Peristiwa Internasional

Hamas Tuduh PM Israel Berusaha Gagalkan Gencatan Senjata

Sabtu, 04 Mei 2024 - 12:12 | 13.98k
Seorang pria dan anak-anak Palestina melewati puing-puing bangunan yang hancur di Gaza. (FOTO: Al Jazeera/AFP).
Seorang pria dan anak-anak Palestina melewati puing-puing bangunan yang hancur di Gaza. (FOTO: Al Jazeera/AFP).

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Pejabat tinggi Hamas, Hossam Badran, Jumat (3/5/2024) menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berusaha menggagalkan usulan gencatan senjata di Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera dengan mengancam terus akan memerangi kelompok militan Palestina.

"Netanyahu adalah orang yang menghalangi semua putaran dialog sebelumnya. Dan jelas bahwa dia masih melakukan hal yang sama," kata Hossam Badran kepada AFP melalui telepon seperti dilansir Japan Today.

Sementara mediator asing masih menunggu tanggapan Hamas terhadap proposal untuk menghentikan pertempuran selama 40 hari dan menukar sandera dengan tahanan Palestina, yang menurut ketua Hamas Ismail Haniyeh sedang dipertimbangkan oleh kelompok tersebut dengan "semangat positif".

Badran menuduh bahwa desakan Netanyahu untuk menyerang Rafah diperhitungkan untuk “menggagalkan segala kemungkinan mencapai kesepakatan” dalam negosiasi yang ditengahi oleh mediator Mesir, Qatar dan AS.

Kendala utama yang dihadapi saat ini adalah, meski Hamas menuntut gencatan senjata yang langgeng, namun Benjamin Netanyahu tetap mengumandangkan akan untuk menghancurkan sisa pejuang Hamas di kota Rafah di bagian selatan, yang dipenuhi dengan jutaan warga sipil yang mengungsi.

Perdana menteri yang berhaluan keras ini ngotot akan mengirim pasukan daratnya ke Rafah, meskipun terdapat kekhawatiran kuat yang disuarakan oleh badan-badan PBB dan sekutunya Washington atas keselamatan 1,2 juta warga sipil di dalam kota tersebut.

Membunuh 54 Orang

Semalam, Israel juga terus melakukan serangan udara dan menyebabkan setidaknya 26 orang meninggal dunia dan 51 lainnya luka-luka kata kementerian kesehatan Gaza.

Menurut penilaian singkat PBB terbaru, sejak Rabu hingga Jumat, total warga Palestina yang dibunuh tentara Israel lewat serangan udara itu mencapai 54 orang dan lebih dari 100 orang lainnya terluka.

Sementara itu Al Jazeera melansir delegasi Hamas telah  tiba di Mesir untuk melakukan perundingan gencatan senjata, dan gerakan tersebut mengatakan pihaknya bertekad untuk mencapai kesepakatan.

Israel dilaporkan memberi waktu satu minggu pada Hamas untuk menyetujui gencatan senjata dan kesepakatan pertukaran tawanan, serta mengancam akan akan melancarkan invasi darat ke Rafah jika tidak.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres menekan Israel dan Hamas untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata itu demi rakyat Gaza, para sandera dan keluarga mereka , serta kawasan dan dunia yang lebih luas.

"Ratusan ribu orang berisiko mati jika Israel melakukan invasi darat ke Rafah," kata Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB.

Setidaknya 34.622 warga Palestina telah meninggal dunia akibat serangan pembalasan Israel  dan 77.867 luka-luka dalam serangan Israel di Gaza sejak 7 Oktober. 

Sementara Jumlah korban yang mati di pihak Israel akibat serangan Hamas pada 7 Oktober mencapai 1.139 orang dengan puluhan orang masih disandera.

Pejabat tinggi Hamas, Hossam Badran, Jumat menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu berusaha menggagalkan usulan gencatan senjata di Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera dengan mengancam terus akan memerangi kelompok militan Palestina. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES