Peristiwa Internasional

Perundingan Gencatan Senjata Israel-Hamas Hari Sabtu Gagal Lagi

Minggu, 05 Mei 2024 - 14:39 | 15.52k
Ribuan warga Israel berunjukrasa di kota Tel Aviv, Sabtu hingga larut malam. Mereka menuntut segera dibebaskannya para sandera dan ada yang menuduh Perdana Menteri Israel sengaja memperpanjang konflik. (FOTO: BBC)
Ribuan warga Israel berunjukrasa di kota Tel Aviv, Sabtu hingga larut malam. Mereka menuntut segera dibebaskannya para sandera dan ada yang menuduh Perdana Menteri Israel sengaja memperpanjang konflik. (FOTO: BBC)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Perundingan antara delegasi Hamas dan mediator Mesir, Qatar, dan AS di Kairo, Mesir berakhir Sabtu (4/5/2024) tanpa mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Gaza.

Para mediator mengusulkan gencatan senjata selama 40 hari dimana Hamas akan mulai melepaskan sandera perempuan sipil sebagai imbalan atas tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.

Hamas telah meminta diakhirinya perang dan penarikan seluruh pasukan Israel dari Gaza. Namun Israel tetap bersumpah akan menghancurkan Hamas dengan mengatakan, pihaknya tidak akan setuju untuk mengakhiri perang sebagai bagian dari kesepakatan pembebasan sandera itu.

Sementara itu puluhan ribu warga Israel berunjuk rasa, Sabtu hingga larut malam, dan mereka menyerukan kesepakatan untuk memulangkan sandera, menjelang perundingan gencatan senjata lebih lanjut.

Para pengunjuk rasa di Tel Aviv itu meneriakkan perang bukanlah hal yang suci, kehidupan adalah hal yang suci, dan beberapa orang diantaranya menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sengaja memperpanjang konflik.

Hal ini terjadi ketika delegasi Hamas bertemu dengan mediator di Kairo, Mesir, Sabtu kemarin. Kelompok tersebut mengatakan tidak ada perkembangan baru, namun menambahkan “babak baru akan dimulai” pada hari Minggu.

Dari meja perundingan, Israel bersikukuh tetap akan melakukan invasi daratnya ke Rafah. Sebelumnya, seorang pejabat tinggi Israel sudah berkoar,  menuduh Hamas menggagalkan kemungkinan mencapai kesepakatan, dan Israel menolak memenuhi tuntutan Hamas untuk mengakhiri perang. 

Israel sendiri tidak mengirimkan delegasinya ke Kairo. Sesaat sebelum jam 9 malam waktu setempat (1800 GMT), sumber senior Hamas yang dekat dengan perundingan mengatakan kepada Agence France-Presse, bahwa perundingan akan dilanjutkan pada hari Minggu (5/5/2024).

Hari Sabtu, media pemerintah Mesir melaporkan, bahwa "kemajuan nyata" telah dicapai selama negosiasi itu.

Direktur CIA William Burns tiba di Kairo sejak hari Jumat sebagai bagian dari upaya diplomatik Washington.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken sebelumnya menggambarkan, tawaran gencatan senjata Israel sebagai "sangat murah hati", dan dia mendesak Hamas untuk menerimanya.

Masih belum jelas apakah Hamas akan menerima persyaratan para perunding dan apakah Israel akan membatalkan rencananya untuk mengakhiri perang habis-habisan yang bertujuan menghancurkan Hamas, yang telah ditetapkan sebagai kelompok teror oleh AS, Inggris, dan negara-negara Barat lainnya itu.

Namun yang jelas, Israel telah berkali-kali memperingatkan, bahwa mereka berencana melancarkan serangan terhadap sel-sel Hamas di kota Rafah, Gaza selatan, tempat sekitar 1,4 juta pengungsi berkumpul, setelah melarikan diri dari serangan Israel selama berbulan-bulan di daerah kantong tersebut.

"Ini akan bisa menjadi pembantaian warga sipil dan pukulan luar biasa terhadap operasi kemanusiaan di seluruh wilayah tersebut karena sebagian besar operasi tersebut dilakukan di Rafah," kata juru bicara kantor kemanusiaan PBB, atau OCHA, Jens Laerke,  pada konferensi pers di Jenewa.

Perundingan gencatan senjata antara Hamas dan Israel yang dilaksanakan di Kairo, Mesir pada hari Sabtu juga tidak ada kemajuan.

Israel dan Hamas masih bertahan di tuntutan mereka masing-masing dan tidak akan mundur dari tuntutan utama mereka. 

Hamas kemudian minta jaminan pada Amerika Serikat, bahwa Israel tidak akan melakukan invasi daratnya ke Rafah selatan.

Dalam perundingan terakhir itu, Hamas mengindikasikan mereka menyetujui melakukan kesepakatan gencatan senjata dengan Israel 

Tetapi Israel menyatakan gencatan senjata itu tidak akan mengakhiri perangnya dalam upaya menghancurkan Hamas termasuk upaya mereka melakukan invasi ke Rafah 

Perundingan tahap tiga mengenai kemungkinan kesepakatan penyanderaan dan gencatan senjata di Gaza, Sabtu itu tampaknya mencapai momen kritis.

Hamas kemarin sudah bersiap untuk memberikan tanggapannya terhadap proposal terbaru, tetapi Israel mengindikasikan serangan di kota Rafah akan segera dilakukan jika tidak ada kesepakatan yang tercapai.

Mediator Arab dan Amerika Serikat tetap mendesak dilakukannya gencatan senjata sementara.

Hamas semula telah siap menerima proposal terbaru tersebut, mengingat ada jaminan dari Amerika bahwa akan ada penghentian perang yang berkelanjutan.

Pengaruh Total Biden

Peneliti terkemuka di American University of Beirut, Rami Khouri mengatakan, meskipun Hamas dan Israel terus berjauhan dalam perundingan gencatan senjata, namun kesenjangan tersebut tampaknya semakin menyempit.

" Apalagi ketika Direktur CIA, Will Burns, ikut serta dalam perundingan itu. Itu berarti sesuatu yang serius sedang terjadi," katanya, seperti yang ia disampaikan kepada Al Jazeera dari Boston.

"Salah satu permasalahan dalam situasi seperti ini adalah apa pun yang dikatakan orang, bisa jadi itu adalah fakta, bisa jadi hanya angan-angan, bisa juga untuk keuntungan politik dalam negeri, dan bisa juga untuk menahan tekanan asing. Jadi mungkin hanya sekitar 30 hingga 40 persen dari apa yang dikatakan orang Israel, Amerika Serikat, atau Hamas, yang akurat," ujarnya.

Khouri menambahkan, bahwa Joe Biden memiliki "pengaruh total" atas Israel jika dia mau menerapkannya.

"Karena Israel tidak bisa berbuat apa pun secara militer tanpa Amerika Serikat. Namun presiden AS ragu untuk menggunakan kekuasaan itu. Apa yang kita lihat dari AS adalah banyaknya tekanan verbal, ancaman, dan bujukan, namun tidak ada kelanjutannya. Misalnya, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken sampai melakukan tujuh kali perjalanan ke Israel untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, dan jumlahnya meningkat sebesar 10 persen atau 15 persen. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES