Peristiwa Internasional

Erdogan Sebut Barat Terapkan Standar Ganda Sikapi Perang Israel-Iran

Rabu, 17 April 2024 - 10:54 | 21.91k
Jejak api di langit di atas Yerusalem setelah Iran meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel, di Yerusalem pada 14 April. (FOTO: CNN/Reuters)
Jejak api di langit di atas Yerusalem setelah Iran meluncurkan drone dan rudal ke arah Israel, di Yerusalem pada 14 April. (FOTO: CNN/Reuters)

TIMESINDONESIA, JAKARTAPresiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menuduh  negara-negara Barat menerapkan standar ganda dalam menyikapi konflik Iran-Israel.

Amerika Serikat juga sangat aktif menyalahkan Iran bahkan langsung  menyusun bentuk sanksi lagi yang bertujuan untuk mengganggu aktivitas dan perekonomian Iran.

Baik Amerika Serikat dan negara-negara Barat sama sekali tidak mengutuk Israel yang mendahului menyerang konsulat Iran di ibu kota Damaskus, Suriah1 April lalu yang menyebabkan tujuh petugas Korps Garda Revolusi Islam meninggal, termasuk dua komandan seniornya Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan Jenderal Mohammad Hadi Hajriahimi.

Dalam pidatonya yang disiarkan televisi pada hari Selasa, Presiden Turki mengatakan, pemerintahannya akan melanjutkan upaya diplomatik yang menurutnya bertujuan untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah.

"Penargetan Israel terhadap (misi) Iran di Damaskus yang melanggar hukum internasional dan Konvensi Wina adalah langkah terakhir," kata Erdogan.

Recep Tayyip Erdogan pada hari Selasa juga mengatakan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu adalah orang utama yang seharusnya disalahkan atas serangan langsung kepada Iran.

"Pihak utama yang bertanggung jawab atas ketegangan yang mencengkeram hati kami pada malam tanggal 13 April adalah Netanyahu dan pemerintahannya yang penuh darah," kata pemimpin Turki itu.

Presiden Turki itu sering mengkritik Israel dan kepemimpinannya, dalam pidatonya yang disiarkan televisi.

Namun Amerika Serikat dan sekutunya di negara-negara barat seolah tutup mata atas  kelakuan Israel. Dengan membabi buta mereka menyalahkan Iran.

Padahal serangan balasan Iran itu adalah untuk membela diri, merespons serangan udara yang dilakukan oleh Israel di kantor konsulatnya di Suriah yang menewaskan dua jenderal paramiliter Garda Revolusi itu.

Israel mengatakan bahwa lebih dari 300 drone dan rudal diluncurkan oleh Iran pada Sabtu malam tetapi mereka berhasil mencegat 99% di antaranya.

Israel mengatakan bahwa lebih dari 300 drone dan rudal diluncurkan oleh Iran pada Sabtu malam tetapi mereka berhasil mencegat 99% di antaranya.

Serangan Iran semakin memicu kekhawatiran akan perang di Gaza yang dimulai pada 7 Oktober 2023, setelah Hamas melancarkan serangan lintas batas terhadap Israel yang mengakibatkan kematian 1.170 orang, sebagian besar warga sipil

Sedangkan serangan balasan Israel, sampai kok telah menyebabkan sedikitnya 33.729 orang di Gaza meninggal dunia dan tragisnya sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak.

Ngotot Kecam Iran

Beberapa pemimpin dunia seperti Presiden AS Joe Biden, dan PM Inggris Rishi Sunak ngotot mengecam tindakan Iran itu.

Bahkan menurut Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan, Amerika Serikat berencana menjatuhkan sanksi baru yang menargetkan Iran setelah negara itu melancarkan serangan balasan terhadap Israel.

Menteri Keuangan AS, Janet Yellen sebelumnya juga telah mengumumkan, pemerintahan Joe Biden akan menggunakan sanksi untuk terus mengganggu aktivitas Iran yang dianggap telah merusak dan mengganggu stabilitas.

"Dari serangan akhir pekan ini hingga serangan Houthi di Laut Merah, tindakan Iran mengancam stabilitas kawasan dan bisa menyebabkan dampak buruk terhadap perekonomian," katanya pada konferensi pers.

Presiden Rusia, Vladimir Putin pada hari Selasa mendesak semua pihak di Timur Tengah untuk menahan diri dari tindakan yang bisa memicu konfrontasi baru yang ia peringatkan akan memiliki konsekuensi bencana bagi wilayah tersebut.

Putin, yang telah menjalin hubungan lebih dekat dengan Republik Islam Iran sejak mengirim pasukan ke Ukraina pada tahun 2022, berbicara dengan Presiden Iran Ebrahim Raisi melalui telepon tentang apa yang disebut Kremlin sebagai "tindakan pembalasan yang diambil oleh Iran".

Sementara itu, seorang pejabat Iran mengatakan, negaranya akan merespons dalam hitungan "detik" jika Israel masih berusaha membalas serangannya pada akhir pekan.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Ali Bagheri Kani mengatakan pada Senin malam bahwa Israel akan menghadapi respon tegas dan keras jika mengambil tindakan lebih lanjut terhadap Iran.

Dengan dibantu Amerika Serikat, Inggris, Yordania dan negara-negara lain, Israel, Sabtu malam berhasil mencegat hampir semua proyektil dan mencegah jatuhnya korban atau kerusakan besar.

Ini adalah kali pertama Iran melancarkan serangan militer langsung terhadap Israel setelah puluhan tahun bermusuhan sejak Revolusi Islam Iran pada tahun 1979.

Bagheri Kani menambahkan, “tidak akan ada lagi jeda 12 atau 13 hari antara tindakan Israel dan respons kuat Iran. "Zionis sekarang harus memperhitungkannya dalam hitungan detik, bukan jam," katanya.

Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menuduh  negara-negara Barat menerapkan standar ganda dalam menyikapi konflik Iran-Israel. Begitu juga Amerika Serikat.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES