Peristiwa Internasional

Israel Menggempur Rafah, Tiga Keluarga Meninggal Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 14:14 | 21.00k
Seorang wanita dan anak-anak berjalan melewati bangunan yang hancur pada hari Senin di Khan Younis, Jalur Gaza. (FOTO: The Washington Post/AFP/Getty Images)
Seorang wanita dan anak-anak berjalan melewati bangunan yang hancur pada hari Senin di Khan Younis, Jalur Gaza. (FOTO: The Washington Post/AFP/Getty Images)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Israel mulai menggempur Rafah secara intensif dan tiga anggota sebuah keluarga di Rafah meninggal dunia serta empat lainnya terluka setelah serangan militer itu menghantam rumah mereka di Rafah, Gaza selatan, Selasa malam.

Dilansir Al Jazeera, dalam semalaman itu penembakan artileri Israel terus menerus terjadi di lingkungan Beit Lahiya, Beit Hanoon dan Jabalia, di utara Gaza.

Hantaman senjata artileri itu menyusul perintah militer Israel pada Selasa malam,  agar orang-orang mengungsi dari daerah di utara wilayah Palestina itu.

Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi baru di wilayah Gaza utara yang dikatakannya sebagai zona pertempuran berbahaya.

Seorang juru bicara militer Israel mengatakan, masyarakat didesak untuk melarikan diri dari daerah Beit Lahia di timur laut wilayah tersebut.

Daerah tersebut terletak tidak jauh dari kota Beit Hanoun, tempat tank-tank Israel melakukan serangan baru dalam semalam.

Ada juga laporan penembakan di kota terdekat Jabalia dan distrik Zeitoun.

Menurut Kementerian Kesehatan Gaza, serangan Israel sejak peristiwa 7 Oktober 2023 di Gaza,  telah membunuh sedikitnya 34.183 orang warga Palestina.

Direktur eksekutif Amnesty International AS, Usman Hamid mengatakan, pasukan Israel di Gaza melakukan kejahatan perang terhadap rakyat Palestina dengan menggunakan amunisi buatan Amerika Serikat, dan ia menyerukan penghentian semua pengiriman senjata AS ke Israel.

Tapi, AS dipimpin Joe Biden tidak peduli. Amerika Serikat tetap berada di pihak Israel.

Bahkan terbaru, senat AS, dengan dukungan bipartisan yang luas, menyetujui paket bantuan luar negeri senilai $95 miliar, Selasa malam, itu termasuk bantuan untuk Israel. Bahkan bantuan untuk Israel yang terbesar

Undang-undang tersebut menyatukan empat rancangan undang-undang yang disetujui DPR secara terpisah dalam sesi yang jarang terjadi pada hari Sabtu, dengan menyediakan lebih dari $26 miliar untuk Israel, hampir $61 miliar bantuan untuk Ukraina, dan lebih dari $8 miliar untuk Indo-Pasifik. 

Pemungutan suara terakhir adalah 79-18. Lima belas anggota Partai Republik memberikan suara, dan tiga anggota Partai Demokrat menentang RUU tersebut, sementara 48 anggota Partai Demokrat dan 31 anggota Partai Republik menyetujui RUU tersebut.

Undang-undang tersebut sekarang akan dikirim untuk ditandatangani oleh Joe Biden, yang telah memuji pengesahan paket tersebut pada hari Selasa dan mengatakan bahwa dia akan menandatangani undang-undang tersebut pada Rabu, hari ini.

"Undang-undang penting ini akan membuat bangsa dan dunia kita lebih aman karena kita mendukung teman-teman kita yang membela diri melawan teroris seperti Hamas dan tiran seperti Putin," kata Joe Biden dalam keterangan tertulisnya.

Sementara itu jumlah korban meninggal dunia akibat serangan Israel, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, terus meningkat sejak peristiwa 7 Oktober 2023 di Gaza.

Kantor Media Pemerintah di Gaza mengatakan, bahwa selama 200 hari terakhir, Israel telah membunuh 14.778 anak-anak dan 9.752 perempuan. Kantor Media ini juga mengatakan bahwa 17.000 anak di Gaza telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.

Iran Ancam Habisi Israel

Dalam kesempatan terpisah,  Presiden Iran, Ebrahim Raeisi, Selasa juga mengatakan, bahwa tidak ada yang akan tersisa dari rezim Israel jika mereka nekad melakukan tindakan agresi terhadap wilayah Iran.

Berbicara pada sebuah upacara di Universitas Lahore, Pakistan, sebagai kelanjutan dari kunjungannya ke Pakistan pada hari Selasa, Ebrahim Raeisi menegaskan bahwa, rakyat Iran dan Pakistan sama-sama membela bangsa Palestina yang tertindas. "Iran Islam akan terus membela perlawanan dan kaum tertindas, bangsa Palestina dengan bangga," katanya.

Dia menunjuk pada serangan balasan militer Iran terhadap rezim Zionis pada tanggal 13 April atas serangan sebelumnya pada tanggal 1 April terhadap konsulat Iran.

Ebrahim Raeisi mengatakan, bahwa, bangsa besar Iran menghukum rezim Zionis atas serangan terhadap konsulat Iran di Damaskus, yang merupakan serangan balasan terhadap konsulat Iran dimana hal itu bertentangan dengan semua hukum internasional.

"Maka jika Zionis melakukan kesalahan dan menyerang wilayah Islam Iran, kondisi mereka akan sangat berbeda. Tidak jelas apakah akan ada yang tersisa dari rezim Zionis, setelah agresi baru mereka," tambahnya.

Presiden melanjutkan dengan mencatat bahwa pihak berwenang AS telah menangkap puluhan mahasiswa karena menghadiri protes pro-Palestina dan bahkan mengeluarkan mereka dari universitas mereka baru-baru ini.

"Saat ini, pelanggar hak asasi manusia terbesar adalah orang Amerika dan Barat sebagai pendukung rezim Zionis dalam pembunuhan anak-anak dan genosida. Pembebasan Quds adalah pertanyaan nomor satu umat manusia. Perlawanan rakyat Gaza akan mengarah pada kehancuran, pembebasan Quds Suci dan Palestina," lanjut Raieis.

Saat ini Israel mulai menggempur secara intensif di wilayah Rafah, Selasa malam yang menyebabkan  tiga anggota keluarga meninggal dunia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES