengungsi Palestina, menurut pernyataan 10 klausul tersebut.

Mereka menegaskan komitmennya pada jalur perlawanan dan perjuangan hingga pembebasan Palestina dan berdirinya negara Palestina merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

Seperti Tiongkok, Rusia juga menentang sikap Barat yang absolut dan bias terhadap Israel. 

Pada tanggal 18 Januari, delegasi Hamas mengunjungi Moskow untuk kedua kalinya sejak perang dimulai, setelah kunjungan pertama pada tanggal 26 Oktober.

"Faksi-faksi Palestina yang berkumpul di kota Moskow menyampaikan terima kasih dan penghargaan mereka kepada kepemimpinan Rusia yang menjadi tuan rumah pertemuan mereka dan atas mendukung perjuangan Palestina," tulis faksi-faksi tersebut.

Hadir dalam pertemuan tersebut dari pihak Gerakan Hamas, Jihad Islam Palestina (PIJ), Gerakan Fatah, Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP), Front Demokratik untuk Pembebasan Palestina (DFLP), Komando Umum PFLP, dan organisasi Al-Saiqa, serta beberapa kelompok lainnya.

Mengingat agresi kriminal Zionis terhadap rakyat Palestina, maka semangat positif dan konstruktif yang muncul dalam pertemuan tersebut sepakat bahwa pertemuan ini akan terus berlanjut dan segera diadakan.

Pernyataan itu juga terdengar untuk menggagalkan upaya Israel dalam usahanya menggusur warga Palestina, baik di Jalur Gaza, Tepi Barat yang diduduki, atau kota suci Yerusalem.

Mereka juga menekankan penekanan pada perluasan permukiman ilegal.

Faksi-faksi tersebut menghancurkan upaya untuk mencabut pengepungan di Gaza dan mengakhiri pendudukan Tepi Barat.

Mereka juga mempunyai tujuan untuk memaksa Israel menarik diri dari Jalur Gaza dan mencegah upaya untuk melakukan pendudukan atau kendali atas bagian mana pun di Jalur Gaza dengan dalih zona penyangga seperti yang disampaikan Perdana Menteri Israel , Benjamin Netanyahu baru-baru ini tentang rencana untuk Gaza pasca perang .

Pernyataan tersebut sepenuhnya menolak setiap upaya untuk memisahkan Jalur Gaza dari Tepi Barat, termasuk Yerusalem, sebagai bagian dari upaya untuk merampas hak rakyat Palestina untuk menentukan nasibnya sendiri.

Rusia, pada 16 Februari 2024 lalu mengundang faksi-faksi di Palestina untuk melakukan dialog nasional di Moskow. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES